Apa kabar hujan? Di mana aku selalu terbiasa dengan hadirmu. Kujalani hari-hariku seperti engkau jatuhkan buih-buih dari langit. Tak beraturan, tak berirama –meskipun sebagian orang mengatakan irama hujan adalah romantis namun tetap saja bagiku tak berirama seperti jatuhnya yang tak beraturan.

Apakah mungkin ada hal yang tak beraturan disebut sebagai hal yang romantis? Lalu bagaimana dengan hidupku, yang kuibaratkan seperti jatuhnya air dari langit, lalu menapaki bumi dan diapun tak tahu di bagian bumi yang mana dia akan jatuh.

Ada kalanya dia jatuh di sungai yang mengalir kemudian lenyap di muara yang hilang. Ada juga yang langsung jatuh ke laut, bertemu dengan habitatnya karena dia tak perlu jauh-jauh mengembara untuk sampai ke muara. Namun ada juga yang hanya jatuh di emperan lalu berakhir di saluran pembuangan, bercampur dengan sampah dan kotoran.

Di mana keadaan hidupku? Apakah aku adalah air yang jatuh di sungai? Yang harus melakukan perjalanan hidup yang panjang. Penuh lika liku, menuruni bukit, menyusuri lembah dan harus melewati celah bebatuan yang sempit dan masih banyak lagi rintangan sebelum sampai ke muara. Atau…aku adalah air yang jatuh di laut, yang tak perlu harus melalui berbagai ujian panjang yang menyengsarakan untuk sampai ke muara.

Karena aku langsung berada di habitatku, segalanya ada di sini, semua berkecukupan di sini. Karena di sini adalah tempatnya air, segala macam air akan bermuara di sini.

Advertisement

Alangkah bahagianya diriku jika aku seperti air yang jatuh di laut.

Tapi, ternyata diriku seperti air yang hanya jatuh di emperan rumah. Jatuhnya saja sudah teramat sakit, karena harus membentur genteng terlebih dahulu sebelum aku benar-benar berada di tanah. Apakah cukup sampai di tanah? Ah, ternyata tidak… Perjalananku masih teramat jauh. Setelah benturan-benturan keras dengan genteng dan tanah, aku masih diseret-seret melewati celah aliran tanah yang lain, yang sempit dan berkerikil. Terkadang aku bertemu dengan tumpukan sampah yang kotor dan bau. Terkadang juga aku bertemu dengan batuan besar yang menghalangi jalanku. Terkadang aku juga bertemu dengan jalan air yang memang dikhususkan untuk air – selokan.red.

Tapi kenyataannya meskipun ini adalah jalan khusus untuk air namun tak seindah peruntukannya. Ternyata di sini pun masih banyak sampah dan kotoran yang aku temui. Begitu terus sampai aku merasa lelah dengan sendirinya. Kadang aliranku berhenti, dan aku mengira aku telah sampai di tujuanku.

Tapi ternyata tidak, aku hanya berhenti untuk memilih aliran mana yang akan terus menjadi jalanku. Di persimpangan ini aku berhenti sejenak. Tak ada yang tahu akan kemanakah aliranku selanjutnya. Apakah akan menuju parit-parit untuk bertemu dengan habitatku yang lain? Ataukah aku akan terus mengalir lagi tanpa arah dan tujuan.

Ah… sebenarnya mau dikemanakan aku ini? Aku sudah lelah, aku sudah kenyang dengan perjalanan ini. Tak bisakah aku keluar dari jalan ini dan biar kucari sendiri jalanku. Jalan yang menurut kemauanku. Tak bisakah aku dibiarkan menentukan jalanku sendiri?

Sudah cukup jauh aku mengalir. Aku sudah banyak bertemu dengan macam-macam benda yang menghalangiku. Aku sudah banyak belajar untuk melewati mereka semua. Namun mengapa aku masih tetap saja disuruh mengalir? Apa karena tak ada bekas luka pada diriku sehingga dikira aku baik-baik saja.

Apa kau tak tahu, air itu mudah dibentuk tapi juga mudah untuk kembali seperti semula. Makanya tak ada luka ataupun bekas luka pada diriku. Apakah karena itu sehingga kau tak pernah puas untuk menyuruhku terus mengalir? Karena kau tak melihat bekas luka di diriku.

Ya, aku memang baik-baik saja. Aku tak terluka sedikitpun. Karena aku sudah cukup kuat, sudah cukup tangguh menghadapi benda-benda yang berusaha menghalangi jalanku. Pernahkah kau bayangkan, bagaimana wujud sampah yang paling banyak menghalangiku?

Kalau hanya sampah kertas, plastik atau makanan sisa itu saja tak seberapa bagiku. Tapi ketika aku bertemu dengan duri, pecahan kaca, besi-besi bekas dan lainya itu akan sangat menyakitkanku. Bisa kau bayangkan bagaimana luka yang dibuatnya, seberapa remuk tubuhku menahan benturan-benturan dari benda-benda itu.

Dan aku menjadi kuat karenanya.

Tak ada alasan lagi untuk mengeluh tentang perjalananku. Entah akan berakhir di laut, di sungai atau malah hanya terseret di selokan mengalir kesana kemari tak tentu arah. Aku akan menjalaninya. Karena aku tak bisa kembali ke langit tempat di mana aku berasal. Aku juga tak bisa memilih di belahan bumi yang mana aku ingin di jatuhkan.

Dan aku juga tak bisa memilih dengan cara seperti apa aku ingin dijatuhkan.

Selalu ada alasan mengapa aku harus mengalir seperti ini.

Meskipun aku tak tahu apa itu, namun tak ada sesuatu yang terjadi yang tanpa sebab. Terkadang aku ingin menjadi arus yang kuat yang bisa menghalau benda apapun yang menghalangi jalanku. Menghempaskannya agar aku bisa mengalir dengan nyaman. Seberapa besar batu yang menghadangku, seberapa banyak tumpukan sampah yang menghalangiku aku ingin melewatinya atau bahkan menghempaskanya.

Tapi kadang aku juga hanyut bersamanya, berbagi tempat dengannya. Meskipun aku tak menginginkannya. Siapa juga yang ingin berjalan beriringan dengan tumpukan sampah yang kotor dan bau? Yang ada malah aku juga akan dianggap sama.

Namun… seberapa kuat tekadku, apapun keinginanku, pada kenyataannya aku tetaplah hanya buih, dan sampai kapanpun aku akan tetap menjadi buih air hujan yang turun dan mengalir tak beraturan. Walaupun tak sampai ke laut, namun akan kuciptakan muaraku sendiri. Akan kuciptakan sungaiku sendiri, selokanku sendiri dan persimpanganku sendiri. Di mana aku bisa memilih aliran mana yang akan ku tuju.

Dan sampai di mana waktu itu tiba aku akan mengalir mengikuti tempat yang lebih rendah yang ada di depanku. Karena aku tak bisa menanjak ataupun kembali lagi. Sembari berdoa semoga di depan tak ada tumpukan sampah lagi, tak ada batuan besar lagi dan tak ada persimpangan lagi yang membuatku terseret tak tentu arah.