"Akh pedas" gumamku. Kamu hanya tersenyum sambil menggigit sedotan es jeruk kesukaanmu.  "Mau?" godaku.  "Nggaklah, cepat habiskan, keburu malam" katamu sambil memberikanku tissue. Malam ini mungkin mangkok bakso ke tiga puluhku yang kumakan bersamamu dan tak pernah sekalipun kamu ikut memesan.  Diet?

Apa mungkin ketika kamu sering mengeluh betapa kurusnya dirimu.  Kenyang? Apa mungkin ketika kamu sering memesan 2 porsi nasi goreng depan sekolah setiap kita makan disana, perut karet katamu.  "Aku masih blm bisa makan makanan kesukaanmu, begitupun kamu blm bisa makan makanan kesukaanku" ucapmu.  "Lalu kapan?" tanyaku sambil memasang helm. 

Kemudian kita hanya terdiam sepanjang jalan menuju rumahku. Kita berbeda rumah ibadah, namun kita bertoleransi. Toleransi yang entah sampai kapan berakhir. Kamu yang disibukkan dengan upacara adat, sedangkan aku harus bertemu Tuhan lima kali sehari. Kita sempurna katanya, sempurna sebagai sepasang pasangan.

Padahal sempurna itu ketika kita berada dalam satu rumah ibadah yang sama. Tuhan yang sempurna, bukan makhluknya. Tuhan menciptakan kita bukan untuk seperti ini, yakni saling menyalahkan keadaan. -altn