Dear Kamu,

Bagaimana kabarmu? Maaf mengganggumu lewat dering alarm ponsel. Aku tahu kau lelah. Tapi bolehkan, aku meminta waktumu sedikit saja untuk ngobrol berdua ? Tak perlu khawatir, aku tak akan membangunkan belahan jiwamu yang sedang tertidur pulas. Apalagi membangunkan malaikat kecilmu. Cukup kau dan aku. Oke?

Hai kamu

Kini aku akan mengajakmu berwisata ke tempo dulu, tepatnya ke lima tahun yang lalu. Jika kau melihat dirimu tersedu dalam tangis dengan kepala menyandar pada meja tulismu, kau merasa lemah dan rapuh, berarti kau telah tiba disana. Kau jangan tergesa untuk bersedih. Kau ingat kan, itu adalah ratapan terakhirmu ? Ya,, aku terlahir kala itu. Kala mulutmu tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Kau hanya bisa meratap dalam hati, ” Tuhan, maafkan aku, Tuhan, tolonglah aku, Tuhan, aku kacau”

Memang tidak mudah bagi wanita manapun untuk bersikap tegar ketika di hadapkan dengan masalah seperti yang kau alami waktu itu. Kau harus menanggung sakit yang luar biasa. Bagaimana tidak? Setelah hampir setengah tahun kau membersamainya dengan penuh cinta, hingga kau yakin untuk membawa ia ke orang tuamu, memaparkan visi dan misi kalian membangun rumah tangga, lalu merencanakan dengan detail soal prosesi yang manis itu. Setelah Orang tuamu menyetujui, dan semua rencana kalian tersusun rapi, mendadak ia pamit berbekal alasan yang sangat tidak rasional. Hanya butuh belasan hari akhirnya kau tahu bahwa ia terpikat oleh hati yang lain dan menjalin cinta.

Advertisement

Tapi aku senang, kau tetap tegar meskipun badai itu demikian kuat menghantam. Kau terlihat istimewa setiap kau mengatakan kepada kedua orang tuamu bahwa kau baik-baik saja. Kau bahkan memberi pengertian kepada mereka bahwa memaafkannya adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Kau juga mengatakan kepada sahabat-sahabatmu untuk tidak membahas soal pembuat luka itu lagi. Meskipun aku tahu, kau tetap rapuh. Hatimu tetap saja remuk. Namun kau hanya menunjukkan apa yang sebenarnya kau rasakan pada satu waktu, yaitu saat kau berdialog dengan Tuhan. Hebat,,

Wahai kamu,, seorang bijak mengatakan, bahwa tanda yang meninggalkanmu adalah orang yang tidak baik, maka hal-hal baru yang lebih baik mulai terjadi. Tentu kau masih ingat ekspresi bahagiamu ketika mendapat kenaikan gaji. Lalu karir menulismu semakin cemerlang, bisnis sampinganmu semakin eksis, dan kau semakin dekat dengan Dia, Sang Maha pemberi nikmat. Cukup jelas, dia bukan orang baik.

Dan waktupun berjalan. Di seperempat abad usiamu, dikala dirimu tidak sempat berfikir soal cinta dan pernikahan, kejutan manis itu datang. Kalian tak perlu waktu lama untuk saling yakin, dan jadilah.

Bukankah Tuhan tak pernah ingkar janji? Ia akan selalu memberikan kejutan-kejutan manis bagi hamba-Nya yang selalu sabar dan berdo’a kepada-Nya. Kau semakin percaya, bahwa sekuat apapun badai, ia pasti akan tetap berlalu. Pandanglah dia, sandaran hatimu, penuntun jalanmu, orang biasa yang selalu berusaha menjadi sempurna untukmu. Tengoklah malaikat kecilmu yang sedang terlelap di kamar sebelah. Kau pasti menangis terharu menyadari betapa indahnya skenario yang telah Tuhan tuliskan untukmu.

Tentang si pembuat luka, aku sependapat denganmu, bahwa dengan memaafkan akan lebih mempercepat ia pergi dari ingatanmu, dan mempermudah jalanmu untuk melanjutkan hidup. Tuhan maha adil. Sekecil apapun kebaikan ataupun keburukan yang kita lakukan, pasti ada balasannya. Entah di dunia, entah di akhirat. Entah terlihat, entah tersembunyi. Lagipula, kau sudah tak mau tahu lagi tentangnya kan? Keputusan Bagus!

Nampaknya cukup sampai disini saja aku mengaduk-aduk emosimu. Aku tak mau kau sampai kelelahan menangis tanpa suara. Aku juga tak mau, kesayanganmu sampai terbangun dan mendapatimu menangis. Dia pasti tak bisa tidur semalaman memikirkan cara untuk membuatmu bahagia esok hari. Lekaslah tidur, tidurlah yang nyenyak. Dan bangunlah esok hari dengan penuh syukur.

Tertanda

Masa Lalumu.