Kebahagiaan bersifat mutlak. Entah itu berasal dari dalam diri sendiri, maupun dari orang lain. Bahagia adalah sebuah hak dan kewajiban sekaligus. Bagi saya, salah satu yang paling membahagiakan adalah saat kembali bisa membuka hati. Membiarkan rasa bahagia yang nyaris terlupa sensasinya menelisik urai demi urai aliran nadi.

Kemudian, saat perasaan bahagia ini enggan beranjak. Saya ingin menasbihkannya dengan cara saya sendiri. Dengan memberikan kamu sepucuk surat atas nama saya-yang-tengah-bahagia. Yaitu menulis.

Teruntuk kamu, Bahagiaku.

Saya merasa bodoh sekali. Saya gagal menemukan kalimat pembuka yang pantas untuk kamu. Berkali-kali saya menghapus kalimat demi kalimat. Merasa tidak ada yang layak menjadi prolog surat untuk kamu.

Tidak ada yang lebih manis dari prolog bagaimana kita akhirnya saling mengenal, kan? Saya harap, prolog itu akan menjadi memori paling baik di hidup kita berdua. Memori yang akan menjadi cerita paling membosankan yang akan didengar oleh anak-anak kita, oleh teman-teman dekat kita.

Tapi tetap saja akan selalu kita berdua ceritakan lagi dan lagi.

Kamu tahu tidak, kalau aku seringkali tersenyum dalam diam. Bahkan sesekali tertawa betapa Allah tanpa tedeng aling-aling mempertemukan kita? Ah, pasti kamu tidak tahu.

Kamu juga tentunya tidak tahu betapa semangatnya saya saat menceritakan cerita kita kepada keluarga dan teman-teman saya.

Untuk kamu yang belakangan ini masuk ke dalam daftar nama doa sehari-hari.

Ada keyakinan yang menyenangkan saat saya berangan-angan memiliki hidup yang baru denganmu. Berbagi apa yang saya bisa curahkan untukmu, memikirkan bagaimana segala permasalahan hidup yang bisa kita berdua kompromikan.

Kemudian menjadi bagian yang paling menyenangkan dan menyebalkan dalam hidupmu.

Perasaan ini juga selalu merekah saat malam menjelang. Saat berpesan-singkat denganmu setiap hari. Harapan yang menyenangkan. Yang bisa membuat bisa melihat warna lebih cerah. Dan udara terasa lebih menyegarkan.

Ohya, satu hal lagi sebelum saya menutup surat ini. (surat yang saya yakin beberapa tahun lagi akan membuat saya geli membacanya karena malu telah menulis kalimat yang begitu roman picisan).

Karena saya telah membuka tulisan ini dengan opini tentang makna kebahagiaan, saya ingin berbagi kebahagiaan yang kemarin kamu berikan.

Saat makan bersama kedua orangtuamu. Saat kita berbagi cerita dengan lepas. Dan tentu saja saat kamu merapihkan piringku setelah makan. Dan tentu saja juga saat kamu kembali mengisi air untukku. Saya rela mengulangi adegan itu setiap hari sepanjang hidup saya kelak.

Salam,

Aku.