Ingar bingar Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI kali ini dirasakan hampir seluruh masyarakat Indonesia. Faktornya tak lepas dari nama besar para kandidat, track record mereka, serta tentu saja tindakan kontroversi dari salah satu kandidat. Ialah sang petahana.

Akhir-akhir ini wall kamu, baik di facebook, instagram, twitter, atau di medsos yang lain, pasti penuh dengan hal-hal seputar fenomena ini. Bahkan yang bukan warga DKI, ikut menyemarakkan dengan memberikan opini, ulasan, dan keterpihakan mereka. Bagi sebagian masyarakat kita hal ini tidak lagi merupakan masalah Pilkada melainkan telah ‘menyentil’ isu yang sangat sensitif yaitu masalah keagamaan.

Masyarakat memang sangat massive dan terang-terangan menunjukkan sikap mereka utamanya di media sosial. Tak jarang, pemikiran kamu pun ikut terombang-ambing akibat banyaknya masukan-masukan sehingga tidak bisa dihindari pada akhirnya sebagian kamu akan bersikap heran, capek bahkan apatis dengan hal ini. Namun cobalah kamu pikirkan kembali, semua ini sangat menarik. Banyak sekali hal dan pembelajaran yang dapat kamu ambil.

Menjadi persoalan adalah bagaimana kamu mensikapinya. Karena bagaimanapun kelak kamu lah yang akan berada di garda depan republik ini. Salah satu diantara kamu akan menjadi Presiden, Kapolri, Panglima TNI, bahkan Gubernur DKI Jakarta. Dan ini saatnya kamu belajar mengambil sikap, menjadikan peristiwa bersejarah kali ini sebagai pendidikan politik kamu. Sebagai langkah awal menuju gerbang kedewasaan yaitu melatih pemikiran kamu untuk mengambil sikap.

Pluralisme

Advertisement

Pembelajaran sangat penting yang didapat kali ini adalah tentang mensikapi pluralisme. Kondisi masyarakat Indonesia yang sangat majemuk, dengan berbagai ragam ras, suku, budaya, agama yang mengharuskan kita untuk belajar beradaptasi dan menghargai. Termasuk mengenai perbedaan pendapat. Ini penting, bagaimana kita melihat sebuah permasalahan serta cara pandang kita terkait hal ini. Bersikap skeptis atau kamu dapat memanfaatkan situasi sebagai upaya untuk memperoleh banyak pembelajaran untuk bersikap.

Cobalah untuk melihat permasalahan dari banyak sisi dan cara pandang. Hindari melibatkan emosi didalamnya. Meski tidak bisa sepenuhnya terlepas dari keterlibatan emosi apalagi terkait prinsip. Namun cobalah untuk mempelajarinya secara utuh. Apakah permasalahan sebenarnya, bagaimana bisa terjadi, faktor-faktor apa yang mempengaruhi, dampak dari permasalahan dan hal-hal lainnya.

Dengan melihatnya secara detail, kamu akan lebih dewasa dalam berpikir. Memiliki prinsip dan keyakinan yang tidak mudah digoyahkan. Serta yang paling penting adalah dapat lebih menghargai orang-orang yang mungkin tidak sependapat dengan kamu. Sehingga bukan arogansi yang muncul namun sebuah sikap yang penuh kesantunan yang merupakan buah dari pemikiran yang matang.

Kesantunan

Ini tak kalah penting. Pernahkah kamu dengar pendapat, apa yang kamu sampaikan mencerminkan diri kamu yang sebenarnya. Jika kamu sependapat dengan hal ini, coba kamu cek kembali wall kamu, apa saja yang kamu sampaikan? Berita apa yang kamu share? Termasuk pemilihan kata kamu dalam mengutarakan pendapat. Sudahkah terdapat kesantunan disana? Ataukah kebanyakan hanya berisikan hal-hal yang bersifat emosi sesaat?

Tenang saja, kata pepatah anak muda berhak salah. Jika kemarin kebanyakan masih emosi sesaat, yang tersulut akibat adanya berita-berita yang disangsikan kebenarannya sangatlah wajar. Karena memang banyak sekali pihak-pihak yang memanfaatkan medsos untuk mencapai kesuksesan, memuluskan kepentingan, bahkan menjegal lawan. Menabur kebencian terhadap lawan politik, mengarahkan opini masyarakat, medsos menjadi media yang sangat efektif untuk hal-hal semacam ini.

Meski masih muda, kamu bisa kok memberikan pendidikan dan inspirasi pada ‘warga’ medsos. Dengan apa? Kesantunan kamu dalam menyampaikan sesuatu, sharing berita-berita yang telah kamu pilah, tidak menebar kebencian disana. Meski mungkin kamu memihak pada salah satu pendapat. Serta satu hal yang bisa kamu lakukan, batasi informasi yang kamu baca. Dengan cara ini, informasi yang masuk dalam otak kamu tidak akan overload dan memudahkanmu dalam memilah dan mengambil sikap.

Bagaimanapun kita adalah bagian dari bangsa ini. Kita pasti turut andil dalam menciptakan sejarah. Anak cucu kita akan menilai seperti apa kualitas kita kelak. Apakah kita membawa bangsa ini pada “era kebencian” atau dapat melewatinya dengan penuh kebanggaan?

Dimana persatuan tetap kita jaga, kesatuan dapat dipelihara secara utuh, dan menciptakan sebuah era masyarakat madani yang dapat mereka contoh kelak saat mereka menggantikan kita di masa depan. Satu lagi yang perlu kita ingat benar-benar, bahwa apapun cara pandang dan pendapat kita nantinya kita pertanggungjawabkan di hadapan Sang Pemberi Kehidupan. Jadi, masihkah kita tidak akan berpikir terkait hal ini?