Pasca patah hati aku memutuskan untuk pergi jauh, pergi ke pulau yang berbeda sembari menyembuhan kesedihanku. Saat itulah aku bertemu denganmu. Kita ada di kota yang sama, sama-sama merantau di kota ini.

Aku bersumpah tidak pernah punya niat untuk mencintaimu, nyaliku tidak sebesar itu untuk mencintai lagi pasca patah hatiku yang kemarin.

Tapi kamu datang padaku, kamu memulai semuanya. Membuatku senang dengan canda tawamu, membuatku nyaman dengan perlakuanmu yang selalu berusaha menjagaku dan melindungiku, mengirimiku pesan singkat sejak dari aku membuka mata di pagi hari hingga aku kembali tertidur di malam hari, seakan tidak bisa kehabisan kata-kata, bahkan kamu berani memperlihatkan kedekatan kita didepan teman-teman kita.

Hanya dengan waktu yang singkat, kamu menyembuhkan luka hatiku sekaligus membuatku menyayangimu.

Kamu orang yang hatiku cari selama ini, untuk hatiku kamu sempurna

Advertisement

Tapi tentu hidup tidak semudah cerita dongeng yang ketika sang putri bertemu pangeran maka mereka akan hidup bahagia selamanya. Ini kehidupan nyata, hanya sekejap kebahagiaan menghujaniku habis habisan, lalu aku mengetahui kenyataan, ada orang lain yang menunggumu di seberang pulau sana, dia yang telah bersamamu sekian lama, kamu pun mengakuinya tanpa memikirkan hati yang di depanmu ini.

Seketika hatiku jatuh berserakan, seiring dengan cerita-ceritamu tentangnya yang kamu ceritakan padaku dengan senyum bangga

Aku hanya bisa mendengarkanmu dan tersenyum bahagia untukmu, mungkin selama ini aku hanya menjadi pelampiasan rindumu kepada kekasihmu yang jauh disana. Ketahuilah aku tidak akan marah sedikitpun kepadamu, hanya saja aku minta satu hal saja kepadamu.

Setialah padanya, kembalilah padanya, pulanglah padanya, aku bukan dia, bukan pula penghiburmu disaat kamu merindukan dia, aku wanita biasa, hatiku sedang rapuh-rapuhnya

Aku merelakanmu, sungguh. Aku mendoakan kebahagiaanmu bersamanya, hanya saja ijinkan aku untuk kali ini saja dan terakhir kalinya mengatakan ini, aku menyayangimu, mungkin sama seperti kekasihmu terhadapmu, bahagialah selalu bersamanya, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Maafkan aku tidak setangguh itu untuk merebutmu darinya, aku menyerah sampai di sini saja.

Terima kasih telah mengajarkan aku bahwa aku hanya boleh berharap pada Tuhan, bukan pada ciptaannya. Sekali lagi aku menyayangimu dan selamat tinggal.