Pernahkah terlintas dalam benak kita bertanya siapakah diri kita yang sebenarnya ? Bila pertanyaan ini kita tanyakan kepada teman, saudara atau keluarga kita, tentunya respon dan jawabannya beraneka ragam. Mungkin ada yang tertawa merasa lucu dengan pertanyaan itu. Ada juga yang menanggapi dengan serius.

Sangat tidak mudah untuk menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. Kita hanya bisa mengenal secara tertulis saja, tanpa tahu yang tersirat di dalamnya.

Sebagai salah satu contoh saya jabarkan, tentunya kita tahu siapa nama kita, artinya ketika orang memanggil kita, itulah diri kita. Seperti aku adalah Nissa, atau dia adalah Mawar. Jadi ketika orang yang memanggil kita dengan sebutan nama itulah dirinya. Mengenal dirinya hanya yang tertulis saja, tanpa mengenal yang tersirat di dalamnya.

Memang pertanyaannya sedikit menggelitik, tapi ini adalah hakekat yang harus kita cari untuk mengenal diri kita yang sebenarnya. Jika hanya sebatas mengenal yang tertulis saja tanpa mau tahu hakekat yang tersirat di dalamnya, inilah yang membuat kehidupan seseorang akan merasa gelisah hidupnya dan hidup penuh dengan kepura-puraan. Serta penyakit hati dan penyakit dunia akan menguasai dirinya. Hingga hidupnya selalu merasa kekurangan, tidak bisa menerima, bersyukur dan bersabar.

Saya pribadi mengaku bahwa saya belum sepenuhnya mengenali siapa diri saya, bagaimana type maupun karakter saya dan apa saja bakat yang terpendam dalam diri saya. Mulanya saya mencoba untuk memahami bagaimana diri saya, mungkin lebih singkatnya bertanya‘ Siapa Saya ?’

Advertisement

Berawal dari nama, orang tua saya memberi nama sebagai tanda pengenal agar orang lain lebih mudah mengenali saya. Khoirunnisa Awalliah seperti itu orang tua saya memberi nama, banyak teman memanggil nisa namun tak sedikit juga teman memanggil dengan bermacam nama panggilan yang lucu untuk lebih akrab mengenal saya.

Saya terlahir dari orang tua yang selalu memberi cintanya. Kasih sayang yang sedikit terbagi karna saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saya dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat luar biasa, di Jakarta tepatnya pada tanggal 9 September 1995. Tak lupa ada pula sang hero yang selalu menemani ibu yaitu ayah. Selama enam tahun saya menjadi anak tunggal, namun semua berubah saat ibu memberikan seorang adik perempuan pada tahun 2002. Perbedaan umur kami memang cukup jauh, tetapi karena sama – sama perempuan wajar jika kami selalu bertengkar atas apa yang membuat kami kurang nyaman dan saling menuntut kasih sayang dari kedua orang tua kami.

Saya dibesarkan di Kota Jakarta sampai saat ini. Mulai bersekolah sejak berumur 5 tahun dibangku taman kanak – kanak yang tak jauh dari rumah, kemudian lanjut ketinggkat sekolah dasar pada tahun 2001 di SDN 010 Pagi Kebon Jeruk hingga 2007. Setelah usai ditingkat dasar, saya melanjutkan sekolah menengah pertama disekolah islam yang masih disekitar Kebon Jeruk yaitu SMP islam Al – Huda selama 3 tahun. Berakhir 3 tahun di masa SMP, saya lanjut menjalani sekolah kejuruan di SMK SATRIA serengseng Jakarta Barat. Lulus ditahun 2013 membuat saya ingin lebih cepat masuk didunia bekerja. Namun setelah satu tahun berada didunia bekerja timbul keinginan untuk melanjutkan sekolah dijenjang perkuliahan, dan saya mencoba agar niat melanjutkan kuliah bisa tercapai. Pada September 2015, saya berhasil masuk UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA, Jakarta Selatan. Saya diharuskan untuk berusaha menyeimbangkan dimana saat berkuliah dan saat bekerja.

Dunia dewasa menuntut saya untuk lebih mengenal berbagai sifat dan karakteristik setiap orang, membaca situasi, dan menerima segala sesuatu yang tidak saya harapkan. Sebelum saya mengenal orang lain, saya harus bisa mengenal seperti apa diri saya!

Ada 2 aliran yang membedakan sifat dan karakter orang lain atau secara tipologi, yaitu aliran naturalisme dan nativisme. Tokoh Schoupenhour dari aliran Naturalisme mengatakan bahwa segala yang suci ada ditangan Tuhan, namun segala yang rusak ditangan manusia, sedangkan J.J.Rousseau dari aliran Nativisme berpedapat bahwa faktor bawaan lebih kuat daripada faktor luar.

Berdasarkan tipenya, karakter setiap orang berbeda – beda. Ada yang mempunyai tipe karakter sanguinis, melankolis, koleris, ataupun phlegmatic. Setiap tipe karakter mempunyai berbagai macam kelebihan maupun kekurangan yang berbeda dan berbeda pula cara menghadapi orang tipe tertentu untuk dapat memahami pribadi orang lain dan menimbulkan rasa nyaman dengan diri kita.

Jika kembali kepertanyaan awal tentang siapa diri saya, nama ataupun asal – usul pun kurang cukup untuk mengenal siapa diri saya. Tetapi mengenal tipe karakteristik seperti apa saya ini?

Menurut saya pribadi, tipe karakter saya lebih tergolong tipe sanguinis. Karena saya suka berbicara dan bersifat emosional. Pengertian sanguinis juga mempunyai pribadi yang menyenangkan dan ingin merasa dirinya dikenal banyak orang dengan ide – idenya. Saya menyadari bahwa berbicara dapat menyinggung perasaan orang lain dengan segala ucapan, maka saya membutuhkan orang lain untuk mengingatkan saya agar tidak menerima lebih dari yang saya bisa lakukan karna orang yang bertipe sanguinis lebih mudah terbawa arus disekelilingnya.

Tak banyak juga tipe phlegmatic yang ada pada diri saya, seperti suka dengan kedamaian. Saya lebih memilih sendiri untuk mendapatkan ketenangan agar mampu mengendalikan / menyembunyikan emosi. Menghindari konflik pun akan saya lakukan agar tak banyak sesuatu yang mengganggu fikiran saya. Akan menjadi kebiasaan buruk saat saya mendapat masalah, saya sering tidak mood, dan selalu ingin sendiri.

Sebenarnya masih banyak point – point kelebihan maupun kekurangan pada setiap tipe karakteristik orang lain. Namun untuk mengenal siapa diri saya, saya baru mengenal diri saya dari seperti apa sifat dalam diri saya.

Pada akhirnya, setiap orang ingin menjadi seperti — daun gugur yang diembus angin kesana kemari atau pohon yang tahan menghadapi badai yang dahsyat? Perkuat jati dirimu, dan kamu akan menjadi seperti pohon itu. Dan, kamu pun bisa menjawab pertanyaan, Siapa dirimu?