Chapters IJakarta Desember 2013 – Maret 2015 Tempat dan waktu di atas adalah penanda saat dimana aku mulai memahami setiap aspek kehidupan. Kerja keras mulai dari memupuk kepercayaan diri setelah kegagalan bertubi – tubi di masa lalu, menata masa depan dari nol, serta bersahabat dengan Nya dan menemukan hakikat jati diri meliputi iman, tekad dan mental bahwa aku harus bangkit. Hingga pada akhir nya aku mengenalnya.

Farah, sebuah nama yang membawaku terbang menuju langit harapan dan nama yang sama mengempaskan aku ke palung bumi terdalam. Aku masih ingat saat pertama kita bertemu.

Sebuah tempat makan di sekitar daerah Kebun Jeruk Jakarta Pusat. Rasanya tak perlu menjelaskan seperti apa perasaanku saat melihat mu, Namun jelas saat itu aku 'tersentak' dan dalam hati ku menyimpulkan 'kau orang nya'. Kau juga tidak bodoh kan, saat itu kau pun tahu pria kepala batu ini memperhatikan mu dengan mata penuh harap. Harapan bahwa kau adalah orang yang di cari nya selama ini.

Aku menunggu mu diluar rumah makan itu, dan saat kau keluar, aku mengejar mu hanya untuk mengatakan 2 kata paling tolol di dunia 'namaku Ilham'. Dan kau menjawab dengan 1 kata paling indah Ku dengar saat itu 'farah'. Lalu kau pergi, dan aku cengengesan seperti orang kerasukan jin yang punya penyakit ayan. Setelah hari itu aku intens makan di tempat itu, bahkan saat aku sudah makan di kantor, aku tetap datang ke sana. Tentu hanya untuk bertemu dengan mu.

Dan itu berhasil, kau mulai membuka diri. Well, setelah cukup lama berkutat dengan kesunyian, akhirnya aku menemukan mu. Dan disana terselip satu harapan bahwa ini pelabuhan ku yang terakhir. Akhirnya kita berjalan beriringan. Tak jarang tingkah konyol ku membuat mu tertawa, terutama saat aku ngupil. Bukan satu dua kali kau meneteskan air mata saat aku bercerita tentang masa kecil ku yang hitam. Bagaimana peluh keringat ku untuk mencoba bangkit dr kegagalan di masa lalu, memaafkan diriku di masa lalu dan menerima keberadaan nya yang selalu kau balas dengan tatapan mata yang penuh kepercayaan bahwa aku sudah berhasil melewati salah satu titik terendah kehidupan itu.

Advertisement

Hal yang sama kepalaku bila kau menceritakan semua masa lalu mu, tentang bagaimana harapan mu disia siakan, tentang keburukan mu di masa lalu, dan kita tetap saling menerima itu semua. Karena kita hanya tahu, "cinta itu bukan menghakimi, tp saling menerima dan melengkapi" Setelah kau pertemukan aku dengan orang tua mu, dan mereka menerima keberadaan ku dalam hidup mu, semua semakin baik. Apa lagi setelah kuberi kabar pada orang tuaku dan mereka pun memberi jalan bagi kita, bukan kah semesta seolah sudah mendukung kita.

Namun sebuah ujian, mungkin ujian berat yang pertama, datang menerpa. Kita tahu ini pasti terjadi. Sebuah masalah di internal management tempat aku bekerja berujung pada permintaan pimpinan perusahaan agar aku mengundurkan diri. Ya, pada akhirnya aku kehilangan pekerjaan ku. Pada saat itu kau membesarkan hatiku sambil berkata 'belum selesai, kita masih bisa melaju kedepan'. Kau tahu, itu menyejukkan. Akhirnya aku mengayuh kaki di ibu kota untuk mendapatkan pekerjaan baru. Dan itu tidak mudah. Kita tahu bahwa keadaan kita saat itu memakan banyak waktu yang biasa kita habis kan bersama.

Namun kita Telah berjanji saling menguatkan, karena itu kita harus kuat dan bertahan. Namun waktu memberikan jawaban yang berbeda. Sore itu aku datang ke tempat mu bekerja. Aku datang dengan kabar baik untuk mu, untuk kita. Aku menunggu mu di seberang kantor mu, sebuah halte tempat dimana dulu aku mengantarmu pulang untuk pertama kalinya. Tetap dengan motor yang sama dimana kita membuat sebuah kesepakatan untuk melaju ke depan bersama dengan cinta dan kejujuran sebagai modal awal nya. Dan saat kau keluar dari kantor mu, sebuah pemandangan yang luar biasa indah untuk mu, menyakitkan untuk ku terpampang.

Aku bergegas menghampiri kalian, dan aku Bertanya padamu 'apakah kau baik?' Dan kau menjawab dengan jawaban yang engga nyambung sedikit pun 'dia pacarku' sambil tangan mu terarah ke pria yang menurut ku tidak cukup baik untuk mu. Semula ku pikir aku akan marah, Tapi justru aku bisa tersenyum. Sebelum berlalu, aku mengatakan padamu 'aku sudah dapat pekerjaan baru', karena aku ingin kau tahu. Dan aku pergi, tidak menoleh, tanpa air mata, tanpa kemarahan, dan aku cukup terkejut soal itu. Aku tak bisa menyalahkanmu. Kau berhak mencari kebahagiaan mu juga.

Tapi kenapa, kenapa harus saat aku sedang berusaha bangkit kau lakukan hal itu. Hanya 4 bulan aku jatuh bangun mancari wadah tempat nanti aku mengais rezki Nya demi masa depan kita, kau memilih menyerah pada keadaan. Tak lama setelah kejadian itu, aku datang ke rumah mu. Dan itu untuk berpamitan, hanya itu saja. Disana kau Bertanya kau bertanya kenapa harus meninggalkan ibu kota, kembali ke kampung halaman ku. Jawaban ku saat itu, 'kota ini membuatku bosan. Tidak ada alasan apapun lagi yang mengharuskan aku bertahan disini. T

erima kasih, kau sudah mau singgah di hatiku, sekalipun hanya sejenak, itu banyak memberikan pelajaran padaku bahwa "ada saat dimana kita harus berhenti, Dan ada saat dimana kita harus berlari." Kau sudah mengambil pilihan berhenti dari ku, maka ini waktu nya aku berlari jauh dari kehidupan mu. Dan apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah membenci mu, atau siapapun. Aku hanya akan mengenangmu, dan lambat laun pasti melupakan mu, pasti. Disinilah aku sekarang dengan kisah yang baru saja ku mulai. Entah bagaimana dengan kisah mu disana, kuharap baik – baik saja. Dan sedikit info, aku sudah melupakan mu 100 persen. Kau hanya ada di chapter I, maaf.