Hal ini pernah saya rasakan ketika menduduki bangku perkuliahan. Yang paling saya rasakan ketika sedang menghadapi sidang skripsi. Disaat saya sudah membuat sebuah suatu penelitian berupa sistem informasi yang beda yang lain. Karena biasanya dosen pembimbing memberi tahu

“Ini kan sistem informasi ya mas, yang membedakan dari yang lain apa ?”

Dari situ saya berpikiran untuk membuat sebuah penelitian skripsi yang berbeda dari yang lain, yang menampilkan nilai unik tersendiri dan beda dari yang lainnya. Namun pikiran itu tidak dipedulikan ketika dosen penguji menguji saya ketika sidang pendadaran.

Mereka melihat rancangan sistem yang buat di naskah, tetapi saya melakukan kesalahan pada perancangan yang tidak sesuai dengan konsep beliau. Padahal sebelumnya saya buat itu berdasarkan dari acuan skripsi yang lain dari referensi teman saya yang dapat nilai perfect dari hasil skripsinya itu. Bagaimana bisa beberapa referensi skripsi itu mendapat nilai yang perfect dan rancangan mereka tidak mendapat kesalahan dari penguji. Karena ketika saya membuat rancangan, saya membuat nya berdasarkan referensi dari lainnya.

Hal yang aneh itu adalah mereka yang merancang sedemikian rupa tidak mendapat kesalahan yang sama seperti saya ketika diuji dihadapan dosen yang tentunya lebih ahli dari mereka. Namun kenyataannya mereka mendapat nilai maksimal dari hasil skripsi nya dan ketika saya menggunakannya untuk referensi saya disalahkan ketika sidang. Oke, kalo memang aku salah ya gak papa. Saya bisa perbaiki itu , tapi bagaimana dengan acuan skripsi yang lain yang tidak sesuai dengan kaidahnya tapi bisa mendapat nilai yang memuaskan.

Advertisement

Kadang saya ngerasa kok gak adil ya, apa dosennya khilaf buat ngecek, apa dosennya gak terlalu paham terus di skip ganti pembahasan lain, seharusnya mereka punya standar sendiri dalam penilaiannya dan pasti semuanya perlu disamakan supaya kedepannya hasil dari naskah yang diacu oleh adik-adik tingkat yang sedang mengerjakan skripsi dapat terbantu dengan adanya kebenaran dari rancangan yang telah dibuat . Apakah dalam penilaian skripsi tidak ada standarisasi yang membuat karya tersebut layak mendapat nilai maksimal atau mendapat nilai pas pasan. Terkadang teman teman saya bercerita setelah mendapat nilai dari hasil skripsi mereka.

“eh diuji sama dosen A enak ternyata gampang , pertanyaanya gak susah susah amat, sesuai sama skripsiku”

Dan akhirnya dia mendapat nilai perfect. Dan teman saya yang lain juga pernah bercerita

“dosennya pertanyaannya sulit sulit, kritis banget ngoreksi perancangannya, disalahin aku, padahal aku sesuain sama skripsi orang lain yang dapat nilai A”.

Dalam kenyataanya ada dosen yang dia benar benar paham dan kritis serta ada dosen yang biasa aja, gak terlalu memikirkan hal hal yang kadang itu adalah salah di mata dosen lain yang kritis. Dan ketika seseorang diuji oleh dosen yang gak kritis ini dan mereka dapat menjawabnya, mereka mendapat nilai maksimal, dan jika disalah satu naskahnya terdapat kesalahan yang tidak dicermati oleh dosen itu, yasudah, orang lain selanjutnya yang mereferensi penelitiannya itu akan disalahkan, jika dia bertemu dengan dosen yang kritis dan benar benar paham. Jadi ketika berada di medan pertempuran diruang sidang ada yang berharap

“semoga dapat dosen yang gampang, yang gak kritis biar bisa jawab.”

Dan ketika dia didatangi oleh dosen yang benar benar menguasai bidang itu. Mahasiswa itu seperti mendapat jackpot yang membuat mereka berkata dalam hatinya

“oh nooo, kenapa bapak itu yang datang”.

Hal ini semacam untung untungan ketika berada dalam ruang sidang.

Oke kembali ke cerita saya tadi, jadi , emang sih perancangan sistem saya salah dan saya akui itu ketika dosen penguji memberikan masukan bagaimana yang benar sesuai kaidah beliau. tapi sayangnya penelitian saya banyak yang salah. Lah saya ikut sama referensi skripsi yang sudah sudah yang jelas jelas mendapat nilai bagus, tapi disaat itu saya disalahkan karena memang salah. Dan dosen pembimbing sudah-acc dari hasil penelitian kita berarti kan itu sudah layak dan benar ketika dihadapkan oleh penguji lain di sidang. Tapi kenyataanya enggak, masih banyak kesalahan yang akibatnya saya ya mendapat banyak krititan dari beliau. dan saya juga baru tau kebenaran nya tentang perancangan yang valid itu ketika diuji. Jadi sebelumnya gak tau bagaimana perancangan yang benar benar valid itu seperti apa. Jadi saya seperti diombang ambing dengan ketidak jelasan, saya harus mengacu yang mana.

Dosen pembimbing kritis atau yang biasa aja

Jika kalian sedang skripsi yang mendapat dosen pembimbing yang kritis dan tau hal kesalahan kesalahan kecil yang membuat kalian bisa kapan aja disalahkan, beruntunglah kalian , dari pada mendapat dosen yang kurang teliti. Dan Ketika bimbingan, naskah kalian dibolak balik dengan indahnya dan cepat di-acc. Emang nyenengin karena gampang buat lanjut ke selanjutnya, tapi kalo kamu gak punya pondasi yang kokoh yang melandasi tentang penelitian kalian dan ketika diuji kamu mendapat dosen yang kritis, ya siap siap aja buat mendapat kritikan sama beliau dan kalau kamu diuji sama dosen yang kurang kritis dan tidak teliti kalo naskahmu ada yang salah ya selamat kamu beruntung.

Beda kasusnya kalo kamu mendapat dosen pembimbing yang kritis yang tau letak kesalahan kesalahan kamu dan gak asal main acc aja. Ketika saatnya diuji kamu akan benar benar siap karena penelitian yang kamu buat itu bener bener sesuai dengan kaidah nya.

Hal yang sangat disayangkan dari penelitian saya adalah, saya sudah membuat berbagai fitur dari sistem informasi saya dengan sedemikian rupa dan beda dari yang lainnya . udah susah susah bikin dan hanya perancangan nya ada yang salah karena tidak sesuai dengan kaidahnya terus nilaiku jadi gak maksimal. Bahkan beliau tidak melihat sistem yang telah saya bikin secara keseluruhan. Rasanya itu sakit. Udah susah susah coding tapi gak diliat sama sekali, hanya mereka lihat di perancangannya. oh ya jurusan saya emang sistem informasi jadi bahasnya tentang coding dan perancangan. Hehe. Pada kenyataannya saya emang tidak terlalu bisa perancangan sistem, tapi ketika dihadapkan dengan proses pembuatan sistem dan coding nya, saya nomer satu. Kecewa sekali ketika pak dosen penguji tidak melihat sisi lain dari kesalahan saya dan bilang

“coba mas demoin programnya seperti apa”.

Dan bilang

“wah bagus mas sistemnya, beda sama yang lainnya. coba kalo diikutkan lomba mas, kemungkinan bisa menang itu tapi ini perancangannya ada yang salah nanti direvisi lagi”.

Tapi realita tidak sesuai dengan harapan, dan kadang merasa nyesal sendiri. Udah bikin sistem yang bagus, gak dilihat isinya kayak gimana, tapi nilainya sama yang lainnya yang sistemnya biasa biasa aja. Terus kenapa saya mendapat nilai itu. Tau gitu kemarin bikin sistem yang gampang aja kalo dapatnya Cuma segini. Yang ada dipikiran Cuma ada kata kenapa,kenapa dan kenapa. Tapi menyesali itu tidak akan membuat nilai kamu berubah. Kecuali kamu bawa parang dihadapan beliau, haha, bercanda sob, sumpah jangan dilakuin. Durhaka namanya. Haha.

Setelah saya mengalami hal itu saya sedikit mendapat pencerahan. Tidak masalah kamu mendapat nilai paspasan ketika kamu merasa diri kamu layak untuk mendapat nilai sempurna. Yang terpenting adalah skill kamu bahwa kamu bisa mengimplementasikan nya untuk mendapatkan rupiah atau dollar melalui kerja atau bangun usaha sendiri. Tapi yang terpenting adalah berikan yang terbaik kepada apapun itu dan totalitas ketika menghadapi masalah. Ambisi itu perlu ketika kamu ingin melakukan sesuatu, seperti ketika mengerjakan skripsi

“saya pengen penelitian saya itu terdapat fitur ini ini dan ini, harus bisa” .

Walaupun pada endingnya kamu tidak mendapat nilai yang kamu idam idamkan karena kesalahan yang berasal dari acuan kamu yang tidak benar. But, it’s okay. Kamu punya kepuasan tersendiri ketika kamu berhasil membuat penelitian yang paling bagus menurut kamu dan ambisimu tercapai melalui kerja keras dari hasil penelitian kamu.

Sebenanya saya masih penasaran kenapa bisa mendapat nilai itu karena penilaiinya yang tidak transparan yang ditunjukkan langsung ke mahasiswa

“ini lho mas nilai kamu kenapa bisa dapat nilai segini”.

Kalo mungkin saya tau kenapa mendapat nilai itu mungkin jiwa saya agak tenang karena tau kebenarannya kenapa saya mendapat nilai pas pasan. Tapi yasudah lah, itu semua sudah saya lewati dan akhirnya saya dapat menempuh masa studi saya tepat waktu.