Indonesia dan Malaysia adalah negara bertetangga yang mestinya mempunyai beberapa kesamaan. Namun, disebabkan oleh berbagai latar belakang, kedua Negara ini memiliki perbedaan pula. Sejarah bahwa Belanda yang menjajah Indonesia dan Inggris yang menjajah Malaysia meninggalkan bekas yang menyebabkan dua Negara melayu ini berbeda dalam beberapa aspek kehidupan, termasuk kondisi pendidikan.

Poin-poin di bawah ini mungkin tidak begitu mempresentasikan keseluruhan lingkungan pendidikan di kedua Negara tersebut karena sampel yang diambil ialah hanya Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universiti Teknologi MARA (UiTM), dan beberapa universitas lainnya di Aceh dan di Malaysia. Kedua perguruan tinggi tersebut merupakan tempat Saya menempuh studi beberapa waktu lalu. Artikel ini diharapkan dapat membantu untuk memberikan gambaran umum mengenai lingkungan belajar di kedua Negara.

1. Pendekatan belajar

Bagaimana-pun, perguruan tinggi sepatutnya mempersiapkan mahasiswanya untuk memasuki dunia kerja. Cara belajar yang lebih aplikatif sangat diperlukan agar mahasiswa nantinya siap bekerja di dalam industry. Oleh karena itu, kampus-kampus di Negara industri menerapkan applicative learning untuk memenuhi permintaan pasar ketenagakerjaan. Kampus-kampus di Malaysia menerapkan cara belajar seperti ini. Misalnya di dalam ujian ataupun tugas-tugas, dosen akan memberikan permasalahan-permasalahan yang sering terjadi di lapangan dan meminta kita untuk menyelesaikannya berdasarkan teori dan kenyataan yang pernah dipaparkan di kelas. Sangat jarang sekali muncul soal-soal yang menanyakan definisi suatu istilah, yang sebenarnya lebih diperlukan untuk mereka-mereka yang ingin menjadi dosen, peneliti, maupun profesi akademik lainnya.

2. Materi Ujian Akhir

Di Indonesia, setidaknya yang ditemukan di FEB Unsyiah, mahasiswa tidak perlu dipusingkan dengan ujian final. Kita hanya perlu me-review beberapa bab setelah ujian midterm karena materi pelajaran di awal-awal semester sudah diujiankan di midterm test. Namun di Malaysia, terlebih di UiTM, kita harus menguasai seluruh materi di semester tersebut. Jika masa ujian akan datang atau pada masa study week, mahasiswa di asrama kampus masih sangat ramai hingga pukul 3 pagi untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir.

3. Jenis mahasiswa

Beberapa mahasiswa menganggap tugas-tugas dari dosen hanyalah hal kecil. Namun, bagi kebanyakan mahasiswa di Malaysia, assignments adalah segalanya. Bahkan, meski tidak ada tugas, mereka akan tetap belajar agar selalu siap dengan ujian mendadak. Mencontek ketika ujian adalah kesalahan yang tak dimaafkan dan secara otomatis mahasiswa yang melakukan kecurangan tersebut akan mendapatkan nilai F.

Advertisement

Di lihat dari gaya belajar, ada dua jenis mahasiswa, yaitu (1) mahasiswa normal, dan (2) mahasiswa kalong. Untuk tipe pertama, mereka punya banyak waktu kosong di malam hari. Mereka menghabiskan waktu senggangnya untuk nonton di bioskop, jalan-jalan di mall, atau hanya menikmati kopi di kafe bersama sohib. Di siang harinya mereka gunakan hanya untuk belajar saja. Mahasiswa tipe kedua melakukan sebaliknya, yaitu belajar pada malam hari. Siang hari mereka gunakan untuk masuk kuliah, nongkrong di kantin, hangout, atau tidur di kelas menunggu kelas selanjutnya dimulai. Kamu tipe yang mana?

4. Penilaian

Di Malaysia, “hidup-mati” ditentukan hanya pada 1 hari, yaitu hari ujian akhir semester. Nilai ujian akhir mendapatkan porsi 40-70 persen dari seluruh total nilai. Di Indonesia kebanyakan universitas menerapkan 30-40 persen berasal dari nilai ujian akhir semester.

Variasi skor di Indonesia dan Malaysia juga berbeda. Di Malaysia, skornya ada A+, A, A-, B+, B, B-, dan selanjutnya. Sedangkan di Indonesia, plus dan minus tidak ada di skor A. Beberapa perguruan tinggi islam dan swasta di Indonesia, skornya hanya A, B, C, ataupun D.

5. Perpustakaan

Perpustakaan merupakan tempat untuk mendapatkan referensi ilmu pengetahun. Kita bisa membaca buku cetak maupun buku elektronik. Namun, inovasi terjadi di perpustakaan Unsyiah. Di sana ada kantin, kafe, toko buku dan souvenir universitas, serta ruang seminar. Ada pula disedikan sofa berwarna-warni. Perpustakaan di Unsyiah bertransformasi menjadi ruang berinteraksi dan berekspresi. Setidaknya sekali dalam seminggu, di sana ada penampilan seni di dalam perpustakaan. Tak heran terkadang perpustakaan ini seperti pasar pada waktu tersebut.

Perpustakaan di Malaysia kebanyakan masih berkonsep ‘jadul’, gudang referensi ilmiah. Perpustakaan tidak pernah sangat begitu ramai, kecuali pada saat study week. Perpustakaan di sana juga dilengkapi ruang belajar kecil untuk diskusi.

Lima poin di atas ialah beberapa pembeda lingkungan kuliah di Malaysia dan Indonesia yang paling mencolok. Masih banyak lagi kemungkinan perbedaan di antara keduanya. Yang terpenting ialah kita harus cepat beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Kuliah di Indonesia, Malaysia, atau Negara manapun, semuanya sama saja. Satu ditambah satu tetap sama dengan dua, di Indonesia atau di Inggris sekalipun. Yang kita harapkan dari studi di luar negeri ialah pengalaman dahsyat yang tak akan pernah kita jumpai di Indonesia, yang akan membuat kita lebih kaya dengan pengetahuan hidup serta relasi. So, tidak ada kata bingung untuk memilih Negara tujuan kuliah. Ke manapun kamu akan belajar, kamu harus menjadi quick learner supaya cepat beradaptasi dan bertahan hidup.