Pergilah. Jika dulu kamu meninggalkan begitu saja tanpa kabar, bagai hilang ditelan bumi. Seharusnya kamu memang tidak pernah kembali, pergilah. Apa memang sudah jadi hobimu menyakiti. Menyakiti dengan meninggalkan lalu kembali, lalu kembali meninggalkan.

Hei, ini hati! Hati yang merasa, bukan mainan yang dapat kamu mainkan sesuka hati.  Kamu pikir aku ini apa? Bola yang dapat kamu mainkan sesuka hati, kamu titipkan lalu ambil kembali, kamu tinggal pergi lalu datang kembali. Ini hati! Hati yang dapat menangis, hati yang juga bisa terluka.


Tidak cukupkah luka yang kamu goreskan dulu? Luka yang bahkan butuh bertahun-tahun untuk menyembuhkannya. Luka yang bahkan karenanya aku tak lagi ingin mengenal cinta, berada dalam fase masa bodoh dengan cinta. Aku ini hanya gadis biasa, gadis yang tak bisa kamu permainkan sesuka hati. 


Aku ini hanya gadis biasa, gadis yang juga bisa menangis karena sakit hati. Aku ini hanya gadis biasa, gadis yang juga bisa terluka karena tingkahmu. Jangan anggap aku layaknya bola yang dapat kamu oper sana-sini. Jangan anggap aku layaknya puntung roko yang dapat kamu buang, lalu dapatkan kembali. Dulu kamu yang memilih pergi, bukan? Lantas untuk apa kembali.

Untuk apa kembali jika hanya ingin menyakiti, menoreh luka yang sama. Luka ini sudah kering, walau masih berbekas. Tapi setidaknya sudah tak sesakit dulu, sudah tak seperih dulu, juga sudah tak terbuka seperti dulu.  Kamu tahu? Untuk mengeringkan yang dulu saja butuh waktu lama, butuh waktu bertahun-tahun lamanya. Bukan waktu yang sebentar, untuk menyembuhkannya. 

Advertisement

Katamu, kamu mencintaiku. Cinta macam apa yang kamu maksud? Cinta dalam artian apa? Aku tanya cinta macam apa? Apa mencintai dengan cara meninggalkan lalu kembali, iya? Itu yang kamu maksud cinta? Jika itu yang kamu maksud maka itu bukan cinta. Karena jika cinta maka kamu tidak akan menyakiti, kamu akan berusaha menjaga bukan malah mengores luka dengan sengaja.

Jika aku boleh meminta, satu saja, hanya satu. Izinkan aku bahagia sekali ini saja, izinkan aku merajut kasih dengan dia. Dia yang hadir kala aku terluka, dia yang hadir kala aku menangis, dan dia yang tak meninggalkan kala aku terpuruk. Jika kamu bertanya, bertanya apa tak lagi ada namamu di hati. Maka akan aku jawab dengan mantap, ya! Tak ada lagi yang tersisa, tak lagi ada yang berbekas.

Jika ada itu pun hanya bekas luka yang telah mengering, mengering namun meninggalkan bekas. Kamu bilang hanya ada namaku dihatimu, hanya diriku yang dapat mengerti kamu. Maka akan kembali aku jawab, tidak! Bukan aku gadis itu, aku bukan gadis yang dapat mengerti kamu. Carilah gadis lain, dia yang memang benar-benar mengerti juga mau memahami kamu. Walau kamu pernah menyakiti, membuat aku terbelenggu akan rasa yang sama dalam waktu lama. Tapi aku tahu, kamu lelaki baik. Kamu lelaki baik, maka kamu akan dapat gadis yang baik, dia yang bahkan lebih baik dariku.