TransJakarta atau biasa lebih dikenal dengan nama Busway (padahal Busway itu nama jalurnya) mulai beroperasi sejak awal tahun 2004. Berarti sudah lebih dari 10 tahun salah satu bentuk transportasi umum ini melayani masyarakat. Ide pembangunan jalur Busway bisa dibilang brilian, mengingat transportasi model ini (Bus Rapid Transit) merupakan yang pertama di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Pada satu jalur dari lebar jalanan yang dilalui Bus Transjakarta, dipotong untuk dipakai sebagai fasilitas khusus Transjakarta. Di mana kemudian di sepanjang jalur tersebut, dibangun tempat-tempat perhentian untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Dari awal pengembangannya, sistem ini diharapkan dapat menjadi pemecah masalah kemacetan di ibukota.

Namun, selain masalah "minor" seperti bus terbakar, kerusakan bus, dan lain-lain, yang jadi masalah inti adalah jumlah armada yang belum ideal. Di sini saya tak perlu mengungkapkan berapa harusnya jumlah armada ideal. Tetapi sebagai ukuran, mungkin bisa dilihat dari jumlah armada di Koridor 1. Koridor yang menghubungkan jurusan Blok M – Kota ini, bisa dikatakan jumlah busnya memadai. Sebagian besar merupakan bus gandeng yang mampu mengangkut jumlah penumpang yang tak sedikit.

Tapi, itu di Koridor 1 yang sering saya katakan sebagai Koridor Anak Emas ketika bercanda dengan sesama pengguna TransJakarta. Kembali ke masalah jumlah ideal, ini bisa diukur dari waktu tunggu penumpang di halte. Menurut saya pribadi, waktu tunggu ideal adalah tidak lebih dari 15 menit (sebagian besar penumpang terangkut). Ini masih lebih lama dibanding waktu tunggu MRT di Singapura.

Advertisement

Ya, tentu saja tidak bisa dibandingkan. Tapi kalau bicara ideal, tentunya mau yang bagus kan? Selain di Koridor 1, hampir sebagian besar koridor memiliki waktu tunggu yang lama. Contohnya, saat menunggu di Halte Kota menuju Tanjung Priok. Waktu tunggu bus bisa sampai tiga puluh menit (Koridor 12, Pluit – Tanjung Priok ). Begitu juga sering terlihat penumpukkan penumpang di halte seberang Mal Artha Gading, terutama pada jam pulang kantor (Koridor 10). Waktu tunggu juga sekitar tiga puluh menit.

Mungkin bisa saja ada dalih yang mengatakan: Ya, jelas padat. Kan itu jam pulang kantor.

Respon saya singkat saja. Seperti sudah diungkapkan sebelumnya, sistem jalur busway bertujuan memecahkan masalah kemacetan. Masalah ini timbul pada jam berangkat dan pulang kerja (lebih padat saat pulang kerja). Kalau angkutan umum yang nyaman tidak memadai armadanya, sampai kapan pun masalah kemacetan tidak akan bisa terpecahkan. Untuk apa ada jalur busway kalau armadanya tidak ada yang menjemput penumpang yang menumpuk?

Waktu tunggu yang lebih singkat akan memancing lebih banyak orang untuk menggunakan bus TransJakarta. Tentunya, juga akan mengurangi jumlah penggunaan kendaraan pribadi. Yang secara langsung berdampak pada menurunnya tingkat kemacetan. Setelah lewat 10 tahun, waktu tunggu ideal ini tampak masih belum tercapai meski sudah ada perbaikan di sana sini. Namun, saya tidak mengatakan 10 tahun tidak ada perkembangan apa-apa.

Selain mempersingkat waktu tunggu, penambahan armada tentunya juga meningkatkan kenyamanan bagi pengguna TransJakarta. Sudah jamak bagi pengguna Bus Transjakarta pada "Happy Hour " (jam pulang kerja), penumpang harus berdesakkan di bus. Suatu kondisi yang jauh dari nyaman setelah bekerja seharian. Tentunya ini juga bisa menjadi penyebab bagi pengguna jalan untuk lebih memilih naik kendaraan pribadi walaupun ongkosnya lebih mahal, daripada berdesakkan di bus.

Kadang ada pikiran iseng. Mengapa harus dibangun sistem MRT yang biayanya fantastis?

Bukankah bisa saja sistem jalur busyway dimaksimalkan? Anggaran besar itu bisa untuk mendatangkan bus-bus baru untuk ditempatkan Koridor lain, selain Koridor 1 tentunya. Dengan armada yang lebih banyak, waktu tunggu menjadi singkat dan pengguna terlayani dengan baik.

Namun apa mau dikata? Jalan sudah dilubangi. Proyek MRT sudah berjalan (semoga tidak macet lagi). Akhir kata, kalau ada pejabat terkait transportasi Jakarta yang membaca tulisan ini, saya berharap penambahan armada secara maksimal bisa dipercepat dan ditempatkan pada seluruh koridor. Tentunya, tulisan ini bukan untuk menjatuhkan nama Transjakarta atau pengelola jalur Busway.

Ini hanya ungkapan, usulan, dan curhat dari salah satu konsumen regulernya agar sistem yang brilian ini bisa diterapkan dengan lebih maksimal.