Di masyarakat ini, "berbagi" dipandang sebagai sesuatu yang indah, karena kita bisa mendapat banyak hal dari orang lain secara cuma-cuma dan bisa mengenal satu sama lain. Didukung dengan kemajuan teknologi, kita bisa berbagi dengan mudah dengan orang lain.

Dua dekade lalu, handphone adalah barang mahal yang hanya dipakai segelintir orang dan penyebaran informasi juga belum secepat sekarang. Bandingkan dengan kondisi sekarang. Handphone bukan lagi barang mewah. Semua orang bisa membelinya dengan mudah dan murah. Didukung dengan penemuan-penemuan di bidang teknologi yang bisa mempercepat penyebaran informasi, seperti social media atau messanger, yang ter-install di handphone, banyak orang bisa dengan gampangnya berbagi informasi.

Di kehidupan sehari-hari saja, kita sudah sering melihat teman bahkan orang tua membuka media sosial. Beragam informasi kita terima dan kirim dalam hitungan detik, mulai dari info tentang lingkungan sekitar seperti keluarga dan teman hingga info di negara lain sekalipun.

Walau begitu, tidak semua info yang kita kirim dan terima diperlukan. Sering kita mendapat info tentang apa yang sedang teman kita lakukan sekarang, perasaannya atau pikirannya. Padahal, sebenarnya tidak ada yang menyuruhnya untuk menunjukkan kehidupan pribadinya. Inilah salah satu contoh yang menunjukkan kalau banyak orang di masyarakat ini punya kebiasaan overshare, atau terlalu banyak berbagi.

Saat membuka social media atau messanger, tidak jarang kita melihat kemudian membuka notifikasi status yang terpampang. Dari situ, kita bisa mengetahui apa yang teman kita pikirkan, rasakan, dan lakukan namun apa itu semua kita butuhkan? Jika kita perhatikan lagi, banyak orang yang menganggap hal itu kurang penting. Bahkan, tanpa ragu, mereka melewatkan notifikasi yang ada.

Advertisement

Entah sadar atau tidak, mereka yang menyebarkan terlalu banyak info pribadi sudah merusak privasi mereka sendiri. Mereka terus berbagi sampai-sampai mereka tidak punya apapun yang bisa mereka nikmati disaat sendiri. Kadang, kebiasaan seperti itu membuat banyak orang beranggapan kurang baik, misalnya dicap sebagai attention whore atau orang yang haus perhatian.

Bukannya penulis melarang berbagi, tapi berbagi akan jauh lebih bermakna jika kita berbagi secukupnya, sehingga kita tidak kehilangan privasi kita yang berharga.