Permulaan adalah langkah pertama kita untuk memulai sebuah proses adaptasi, begitu puka dengan artikel ini, awal dari sebuah goresan tinta virtual saya. Lahir dan dibesarkan disebuah negara bernama Indonesia, membuat saya merasakan dengan pasti bagaimana getirnya hidup dibawah tekanan bernama Rupiah. Fase-fase perjalanan kehidupan di negeri ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian.

Fase Kelahiran

Tidak banyak yang bisa digambarkan jika saya memposisikan diri sebagai yang dilahirkan, karna sulit untuk mengingat apa yang saya lakukan saat pertama kaki melihat Bumi Nusantara ini. Tapi fase ini akan saya gambarkan dengan sudut pandang orang kedua. Saat kelahiran adik saya, Semua keluarga bersuka cita, riuh rendah berebut untuk menggendong dan fase terpenting itu memiliki sebuah anomali dimana tangisan berarti kebahagiaan mutlak.

Tangisan pertama seorang bayi merupakan kebahagiaan tak terperi bagi yang mendengarkan.

Fase Anak-anak

Advertisement

Bermain, panas dan hujan tak dipedulikan, pulang kena marah, adalah hal-hal normal yang saya alami. Bersama keluarga yang hidup nomaden (berpindah-pindah kontrakkan) saya merasakan betul dampak dari yang ahli ekonomi sebut krisis moneter. Jalan-jalan bersama keluarga harus menyewa motor dan ditambah dikendarai olej seluruh tunpah darah keluarga komplit, bisa dibayangkan saat sekarang lagi musim mudik lebaran dan ada liputan satu motor menampung hingga 5 manusia diatasnya, yup..begitulah kira-kira yang saya alami. Dan hak itu terjadi bukan karna alasan mudik, tapi karna alasan klasik bumi, duit. Dan pada fase ini juga, saya mengalami kejadian yang membuat saya paham arti Bhinneka Tunggal Ika dalam arti dan makna yang sebenarnya. Umur 7 tahun, saya dihadapkan pada situasi konflik etnis yang saya saat itu belum mengerti kenapa harus terjadi. Konflik yang berlangsung satu bulan itu menjadi momok terbesar dalam hidup saya hingga sekarang. Keadaan mencekam dan suara hinhar bingar berisi teriakan masih terdengar jelas jika saya mengingatnya.

Bumi Nusantara adalah miniatur dari PBB karna kita juga terdiri dari beragam bangsa yang memiliki semangat dan historis yang berbeda-beda.

Suku, Ras, Etnis atau apapun sebutan penggolongannya, semua memiliki kesadaran yang hakiki bahwa mereka atau kita semua berdiri di bawah Panji Merah Putih dan harus mampu menjunjung tinggi nilai keluhuran yang ada dan tertanam di masing-masing penggolongan tersebut.

Fase Remaja

Cinta, asmara, persahabatan dan kesakitan menjadi bumbu paling sedap pada fase ini. Mulai memiliki keingingan berlebih terhadap benda sakti bernama handphone, menyukai musik dan lagu yang dirasa menjadi pengejawentahan atas apa yang dialami dan dirasakan diri sendiri. Radio juga memiliki andil besar bagi saya di fase ini, sebagai manusia Nusantara yang berkehidupan serba tebatas namun ingin merasakan popularitas, cukup mengirim sms atau attention ke pihak radio, maka rasa indah membuncah saat Sang Penyiar membacakan isi pesan kita. Perasaan itu seperti seorang artis terkenal yang twit-nya dibicarakan oleh seorang presenter tv populer.Namun, disitulah secara tidak langsung, saya belajar komunikasi dua arah melalui saluran komunikasi tertua di Indonesia.

Komunikasi adalah alat untuk memperoleh keajaiban, bahkan untuk sekedar merasakan bagaimana rasanya jadi artis 10 detik

Fase menuju dewasa

Inikah tahpan yang sedang saya jalani. Membuat keputusan besar untuk merantau untuk menuntaskan hasrat dahaga akan ilmu pengetahuan. Daerah berjuluk Istimewa menjadi tujuan saya meneruskan langkah di Bumi Nusantara. Alasannya pun klasik "hidup disana lebih murah, titik", maka jadilah saya seorang perantau di Tanah Orang. Pesan agama untuk ber-hijrah guna menemukan kebaikan benar sekali adanya. Saya berhasil menemukan keluarga baru, teman baru bahkan bahasa baru yang lumayan saya kuasai. Kalau dipikir-pikir saya bisa jadi diplomat karna sudah menguasai 5 bahasa, tp sayangnya saya ga masuk kualifikasi karna bahasa yang saya kuasai tidak tersangkut dengan negara manapun selain Indonesia. Di perantauan, pola berpikir dan bertindak menjadi semakin terasah. Bertemu manusia lain yang berasal dari berbagai belahan Bumi Nusantara benar-benar membuat saya sangat bangga dilahirkan di negeri ini. Di perantauan pula, saya belajar tentang arti penting sebuah pendidikan.

Pendidikan adalah komoditi termahal yang menjadi pemisah sebuah ras baru di negeri ini, yakni Ras Terpelajar.

Namun sayangnya, ras ini seperti tidak dapat memberi manfaat nyata bagi Bumi Pertiwi. Bahkan jika dihitung, mungkin lebih banyak merugikan negeri. Tidak akan ada kita menemukan koruptor yang tidak sempat mencicipi nikmatnya bangku Perguruan Tinggi. Berarti ada yang salah dengan pola pendidikan yang ada di negeri ini. Semoga Bumi Nusantara akan menyambut Tahun Emas 2045 nanti dengan mimpi besar yang sudah terwujud. Kelahiran kita di negeri ini bukan sebuah kebetulan tapi memang sesuatu yang sudah terencana dengan baik oleh Sang Maha Perencana.