Polos menurut KBBI itu artinya sifat yang apa adanya, jujur. Mirip dengan lugu yang artinya tidak banyak tingkah dan apa adanya. Sifat-sifat ini selalu berpikiran positif terhadap segala sesuatu, selalu jujur, tulus, ikhlas dan apa adanya, sifat-sifatnya bersih.

Polos / lugu itu banyak yang bilang sama dengan bodoh atau bego. Padahal artinya beda. Polos/lugu konotasinya positif sedangkan bego itu negatif. Polos itu karena ketidaktahuan sehingga masih ada proses belajar untuk menjadi pintar, sedangkan bodoh adalah karena ketidakmampuan untuk menjadi pintar.

Berikut adalah suka-duka menjadi orang polos/lugu:

Kadang apa yang kamu ucapkan dari mulutmu, apa yang kamu perbuat barusan jika kamu ingat akan membuatmu malu setengah mati

Pada waktu kamu ngelakuin sesuatu rasanya biasa saja karena begitulah dirimu, tapi jika dipikir kembali apa yang kamu lakuin atau katakan barusan itu memalukan.

A (gebetan ceritanya) : “B, kamu belum mandi ya?”

Advertisement

B : “Hah? Kok kamu tau??” (sambil kaget dan menjauh)

A : … (cengo)

B : … (Merutuki diri. Ya Tuhan, aku hina, aku hinaaa…. Sembunyikan aku darinya, sembunyikan aku darinya ya Tuhan!)

Orang akan senang menggodamu hanya karena (mereka pikir) menggodamu itu sesuatu yang lucu

Karena predikat polos / lugu yang terlanjur melekat padamu, orang-orang akan senang menggodamu hanya karena ingin melihat ekspresimu atau apa reaksimu. Entah apapun itu. Mereka pikir, menggodamu itu adalah sebuah hiburan. Jadi mereka kira ini lucu? #ngorek-orek tanah di pojokan.

A : “Eh, kemarin kamu jalan sama si C ya? Gandengan tangan, mesra-mesraan di pinggir jalan?”

B : “Hah? Kapan? Hah? Kata siapa? Enggak, sumpah enggak. Aku kemarin di rumah kok tidur seharian, beneran!” (mati-matian ngomongin pembelaan dan apa yang kamu lakuin kemarin padahal si A cuma iseng pengen liat ekspresi dan reaksimu).

Orang-orang akan senang menjahilimu hanya karena mereka berpikir kamu mudah dijahili atau dicurangi

Terlanjur berlabel polos, orang yang tadinya hanya berstatus ‘awas’ karena sebatas ingin tahu reksimu kini beralih menjadi status ‘waspada’. Beberapa dari mereka sudah berani berbuat jahil atau mengerjaimu.

A dan teman-temannya : “Hei, kamu kok telat. Ini yang lain sudah pada dateng! Kata pelatih yang telat disuruh muterin lapangan sepuluh kali!”

B : “HAH? Yang bener? “ (panik) Kalau ada yang berbaik hati mereka akan bilang itu bohong dan kamu akan kesel, ngambek atau marah-marah ke temen-temenmu yang disambut dengan tawa mereka. Kamu nggak ngerti kenapa mereka bisa semudah itu ngerjain kamu.

“Kalau aku beneran ngelakuin itu, mereka ngerasa bersalah enggak ya?” #ngelusdada

Kamu akan selalu ketinggalan berita terkini atau biasanya kamu yang paling ketinggalan tentang berita yang nyangkutnya ke dalam jenis berita ‘dewasa’

Di usiamu yang sekarang, teman-temanmu ada yang santai ngobrolin hal yang ‘dewasa’. Sedangkan kamu, karena menganggap hal itu tabu, hanya bisa bingung atau malu ketika teman-temanmu ngobrolin hal itu.

A : “Eh blablablabla”

B : “…”

C : “Eh, A! Jangan ngomong di depan B, dia nggak ngerti tuh!”

B : #mewek

Kamu sulit membedakan mana orang yang benar-benar tulus, jujur ke kamu dan mana yang modus, bohong sama kamu

Terkadang ketika ngrumpi dengan teman-temanmu yang lain kamu baru akan menyadari sesuatu yang selama ini kamu anggap biasa saja ternyata ada hal lain menurut teman-temanmu yang diluar dari pemikiranmu selama ini.

A : “Eh B, jangan deket-deket si Z. Itu orangnya blablablabla,”

B : “Apa iya? Bukannya si Z itu blablabla?”

C : “Hah? Ya nggak lah. Itu tuh karena si Z itu…”

Dan yang biasanya nggak ada pikiran buruk ke orang lain, karena yang bilang teman-temanmu yang lebih dari satu, kamu mulai waspada dan terkadang bingung, sebenarnya mana yang seharusnya kamu percaya. Kemudian terlalu sering dibohongi, diusili temanmu, kamu menjadi belajar bahwa di dunia ini nggak semua orang itu jujur dan tulus. Kadang kamu merasa sebal, gemas pada dirimu sendiri karena terlalu percaya pada orang lain, kamu pun bertekad untuk lebih berhati-hati.

Nah, kemudian dibalik dukanya orang polos, berikut adalah keuntungannya.

Kamu akan melangkah tanpa beban karena terbiasa ngomong jujur apa adanya

Jika ditanya, kamu akan menjawab apa adanya, karena bagimu kejujuran itu nomor satu. Karena bagimu, satu kebohongan akan melahirkan kebohongan yang lain. Sehingga jika ditanya, secara spontan jawaban yang apa adanya langsung terlontar dari bibirmu. Hanya saja kamu harus berhati-hati memilih kata agar jawaban jujurmu tidak menyakiti teman kamu.

Teman-temanmu banyak yang mempercayaimu

Ketika seorang teman membutuhkan penilaian yang jujur dari seseorang, sosokmulah yang paling dicari karena kamu selalu menjawab apa yang dia tanyakan secara jujur apa adanya. Apa saja yang di dalam pikiranmu, kamu utarakan.

A : “Sifatku itu seperti apa sih?”

B : “Kamu baik, penyayang kok. Tapi kamu galak. Dikurangin sih,”

Tak sedikit teman yang baik akan menjagamu

Meskipun banyak teman-teman yang menjahilimu atau usil kepadamu, tak sedikit pula teman yang baik yang akan menjagamu dari keisengan teman yang lainnya. Ada dari mereka yang merasa bahwa kemurnianmu ini harus dijaga. Bersyukurlah kamu akan teman-temanmu yang ini karena kamu bisa tetap percaya pada prinsipmu yaitu :

“Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih. Tapi bagaimanapun berbaik hatilah.

Bila engkau jujur, mungkin saja orang lain akan menipumu. Tapi bagaimanapun, berbuatlah jujur.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini mungkin saja besok sudah dilupakan orang. Tapi bagaimanapun, berbuat baiklah. Bagaimanapun berikan yang terbaik darimu.

Pada akhirnya engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dengan Tuhanmu, ini bukan urusan antara engkau dan mereka. “ Mother Teresa