Saat mengucapkan sumpah itu dua tahun yang lalu, aku belum mengerti apa arti dari sumpah itu yang sesungguhnya. Aku mengerti bahwa memang sumpah itu harus di ucapkan di depan altar dengan kesungguhan hati. Hanya saja belum terbayang dengan jelas bagaimana aku menjalaninya

Dua tahun sudah berlalu semenjak aku mengucapkannya di depan altar, dan kini aku sedikit memahami bahwa dalam sedih ataupun senang bukan hanya kata kiasan dalam sumpah pernikahan, namun bagaimana aku tetap berada di sampingmu saat kau benar-benar sulit dan terpuruk. Dan tetap ada di sampingmu untuk memberi tawa dan keceriaan baru. Dalam sakit maupun sehat, menjadi penopang dan penolong pada saat sakit dan terus memberikan kekuatan. 

Aku tahu sekarang bahwa kita bukan lagi dua melainkan satu, satu rasa satu asa. Apapun itu aku akan belajar selalu di sampingmu, baik ataupun buruk. Bukan kecantikan atau kekayaan yang kutawarkan padamu, melainkan kesetiaan janjiku, memenuhi sumpah yang kuucapkan dua tahun lalu di altar itu. Sumpah yang dulu aku tidak mengerti bagaimana cara menjalaninya. 

Namun sekarang, hari ini maupun esok hari aku akan berjanji untuk selalu belajar menghayati sumpah itu, bukan hanya dalam kata melainkan sikapku, hatiku dan perbuatanku. Aku akan belajar dan terus memahami bahwa tak peduli bagaimanapun keadaanmu kini, aku akan me dampingimu, menjadi penolong bagimu, menjadi kekuatan yang tak terlihat namun pasti menopangmu.