Peradaban sungai adalah suatu peradaban yang terbentuk di sekitar bantaran sungai. Peradaban ini sudah terbentuk sejak ribuan tahun sebelum masehi. Faktor X yang membangunnya adalah karena tersedianya pasokan air yang cukup. Sungai menyediakan air minum untuk binatang, menyuburkan tanaman, dan menarik manusia untuk tinggal disana agar perburuan hewan dan tanaman jadi lebih mudah.

Sungai juga menyediakan pasokan ikan yang melimpah, menyediakan pauk yang murah untuk kelangsungan hidup manusia zaman dahulu.

Selama ribuan tahun manusia hidup dengan berorientasi kepada sungai, hingga membentuk sebuah peradaban besar. Peradaban Sungai Kuno itu terbentuk di berbagai belahan dunia, seperti Peradaban Sungai Nil (Mesir), Sungai Kuning (China), Sungai Gangga dan Sungai Indus (India), Sungai Eufrat dan Tinggris (Mesopotamia), dll.

Berbicara mengenai peradaban sungai kuno, kita akan diajak untuk melihat berbagai kemajuan tata kehidupan masyarakat dunia dari berbagai bidang (ekonomi, sosial, budaya, politik, dll). Mungkin kita tidak bisa mengelak jika Peradaban Sungai Nil mampu membentuk manusia yang pandai dalam teknik arsitektur dan system penanggalan; atau Peradaban Sungai Kuning yang membentuk manusia yang pandai dalam filsafat dan astronomi; terakhir lihat juga bagaimana Sungai Indus mengajarkan manusia untuk menjaga sanitasi dan menata kota dengan tata ruang yang efektif dan efisien.

Jadi terpikirkan satu hal liar, ‘kalau ada peradaban sungai kuno, lantas apa kabar dengan peradaban sungai modern?’.

Advertisement

Memang sangat disayangkan, peradaban sungai modern justru tidak segemilang peradaban sungai kuno. Peradaban yang terbangun di bantaran sungai, saat ini justru dipandang sebagai salah satu peradaban gagal yang dihuni oleh masyarakat miskin dan pemukiman kumuh, tidak lagi menjadi kiblat perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, dan teknologi.

‘Lantas siapa yang layak untuk disalahkan?’. Menurutku, manusia.

Pada zaman dahulu, sungai-sungai terhitung masih sangat jernih, dihuni oleh banyak ikan, dan dikunjungi dengan suka rela oleh para binatang yang kehausan dan ingin bermukim. Sudah kukatakan, hal ini juga yang menarik manusia pra sejarah untuk tinggal disana_sehari, sebulan, setahun, bahkan sampai ribuan tahun. Sungai mulai sesak dan tercemar. Hewan dan tumbuhan bahkan kehilangan space untuk hidup disana, berdampingan dengan manusia si makhluk serakah.

Kalau saja sepanjang sejarah hidup manusia bisa menjaga kelestarian alamnya, mungkin kemiskinan dan kelangkaan sumber daya di sekitar sungai tidak akan pernah terjadi, dan manusia masih bisa hidup layak walau hanya di bantaran sungai. Tapi secara faktual memang tidak demikian, manusia mencemari setiap jengkal badan sungai, meracuni air dengan limbah rumah tangga dan industri (ikan-ikan dan organisme air lainnya mati dengan mengenaskan). Mengerikan!

Jadi pantas saja Peradaban Sungai Modern juga mengenaskan. Bukankah memang manusia sendiri yang sengaja memperburuk kehidupannya?

‘Ya salah alam lah, kenapa dia gak punya kapasitas yang lebih banyak untuk mengimbangi perkembangan manusia?’

Aduh susah yah ngobrol dengan makhluk rewel. Siapa bilang kapasitas alam itu terbatas? Ah bukan, siapa suruh mendesak alam dengan keserakahan? Ayolah, saatnya untuk membuka mata dan memperbaiki kesalahan, mari bangun Peradaban Sungai Modern minimal setingkat lebih baik dari kemajuan Peradaban Sungai Kuno (bukan malah berpuluh tingkat lebih buruk seperti sekarang).

Menyelamatkan alam berarti menyelamatkan kehidupan anak cucu kita. Jangan hanya pemerintah yang berusaha, atau jangan hanya masyarakat yang berusaha. Bekerjalah bersama-sama, maka citra manusia akan segera membaik di mata alam, lantas kehidupan yang lebih layak akan tercipta kemudian hari. Think green, act now!