Untuk kalian, para wanita yang sering mengaduk pikiran. Kami benci sekali berhadapan dengan semua rasa gengsi yang kalian miliki. Terlebih saat kalian merasa diri kalian sangat berharga dan merasa kalau kalian tidak mudah itu untuk diraih. Bagi kami, itu hanyalah sesuatu yang basi.

Ingatlah, orang yang sudah mengorbankan waktu untukmu, layak dihargai. Walaupun hanya semenit saja, mereka pantas dihargai. Bukan dihargai dengan uang, tapi dengan sikap. Sikap yang biasanya kalian buat secuek mungkin seolah tidak peduli, atau mungkin memang tidak peduli. Kalian itu, yang merasa cantik dan punya uang, bertingkah seolah punya tingkat tersendiri untuk dikejar oleh kami, kaum lelaki.

Kalian memancing perjuangan kami. Kalian senang melihat itu. Bahkan ketika kami mencoba memberikan apa yang kami bisa berikan untuk kalian. Kalian menikmati pemandangan itu. Kalian senang ketika ada laki-laki yang memperjuangkan kalian habis-habisan. Kami, para laki-laki, tahu akan hal itu. Tapi kami tetap berjuang untuk kalian. Alasannya? Harapan. Kami, para lelaki yang cenderung bego dalam hal percintaan, selalu berharap untuk bersama kalian.

Walaupun harapannya sangat kecil. Pada akhirnya kami pun berujung hancur ketika kalian lebih memilih lelaki yang tajir dan tampan. Yang sudah jelas bukan tandingan kami. Kami dipenuhi oleh ketidakpastian kalian. Dipenuhi oleh hal-hal kecil yang kalian buat. Yang tanpa sadar kami anggap sebagai harapan. Kalian berpikir bahwa kami, yang mencintai kalian, akan terus ada saat kalian bersedih.

Karena itu, sebagian besar dari kalian tidak tega untuk mengatakan penolakan pada kami. Kalian takut kami hilang. Bukan, kalian takut pelarian kalian hilang. Memang, kami pasti akan ada saat kalian bersedih. Kami juga bersedia mengusap air mata kalian. Menempuh perjalanan jauh demi kalian. Memberikan waktu kami untuk kalian. Sampai memaksakan kemampuan kami untuk membuat kalian bahagia.

Advertisement

Tapi, kami juga manusia. Kami ternyata punya batas kesabaran. Tidak ada orang yang nyaman hidup dalam ketidakpastian. Termasuk kami. Apalagi ketika kami tahu bahwa kami hanya didiamkan untuk menjadi cadangan kalian. It hurts. But we should deal with it. Jadi, kami sudahi perjuangan kami di sini. Masih banyak yang pantas untuk kami perjuangkan. Terima kasih. Ketika kalian bertemu laki-laki lain yang memperjuangkan kalian seperti kami, tolong hargai mereka. Karena kami pun tidak ingin menambah jumlah kami, laki-laki dengan luka di hati.