Banyak jalan menuju Roma; banyak jalan menuju kekuasaan.

Itulah Indonesia, negara kita yang tengah mempersiapkan untuk kali pertama PILKADA serentak. Pemilihan Kepala Daerah yang dilakukan bersamaan. Tahun 2015 ini, tepatnya tanggal 9 Desember, negara yang katanya “gemah ripah loh jiinawi” ini akan menggelar PILKADA serentak di 263 provinsi, kota, dan kabupaten. Luar biasa banyak, luar biasa nafsu untuk berkuasa ….

Satu pesan saja …

Untuk Anda, saya, dan kita semua – para simpatisan, fanatisme ataupun penggembira PILKADA serentak. Tentang hingar bingar PILKADA serentak, tentang Pemilihan apapun bentuk dan namanya.

Ketahuilah ini ….

Surat Penting dan Terbuka untuk Simpatisan PILKADA SERENTAK

Advertisement

Bagi PENDUKUNG calon manapun, Anda, saya dan simpatisan pendukung itu tak ubahnya orang-orang yang buta dan dibutakan, atau ditulikan. Dibutakan dan ditulikan oleh harapan Anda, saya, dan simpatisan sendiri. Harapan akan terciptanya provinsi, daerah yang makmur dan sejahtera. Makanya, Anda, saya atau simpatisan pendukungnya membela mati-matian. Karena Anda, saya, atau simpatisan itu sedang membela harapan dan mimpi-mimpi kita sendiri.

Anda, saya atau simpatisan itu tidak ingin siapapun menghancurkan harapan dan impiannya, karena hanya itu yang Anda, saya atau simpatisan itu punya. Sampai sekarang dan hingga terpilih nanti, Anda, saya atau simpatisan itu sungguh sangat bersedia menunggu agar harapan dan impian yang Anda, saya atau simpatisan itu tunggu bisa segera menjadi nyata.

Bagi PENOLAK calon manapun. Anda, saya dan simpatisan penolak itu persis seperti orang-orang yang buta dan dibutakan, juga ditulikan. Buta karena benci, tuli karena iri. Anda, saya atau smpatisan itu sedang menunggu, bahkan mencari-cari kesalahan pemimpin yang ditolaknya. Jika perlu didoakan gagal memimpin bila terpilih. Karena keberhasilan pemimpin terpilih nanti dianggap derita bagi Anda, saya atau simpatisan itu.

Anda, saya atau simpatisan itu, beranggapan siapapun boleh sukses. Asal jangan pemimpin yang terpilih nanti. Siapapun boleh jadi kepala daerah, asal jangan dia. Anda, saya atau simpatisan itu lebih suka provinsi, daerah ini hancur di tangan orang lain, asal jangan berhasil di tangan sosok pemimpin yang terpilih nanti.

Anda, saya, dan simpatisan itu, sungguh tidak ada yang paling benar. Juga tidak ada yang paling salah. Lalu, mengapa kita meributkan tak berkesudahan. Berkomentar bak Tuhan. Bahkan MENDUKUNG dan MENOLAK bak pemilik alam semesta raya. Welah dalahh …. #BelajarDariOrangGoblok