Hai, apa kabar? Kuharap kamu baik-baik saja. Rasanya canggung sekali setelah sekian lama kita tak pernah bertegur sapa. Aku sendiri juga takut untuk menyapamu duluan. Maafkan aku atas segala sikapku. Aku telah mengecewakanmu, bahkan juga menyakiti hatimu. Setelah apa yang telah kamu perjuangkan untukku. Perempuan yang kamu cintai, tapi dia tak tahu diri. Aku memang tidak sebaik yang kamu bayangkan, namun juga tidak seburuk yang kamu pikirkan.

Tapi inilah aku dengan segala kekuranganku dalam mencintaimu. Aku tahu mungkin ini tidak adil bagi perasaanmu. Perasaan yang begitu tulus, tapi aku malah memilih putus. Kamu adalah lelaki yang baik mas, tidak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu. Tapi aku berharap ini sebagai jalan terbaik untuk kita.

Kamu orang yang mandiri, kamu rajin, kamu pintar, juga pekerja keras. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan temukan dia, perempuan yang juga sebaik dirimu, bukan aku. Aku tahu segalanya memang tidak mudah. Semoga Tuhan selalu membimbing kita agar tidak salah melangkah. Semoga kamupun dapat mengerti dengan jalan yang kupilih ini.

Aku hanya berusaha untuk menuruti nasehat yang mereka ucapkan. Kalau anak perempuan juga bisa dibanggakan. Percayalah, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Akupun tidak menyangkal, jika banyak diantara mereka yang mempunyai hubungan spesial namun masih dapat fokus pada pendidikannya. Tapi Sebenarnya sejak awal, sejak aku memutuskan akan melanjutkan sekolahku lagi. Aku memang sudah berupaya untuk tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun. Karena selain aku ingin fokus, aku juga belum sepenuhnya bisa menghapus perasaanku dengan dia yang dulu.

Namun seiring dengan kebersamaan kita yang semakin dekat. Kupikir denganmu, aku dapat move on. Tapi ternyata belum. Aku masih saja sulit untuk menghapusnya dari hatiku. Yang sudah jelas dia tidak pernah memperjuangkan diriku, seperti yang kamu lakukan. Ada banyak hal yang harus kupikirkan matang-matang mulai sekarang. Termasuk urusan perasaan. Aku tidak ingin melukai pria lagi.

Advertisement

Kamu masih ingat? Dengan surat terakhir yang pernah kuberikan padamu? Disitu aku pernah membuat janji untuk kita bertemu nanti. Tapi aku belum tahu jika kita dapat menyatu kembali. Aku tidak yakin dengan perasaanku yang mudah berubah-ubah setiap hari. Apapun yang terjadi nanti dimasa depan, semoga itulah jalan terbaik dari Tuhan untuk kita. Aamiin. Sekali lagi maafkan aku, mas.

Terimakasih untuk segalanya. Dari perempuan yang kamu panggil ''Wa''