Sahabat adalah orang yang mampu menjadi segalanya kapan pun dan dimana pun. Kala sedih kita berbagi tangis dengannya, kala jatuh cinta kita bertabur bunga dalam lapangnya hati, kala galau kita sisakan kusut pikiran untuk dikenang bersama. Susah, senang, tangis pilu dan gelak tawa, kita tak sungkan-sungkan untuk lalui bersama.

Namun sahabat, ada hal-hal yang ingin kukatakan. Hal yang sebetulnya sama sekali tidak ingin kukatakan, khawatir akan membuatmu sedih dan menjauh dari pelupuk mataku, khawatir hari-hari indah kita akan sirna begitu saja karena kata-kata ceroboh yang kuucapkan. Aku bimbang, katakan tidak ya. Dan akhirnya kumemilih untuk tidak mengatakannya, tetapi menuliskannya.

Sahabat, engkau selalu berbagi ceritamu denganku hingga mengabiskan banyak waktu bahkan seharian. Bukan aku tidak mau menyimaknya, namun kita seharusnya mulai sadar, bahwa waktu yang kita miliki di dunia ini sangat sedikit sekali. Jika kita habiskan untuk berbagi cerita yang itu-itu saja, kapan kita akan memperbanyak ibadah dan beramal yang akan menjamin kehidupan kita di akhirat kelak?

Kusadari bahwa aku pun ingin larut dan berlama-lama menjadi pendengar setiamu. Inginku rasakan juga apa yang kau rasa, sahabat. Ketika kita berlarut-larut dengan cerita yang cukup panjang, tak jarang kita abaikan kepentingan lain dan lalaikan kewajiban lain. Hatiku menjerit, tak kuasa ingin menyekat cerita-cerita yang seolah tak berpangkal dan tak berujung. Namun aku tak bisa apa-apa, aku tak tega mengatakannya padamu.

Sahabat, engkau selalu ingin pergi kemana pun bersama denganku. Kita melangkah beriringan, menebar gelak tawa, bergandeng tangan hingga membuat orang lain iri akan persahabatan kita. Jujur, aku bahagia dan bangga denganmu yang selalu menganggap bahwa diriku adalah hal berharga di hidupmu. Namun sahabat, tidakkah kau berangan bagaimana apabila suatu saat aku tiada? Ragaku maya di hadapanmu, genggaman tanganku tak mampu lagi bimbing dirimu yang lengah dan hampir terpeleset saat berjalan, langkahku lenyap dari sisimu.

Advertisement

Aku khawatir, sungguh-sungguh khawatir jika itu benar terjadi, kau sangat kehilangan diriku bahkan hingga tak mampu bepergian sendirian. Memang, aku tak ingin membiarkanmu pergi kemana pun sendirian karena banyak hal yang akan mengancammu ketika sendirian. Namun aku lebih tidak ingin kau menjadi orang yang penakut.

Sahabat, engkau selalu berharap tentang jodohmu yang taat pada Ilahi, yang mapan baik dari finansial maupun psikologis, yang berwawasan luas dan tampan. Tak munafik, aku pun demikian. Namun, kita seharusnya menyadari bahwa hal yang lebih baik bukan berharap, tetapi berusaha. Ya! Kita selalu berharap namun hampir lupa berusaha untuk memantaskan diri agar layak dipilih oleh sosok yang kita harapkan.

Ketika memantaskan diri pun, kita hampir lupa bahwa hakikatnya perubahan menjadi lebih baik itu hanyalah untuk mengharap ridha-Nya. Bukan semata untuk mendapatkan jodoh dengan kriteria yang kita idam-idamkan.

Sahabat, engkau bilang kita harus sukses bersama dan berhasil mencapai cita-cita. Namun dalam mengerjakan tugas kita masih leha-leha dan mengandalkan keajaiban "SKS" atau sistem kebut semalam. Tak lupa, kita juga masih malas untuk belajar jauh-jauh hari menjelang ujian. Inginku adalah kita bisa saling mengingatkan untuk belajar, tidak hanya engkau saja atau aku saja yang mengingatkan.

Apabila kita masih memelihara kebiasaan ini, apa yang mau kita ceritakan kepada anak cucu kita kelak? Kemalasan kita kah? Atau kemahiran menaklukan tugas dalam satu malam? Aku rasa tidak, sahabat. Karena itu adalah teladan yang kurang baik.

Sahabat, engkau kerap bilang tentang kekompakan dan kesetiakawanan kemudian menyandingkannya dengan perkara apapun tanpa sekat yang jelas. Aku pun hampir saja berpandangan demikian. Namun satu hal yang belum kita sadari, sahabat. Bahwa dua hal tersebut tidak berlaku untuk perbuatan tidak terpuji. Dalam hal-hal positif, sangat boleh dan sangat ingin bahwa kita bisa kompak. Namun untuk hal negatif dan tidak terpuji, bukankah kita tidak harus selalu kompak?

Karena masing-masing dari kita punya idealisme sendiri dan memang semestinya kita saling mengingatkan apabila keliru agar kembali kepada jalan yang benar, bukankah begitu? Sungguh sahabat! Aku hanya ingin kita kompak apabila dalam kebaikan dan hanya ingin diingatkan atau mengingatkan ketika salah satu dari kita keliru.

Demikianlah surat singkat ini, sahabat. Kuharap engkau dapat memaklumi harapan hati yang tak tega mengutarakannya secara langsung padamu. Semoga kita tetap menjadi sahabat yang bersama melangkah menuju pribadi yang lebih baik.