Dear Adik-adik kelas dua belas.

Dik.

Lewat tulisan ini aku hanya ingin berbagi sedikit cerita perjuanganku memasuki bangku kuliah.

Dimulai dari ujian nasional, hingga mengikuti sbmptn, juga berbagai umptn atau ujian mandiri perguruan tinggi negri.

Dik.

Advertisement

Jangan kau kira aku tak mengalami masalah saat awal-awal aku ingin kuliah, kau tahu? Aku mengalami banyak sekali kendala. Dimulai dari ketidaksetujuan Ayah dengan jurusan yang aku pilih, memaksaku untuk memilih jurusan sesuai keinginannya. Meski akhirnya setelah melalui perdebatan, juga usaha yang cukup sulit membujuk Ayah agar mau mengizinkan aku memilih jurusan sesuai keinginan yang aku mau, Ayah mengizinkanku untuk memilihnya. Psikologi, yah! Psikologi adalah jurusan yang aku pilih, mimpiku menjadi seorang Psikolog ternama dunia mulai terbuka kini melalui jurusan yang aku pilih ini.

Dik.

Aku juga mengalami banyak sekali kegagalan, banyak pil pahit yang telah aku telan juga rasakan. Dimulai dari kegagalan dalam SBMPTN 2016, kau tahu dik? Gagal dalam SBMPTN bukan hal mudah, fase berat yang harus aku lalui. Karena SBMPTN adalah harapan terbesarku, aku menaruh harapan begitu tinggi padanya. Kau tahu? Bahkan sebelum pengumuman itu aku percaya, percaya jika aku pasti lulus, namun nyatanya tidak. Saat pengumuman tiba aku dinyatakan tidak lolos, sakit sekali rasanya hati ini, air mataku menetes begitu saja tanpa dipinta. Kecewa? Jelas aku kecewa, kecewa entah pada siapa. Aku rasa usahaku telah maksimal, aku rasa aku sudah berusaha dengan begitu kerasnya, aku belajar hingga larut, aku berdoa tiap waktu, aku berdoa juga meminta usai melaksanakan shalat wajib juga sunah pada sang pencipta. Namun mengapa Allah tak mengabulkan doaku? Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang kurang dari usahaku ini Allah?.

Namun, dik.

Kekecewaan itu tak berlangsung lama, dengan segala kesadaran yang ada aku bangkit dari keterpurukan itu. Aku mulai kembali mendaftarkan diriku pada beberapa perguruan tinggi negeri yang masih membuka jalur mandiri, namun ternyata hasilnya masih tetap sama. Aku kembali gagal, entah itu kegagalan untuk keberapa kalinya.

Hingga akhirnya aku mengambil keputusan, satu keputusan besar dalam hidupku, keputusan yang sebenarnya tak ingin aku pilih, namun aku terpaksa memilihnya. Kau tau, dik? Keputusan apa yang aku ambil? Aku memilih untuk melepas mimpiku, mengakhiri satu tujuan mimpiku, salah satu diantara 3 mimpi terbesarku.

Awalnya memang itu bukanlah hal yang mudah untuk aku lalui, semua terasa sulit, hari-hari ku nampak murung dan tak seceria biasanya. Aku memilih mengakhiri satu tujuan mimpiku, karena aku sadar mungkin memang itu bukan yang terbaik untukku.

Aku memilih tetap disini, di kota ini melanjutkan semua disini, termasuk studi ku, aku memilih mengambil kuliah disalah satu universitas swasta yang ada di kotaku. Hukum, yah! Ilmu hukum adalah prodi yang aku pilih, aku memilih melanjutkan mimpi keduaku, mimpi kedua untuk menjadi pengacara besar, pengacara ternama.

Dik.

Lewat tulisan ini aku hanya ingin kalian tahu, kalian paham juga, mengerti bila memperebutkan satu kursi perguruan tinggi negri bukanlah hal yang mudah. Jika kalian memang memiliki ambisi besar, untuk menjadi salah seorang yang namanya tercatat pada salah satu perguruan tinggi negri maka berjuanglah dik.

Berjuanglah, lakukan usaha lebih keras dari yang aku lakukan, manfaatkan waktu kalian dengan sebaik mungkin. Persiapkan segala sesuatunya dengan baik, prioritaskan tujuan mulai saat ini, kenali medan perang yang akan kalian lalui jauh lebih dalam lagi.

Dik.

Jika kalian tak ingin menelan pil pahit, juga kegagalan seperti yang aku rasakan maka berjuanglah lebih keras lagi dik. Mulailah mencari informasi tentang perguruan tinggi negeri yang kalian incar, selain itu belajar dan berdoalah lebih giat lagi. Ingatlah dik, jika kalian tetap memilih bersikap santai juga malas belajar maka ribuan saingan kalian diluar sana tengah berjuang untuk wujudkan mimpinya.

Dik.

Jangan berharap jika kalian tak ingin berjuang, jangan berharap jika kalian tak ingin berusaha.