Memiliki tanggungjawab lebih merupakan sebuah berkah, Kami, para lelaki, akan dengan senang hati mengemban kalian para wanita idaman kami untuk bersama menjalani hidup. Untuk bersama menata cinta serta membesarkan keturunan-keturunan kita.

Menyempurnakan agama yang sama-sama kita yakini. Kemudian dengan penuh harap dan kepasrahan, memohon kepada-Nya untuk selalu memberikan keberkahan dan kebahagiaan. Baik dari seluruh sifat kalian yang menyenangkan, maupun hal-hal menyebalkan yang sesekali kalian tunjukkan.

Wanita, percayalah, kami tidak pernah satu kalipun berniat untuk menjalin hubungan yang main-main. Kalian selalu menjadi prioritas.

Selalu masuk ke dalam daftar doa harian kami. Menjadi angan saat sebelum kami terlelap. Membayangkan betapa bahagianya kita menimang bayi kita, mengatasi anak-anak kita yang tengah merajuk, atau bertamasya dengan bekal seadanya dan senyuman paling bahagia.

Wanita, percayalah, setiap kali kita berbincang, entah tentang hal remeh-temeh, kehidupan seharai-hari, atau topik serius semisal inflasi di Yunani atau perang Timur Tengah, kami, para lelaki, terus-menerus dibuat kagum. Oleh bagaimana kalian menyikapi itu semua.

Membuat hidup serasa begitu seimbang dan terasa ringan. Kami akan mengembangkan senyum simpul sambil bersyukur betapa beruntungnya kami bisa menempati sebuah ruang kecil di hati kalian. Menjadi salah satu sumber bahagia kalian.

Wanita, percayalah, bukan satu dua kali kami ingin dengan segera meminang. Dengan segera memulai halal diantara kita.

Advertisement

Pernah suatu waktu, kami tidak memikirkan tentang usia, tentang kesiapan mental, tentang bagaimana hubungan keluarga kita, yang ada hanya kami merasa begitu siap untuk menjadi seorang suami. Semua laki-laki akan melewati masa-masa itu.

Wanita, percayalah, kemudian engkau hadir. Tanpa tedeng aling-aling merasuk dalam hari-hari kami yang telah lama menyandang sepi.

Kalau bukan karena keajaiban dan bukti cintaNya kepada kita, kami yakin, kita tidak akan pernah bertemu. Tidak akan pernah memulai percakapan kita yang kikuk dulu. Bagaimana kami mencuri-curi pandang melihat paras kalian. Bagaimana berantakannya perasaan kami saat tidak mendengar kabar apapun dari kalian. Tentang cerita pertemuan kita.

Wanita, percayalah, kami tidak akan pernah mampu menemukan pengibaratan yang tepat untuk menggambarkan betapa kalian adalah yang kami mau. Tidak ada hal yang bisa menyamakan perasaan ini.

Wanita, percayalah, bahwa kami sudah siap menjalani ikatan suci. Menjadi imam yang selalu belajar untuk kalian. Menjejaki proses kesiapan batin yang begitu menggejolak. Yang mampu membuat kami keringat dingin dan gugup saat membahasnya. Yang mampu melambungkan mimpi kami. Menyelinap dan berbuah menjadi usaha untuk melengkapi hidup kalian.

Wanita, percayalah, selalu ada rona-rona bahagia saat kami mengenal keluarga kalian lebih dalam dan sebaliknya. Merasakan seperti ada kenyamanan lain yang menggelanyar di dalam tubuh. Seperti sebuah sinyal yang mengatakan bahwa ini adalah akan menjadi sebuah rutinitas lain beberapa waktu ke depan.

Wanita, percayalah, di atas itu semua, kami akan selalu siap menjadi Imam untuk kalian.