Rabu malam tepat jam 21.35 wib aku cemburu. Luar biasa sekali perih dihatiku, ingin marah padamu, ingin mengacuhkanmu. Tapi, aku tahu kau pasti akan menganggapku kekanak-kanakan lagi. Rabu malam, lancang sekali hatiku cemburu padamu. Padamu yang entah siapa baginya. Lagipula, hatiku saja yang terlanjur mengokohkanmu sebagai miliknya.

Stupid heart stop it now, makiku. Salahku aku cemburu padanya, hatiku yang naif bertanya. Kau tidak salah, cuma terlalu kekanak-kanakan. Bukankah pernah kukatakan dan kupatri dibenakmu bahwa jika dia ditakdirkan sebagai takdir hidupmu tiada yang mampu memisahkan. Lalu, kenapa sekarang kau bersikap seperti anak-anak? Bukankah dia menyuruhmu untuk bersikap dewasa?

Lelaki itu terlalu pandai dan mungkin teramat licik bagimu, buktinya sentuhannya cukup ampuh membuatmu melayaninya sebagai hati. Sebagai hati. Sial sekali nasibku, pekik suara hati. Bersabarlah, tuhan hanya ingin kau lebih bersabar lagi. Bukankah tuhan selalu menyediakan bahu untuk bersandar ketika patahmu beratus kali pun? Suara lain mencoba menenangkan. Kau takkan tau bagaimana sakitnya mencoba menangis ditengah kesedihan dan kau tidak bisa menangisi kesedihan itu.

Kamu, kamu, kamu, kamu. Berjuta kali kucoba menghilangkanmu dari ruang hati. Tuhan selalu menghadirkanmu ketika aku sudah mampu lupa siapa kamu. Aku tak tahu skenario apa ini? Kamu! Kepribadianku mulai semakin menjadi naif, senaif rasa ragu dan yakin yang terbungkus dengan rapi dalam benakku. Senaif tingkahmu yang pura-pura tangguh di depanku. Selicik tingkahmu yang pura-pura tak tahu semua kerinduanku.

Senaif harapan yang masih saja ada di ujung logika cinta. Senaif hati yang tetap juga mempercayai hadirmu suatu hari nanti. Senaif ketegaranku yang tinggal menunggu waktu saja untuk lapuk. Logikaku berusaha menghadapi hatiku. Berusaha mengontrol tingkahnya yang semakin naif. Sebab sekali hati mulai menguasai, aku cemas kegilaan apa yang bakalan ia lakukan. Sekuat apapun mengendalikan hati, tetap tak mampu.

Advertisement

Bagaimanalah? Jika penyebab sakit dan obatnya berada dalam wujud yang sama: kamu. Kamu yang seharusnya sudah menghilang 10 tahun yang lalu. Kamu yang seharusnya sudah berbahagia atau berpura-pura bahagia dengan kekasih baru dan siapalah, aku tak peduli. Kamu yang seharusnya berlari menjauhiku ketika aku memintamu kembali. Kamu yang seharusnya tidak menyulam rasa cinta di hati kembali. Kamu kamu kamu kamu. Kau tahu sekarang aku mencemburui angin, selimut, mereka, dia, dan semua yang berada tepat di sampingmu saat ini.

Aku membenci mereka semua, berani sekali mereka menyentuh bahkan menghangatkan hatimu di saat aku terhalang tembok paling tinggi ini. Menyebalkan sekali, kenapa jarak semakin hari semakin menjadi-jadi. Memuakkan sekali, hatiku semakin mengharapkan kau hadir saat ini, memelukku, membelai rambutku, mencium pipiku, dan menggenggam tanganku.

Sial, seharusnya aku menghapusmu kenapa malah aku mengenangmu. Jika kau membaca ini ahhh anggap saja keluhanku saat tidak bisa mengontrol hati. Ah terserahlah apa yang kau pikirkan setelah membacanya. Dan sekarang kecemburuanku mencapai level paling atas, ingin sekali mencabik-cabik jubah waktu. Ingin sekali berlutut dan memohon pada pemilik hati, "mohon singgahlah kembali pada keningku. Dan jam 22.00 wib waktu di kotaku, kecemburuanku lambat laun mulai mereda.

Hatiku kembali bisa mengontrol emosinya, lalu suara-suara lain mencoba menghiburnya "tidak perlu menyimpan segala risau dalam kepala, jika semesta memutuskan dia menjadi topik utama dalam ceritamu tiada yang mampu merubahnya. Kamu. Kamu. Iya kamu. Bisakah sesekali berhenti menjadi tebing paling tinggi, dan turunlah ke pangkuan bumi. Sesekali katakanlah "aku juga merindukanmu" aku juga butuh itu. Sepenggal keluhan dalam susunan kata yang menunggu.