Menulis surat bukan hal yang sering aku lakukan. Terlebih jika harus menulis untuk laki-laki yang mempertaruhkan hatiku di atas komitmen tak berjudul. Jadi, jika surat ini menganggu hatimu dan mungkin merusak rencana masa depanmu, katakan saja. Aku tidak takut bila harus kehilanganmu (lagi).

Bukan satu atau dua tahun. Hampir sewindu waktu yang kuhabiskan berjalan beriringan denganmu. Aku masih tidak pernah kehabisan rasa. Waktu tidak lagi jadi tolak ukur dari sebuah hubungan untukku. Terlalu lama berkutat dengan hatimu sudah jadi kebiasaanku sejak hampir sewindu yang lalu. Kedatanganmu dulu tidak pernah jadi pertanda bahwa akhirnya aku jatuh cinta dalam ikatan tak berjudul. Anehnya, aku tenang dan menikmati setiap waktu yang mengalir ringan bersamamu. Sihirmu sudah terlanjur jauh mempengaruhi pandanganku tentang cinta.

Kita pernah bertemu di satu waktu. Kamu dengan wanitamu dan aku melanglang buana dengan lelakiku. Pertemuan itu menyisakan luka. Tatapanmu malam itu menyiratkan kecewa. Tanpa kata. Hanya jeda lama yang menyadarkanku bahwa kita sudah berjalan terlalu jauh. Air mataku jatuh tanpa suara. Tangan lain yang menggenggamku malam itu, tak mampu menutupi apa yang aku yakini yaitu luka. Kita terluka atas kesepakatan tanpa ikatan yang akhirnya menjatuhkan.

Seperti pertemuan yang tidak pernah tahu diri, perpisahan pun berjalan beriringan dengan waktu.

Masih membekas di ingatan. Di malam kamu menjatuhkan vonis yang membuat hatiku jauh dari kata baik-baik saja.

Advertisement

"Lepaskan. Tidak ada gunanya bertahan di hubungan tanpa ikatan. Kamu yang akan paling terluka, sementara aku biasa aja."

Dikhianati tidak sebanding dengan menyadari bahwa aku bukan yang kamu cari. Pernah jatuh cinta terlalu lama hingga lupa rasanya jatuh cinta? Itu yang kamu rasakan. Terlalu lama mengikat diri tanpa judul membuatmu jengah. Membuatmu nyaris menyerah dan mengangkat tangan tanda tak ingin lagi berusaha. Aku tidak mempertahankanmu. Tidak ada gunanya berdiri untuk orang yang terlalu suka duduk.

Namamu hanya kusebut sesekali dalam doa. Mungkin pada akhirnya, aku disadarkan oleh waktu. Bahwa tidak bisa mengutuk hubungan yang berakhir tanpa pernah dimulai.

Kita adalah bukti nyata bahwa cinta bisa kadaluarsa. Mereka pasti tidak percaya. Cinta itu pernah mampir di antara dua hati yang tidak pernah diikat dan tidak saling memiliki. Cinta itu pernah jadi satu-satunya nyawa yang berdetak saat kita terlalu mati rasa untuk mengakuinya. Kita adalah bukti nyata bahwa waktu tidak bisa jadi tolak ukur sebuah perasaan. Kita adalah bukti nyata bahwa ternyata hubungan perlu diberi tenggat waktu. Hubungan perlu diberi judul.

Jadi, kita sudah gagal. Setidaknya itu yang aku percaya dan kamu tau.

Perpisahan itulah bukti nyata, bahwa terkadang mereka harus berpisah untuk tahu lebih baik bersama. Perpisahan terakhir kita yang menyisakan luka dan berakhir drama menjadi saksi. Bukti nyata itu ada di sana, menunggu untuk kita akui hadirnya. Semakin jauh kamu berlalu, semakin dekat aku sadari keberadaanku. Semakin sering aku berlari, tidak kusadari bahwa kamu terus mengiringi. Jika kamu mau percaya, ini adalah takdir. Jika kamu tidak mau tahu, aku juga tidak akan berusaha untuk peduli. Aku tidak pernah takut kehilanganmu.

Kita ibarat dua kutub magnet yang berbeda. Sekeras apapun berlari, kita akan selalu ada di dalam orbit masing-masing. Mungkin itu alasanmu berhenti menghindar. Karena kamu lelah menolak takdir. Atau karena aku mulai bersikap masa bodoh dan membuatmu penasaran?

Jadi, laki-laki yang kembali dipertemukan oleh takdir denganku dan sedang berjuang untuk membuktikan pada waktu bahwa kali ini kita akan menang, maukah kamu bertahan? Apapun halangannya?