Selamat malam, Mah, Pah..

Ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan lewat tulisan ini. Mungkin kalian menganggapku seorang yang pengecut, tak berani menyampaikannya secara langsung. Aku hanya takut perkataanku akan melukai hatimu.

Aku tak ingin melihat kalian kecewa atas apa yang aku katakan. Namun aku pun tak mampu jika harus memendam perasaan ini. Berlarut pada sebuah kebimbangan akan arah langkah yang harus aku jalani. Maka, hanya dengan cara ini aku mampu menyampaikannya pada kalian.

Hari ini, genap 20 tahun sudah aku menjalani kehidupan. Selama itu pula kalian merawat dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Aku sangat beruntung terlahir dari rahim seorang ibu yang sangat menyayangiku.

Tak pernah aku berhenti bersyukur atas takdir Tuhan yang telah menitipkanku pada seorang laki-laki dan wanita terhebat bagiku. Ialah kalian, yang ku kenal dengan sebutan Mamah dan Papah.

Advertisement

Aku mengerti pentingnya masa depanku untukmu. Aku pun tak lupa tetesan keringatmu adalah upaya untuk membuatku bahagia. Kalian memang selalu inginkan yang terbaik bagiku. Termasuk dalam urusan karir.

Profesi memang menjadi penentu utama masa depan finansialku. Tak terbantahkan lagi bahwa tujuanku menuntut ilmu adalah untuk kebebasan finansial yang diperoleh dengan berprofesi sebagai apa dan menerapkan ilmu apa.

Namun, bolehkah kali ini aku sedikit membantah pendapat kalian,Mah, Pah? Kalian selalu melakukan intervensi untuk menentukan apa yang harus aku pilih. Aku mengerti, hal itu kalian lakukan agar aku memiliki masa depan yang lebih baik.

Tapi tidakkah kalian peduli akan pendapat dan pandanganku yang berbeda dengan pendapat kalian? Pilihan yang kalian berikan memang sangat bagus untuk masa depanku kelak. Namun jika pilihan tersebut tidak sesuai dengan passion dan skill yang aku miliki, apakah aku harus menuruti?

Maafkan aku, aku memiliki pandangan yang berbeda akan masa depanku.

Mengertilah Mah, Pah..

Masa depanku tak perlu kalian dikte. Aku yang tahu akan kelebihan dan kekuranganku sendiri. Mampu atau tidak mampu untuk aku menghadapi semua tantangan itu hanyalah dari diriku sendiri. Yang aku butuhkan hanyalah dukungan atas keputusan yang aku ambil.

Aku mengerti, orang tua memang memiliki kewajiban untuk turut serta dalam menindak lanjuti setiap aspek kehidupan anaknya. Namun kewajiban tersebut sebatas peran untuk memberikan masukan dan nasihat berdasarkan pengalaman, agar aku tidak terjebak dalam pandangan dan prinsip hidup yang salah.

Saat aku masih menjadi putri kecilmu, dengan penuh kesabaran kalian ajarkanku melangkah, berjalan, hingga aku mampu berlari. Dan kini, biarkanlah aku berlari mengejar cita-citaku sendiri.

Ku pastikan, aku bisa meraih sukses dengan caraku. Tak perlu kalian khawatir. Duduk manislah. Tunggu kabar bahagia dariku.

Sebuah kata bijak dari Khalil Gibran yang mungkin baik untuk kita renungi.

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri

Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu

Meskipun mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka, engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu

Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka

Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu

Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi

(Khalil Gibran)

Beribu terima kasih aku ucapkan atas kasih sayang dan pengorbanan yang tiada henti kalian berikan. Meski aku tahu, hal itu tidak cukup untuk membalas semua jasamu. Bahkan bongkahan emas dan berlian pun masih sangat kurang untuk mengganti apa yang telah kalian berikan untukku. Maafkan aku, kali ini membantahmu.

Dariku,

Yang selalu kalian banggakan