Dear Mama,

Mungkin Mama tidak akan pernah bisa membaca ini semua. Namun izinkan aku mengungkapkan dua kata.

Pertama, Makasih Ma sudah berjuang selama sembilan bulan dan melahirkanku di dunia. Aku masih ingat waktu itu. Aku pernah bertanya ke Mama, apakah saat melahirkan aku rasanya menyakitkan? Apakah saat berjuang mengeluarkan aku, nyawa Mama hampir melayang? Apakah Mama berteriak kencang karena tendanganku menyiksa Mama terus-menerus?

Mama hanya menggelengkan kepala, bahkan masih bisa tersenyum membalas. Bahwa sakitnya saat perut Mama kontraksi. Bahkan ketika mengejan dan mengeluarkanku, tidak ada rasanya. Ketika mendengar tangisku pecah, semua keringat, dan juga hembus napas yang hampir sekarat itu bahkan sudah Mama lupakan bagaimana rasanya. Hanya demi aku lahir selamat. Bahkan ketika saat itu langsung terkapar lemas, Mama masih tersenyum dan membelaiku lembut untuk pertama kali.

Padahal Ma, aku melihat banyak di luar sana ibu yang meninggal dunia ketika melahirkan bayinya. Padahal sebelumnya, mereka sehat saja Ma. Tapi karena mengandung, mereka berpotensi meninggal. Ada yang rahimnya hilang kontrol atas kontraksi sehingga perdarahan dimana-mana. Ada pula yang mendadak kejang, Ma. Bahkan seakan tidak peduli usia dan kastanya, semua ibu kulihat nyawanya dapat meregang kapan pun karena melahirkan. Aku sadar, Ma. Ternyata saat itu, Mama sebenarnya bertarung nyawa untukku. Makasih ya, Ma! Karena tanpa Mama, aku tik akan pernah hidup. Makasih Mama telah berjuang hidup dan tidak meninggalkanku saat itu.

Advertisement

Mama bahkan rela tak kembali bekerja untuk memberiku ASI hingga tamat ekslusif enam bulan. Aku tahu, saat itu aku hanya bayi kecil yang merepotkan. Saat itu, aku hanya bisa menangis. Entah karena aku lapar atau sekadar tidak nyaman karena air kencing membasahiku. Mama terbangun kapan pun aku menangis. Mama pun kurang tidur ketika aku kecil dulu.

Setiap aku melihat ibu muda merawat bayinya dengan kerepotan, aku ingat Mama. Pasti Mama lebih kerepotan saat hidup kita masih sangat sederhana. Mama bukan hanya harus merawatku, tapi juga mengerjakan banyaknya pekerjaan rumah tangga yang lain. Bahkan Mama harus berbagi perhatian ketika pekerjaan kantor memanggil kembali.

Aku masih penasaran, Ma. Bagaimana bisa Mama berjuang merawat kami semua? Jumlah kami banyak dan jarak kelahiranku dengan saudara yang lain hanya dua tahun. Aku tidak dapat membayangkan, setiap pergi ke pasar Mama membawa kami semua dengan tangan Mama. Mama tidak meninggalkan kami di rumah karena tidak ada yang menjaga kami. Mama bahkan pernah bilang, berpergian dengan kami semua itu wisata yang hebat. Walaupun itu hanya sekadar ke pasar atau ke perpustakaan. Makasih ya, Ma untuk semua pengalaman masa kecil yang Mama bagi.

Kedua, aku mau bilang maaf Ma. Aku masih ingat dengan jelas ketika aku beranjak dewasa. Aku mulai dapat berbicara, bahkan jadi banyak bicara. Semua omongan Mama yang harusnya hanya kudengar saja, acap kali kubalas, kusanggah, bahkan kuacuhkan. Padahal saat itu, Mama hanya ingin didengarkan. Aku bahkan sering acapkali membalas dengan "Nanti Ma, nanti, dan nanti" yang Mama sudah tahu bahwa aku tidak mengerjakan hal itu dengan maksimal.

"Kamu kecil dulu belum bisa ngomong, mama ajarin. Tapi sekarang udah banyak ngomong, banyak alasan."

Maaf, Ma. Aku terlalu mencari banyak alasan ketika Mama meminta mengerjakan hal-hal yang sebenarnya demi kebaikanku. Ketika Mama menyuruhku rajin belajar supaya tidak ada nilai jelek di raporku, aku lebih memilih untuk bermain dengan teman-teman. Kan Mama tahu sendiri, masa SMA itu masa terseru dan terindah. Jadi, apa salahnya aku bersenang-senang saat itu?

Ternyata aku salah, Ma. Semua hal sederhana yang Mama minta adalah supaya aku diterima di universitas dengan jalur PMDK. Tapi aku tak menghiraukannya. Akhirnya aku harus berjuang di jalur ujian nasional dan bersaing dengan lebih banyak siswa. Maaf ya, Ma. Aku telah mengabaikan Mama saat itu.

Bahkan ketika Mama menyuruhku rajin makan dan tidak terlambat makan. Ternyata itu supaya aku tidak mudah sakit. Ketika Mama melarangku membeli jajanan jalanan yang kusuka, aku hanya marah karena toh ini perut aku dan aku bebas makan apa aja. Ternyata benar yang Mama bilang. Ketika badanku panas seminggu, dokter bilang aku terkena tipes. Itu karena pola makanku yang berantakan. Maaf ya, Ma. Andai aku menuruti yang Mama sarankan.

Mama nangis sesenggukan. Padahal aku cuma dirawat karena tipes.

Ketika di bangku kuliah dan berjuang untuk skripsi, Mama masih saja bawel menanyakan kapan aku akan mengerjakan skripsi. Jika dokter meminta pasien minum obat sehari tiga kali, maka saat itu Mama lebih dari dokter. Mama bisa menanyakan lebih dari tiga kali dalam sehari. Maaf, Ma. Saat itu, aku bosan ditanya terus. Ada titik di mana aku ingin bebas dari pertanyaan Mama yang membosankan itu. Namun Ma, maafkan aku karena baru sekarang kusadari. Tanpa pertanyaaan Mama, skripsiku tidak akan pernah selesai.

Ternyata benar yang Mama bilang kalau hal tersulit itu bukanlah memulai sesuatu tetapi menyelesaikan apa yang sudah kita mulai.

Maaf ya, Ma. Betapa Mama sudah panjang berpikir bahwa aku harus lulus agar mudah diterima kerja. Padahal Mama tidak paham sama sekali pelajaran atau mata kuliahku. Namun Mama tidak ada hentinya menyemangatiku. Aku beruntung saat itu aku berada di dekat Mama, satu rumah dengan Mama, dan ada Mama terus di sampingku ketika masa-masa berat berdatangan. Mama bahkan ikut bergadang kalau ujianku datang, sembari membuatkanku susu hangat dan mengajakku bercanda.

Tapi tahukah, Ma? Itu bikin aku tidak belajar karena aku lebih suka untuk bercanda dengan Mama. Melihat Mama bisa tertawa atas lawakan sederhanaku saja sudah membuatku senang. Beberapa rekanku yang lain harus merantau untuk melanjutkan sekolahnya dan berjauhan dengan ibu mereka. Beruntung kecanggihan zaman sudah berubah sehingga setiap hari mereka masih bisa mendengar suara merdu ibu mereka. Maaf ya, Ma. Mungkin kata-kataku pernah menyakiti Mama saat itu. Maaf karena tidak seperti yang lain lulus dengan nilai sangat memuaskan dan tepat waktu. Perwujudan maaf sudah kubayar lunas dengan memeluk Mama erat ketika aku lulus ya, Ma.

Sekarang aku sudah bekerja, Ma. Walau jauh dari Mama, setiap hari suara Mama masih terdengar melengking indah. Petuah-petuah Mama tidak pernah bosan kudengarkan. Juga cerita-cerita Mama, walau sebenarnya Mama sudah pernah menceritakannya berulang kali. Aku beruntung masih bisa denger suara Mama. Sementara banyak temanku yang Mamanya sudah duluan pergi dan hanya berkirim doa saja setiap hari. Ma, kalau nanti aku jadi ibu, berjanjilah Mama gak akan bosan menemani aku ya! Ajari aku cara menjadi ibu hebat seperti Mama.

Karena kepadamu lah akhirnya aku kembali Ma.