Dunia, emang cuma panggung sandiwara. Ada yang sutradara, ada yang jadi aktor.

Dari dulu, kakek nenek kita udah bilang begitu. Walau ada sebagian kita yang ngotot. Untuk membuktikan bahwa dunia bukan panggung sandiwara. Seolah dunia sangat mudah ditaklukkan, mudah digenggamnya. Ya boleh-boleh aja. Silakan dan kita doakan saja semoga berhasil. Ya gak?

Dunia, emang cuma panggung sandiwara.

Manusia, kita ini para pemainnya. Aktor istilah kerennya. Bumi tempat kita berpijak sebagai panggungnya. Dan Allah sebagai sutradaranya. Karena panggung sandiwara, ceritanya pun bermacam-macam. Peran pemainnya juga beda-beda. Ada yang jadi Presiden, ada yang jadi rakyat. Ada yang jadi penonton, ada yang kerjanya kasih komentar. Bahkan, ada yang marah-marah melulu kerjanya. Macam-macam ada deh. Kayak jajanan pasar, apa aja ada di dunia. Ahh, dunia emang cuma panggung sandiwara kok. Seperti pertunjukkan yang sedang ditonton, toh nanti ceritanya juga akan berakhir.

Namanya juga panggung sandiwara. Gitu deh.

Advertisement

Yang jadi aktor, tugasnya main yang optimal. Sesuai peran masing-masing. Tapi yang paling enak ya jadi penonton, sambil nonton bisa protes, bisa kasih kritik. Boleh marah-marah. Namanya penonton. Jika perlu alur cerita yang dibikin SUtradara juga maunya diubah ama penonton hehe. Hebat banget sih penonton. Si Aktor yang jadi Presiden sudah ambil keputusan juga masih nyinyir aja. Gak suka ama orangnya, apa gak suka ama keputusannya sih. Ketus mulu. Pala berbier jadi pucing pucing pucing …..

Oh ya, kita udah sepakat belum nih. Kalo dunia itu panggung sandiwara?

Kalo sepakat, berarti kita sadar bahwa Sutradara kita adalah Allah. Iya gak? Maka Allah punya kuasa penuh atas adegan-adegan para aktor pada setiap episode kehidupan. Karena naskah hidup kita sudah ditentukan Allah. Nah kalo gitu, kenapa kita protes dan marah-marah. Bisa gak sih kita realistis, menerima apa yang terjadi sambil membuat perbaikan yang kita bisa aja. Keren khan kalo begitu?

Bukankah kita cuma diposisikan Allah untuk melakoni peran kita dengan sebaik-baiknya. Jalani saja sesuai peran kita. Ingat, ini semua sandiwara Ilahiah, skenario udah ada di Lauhul Mahfuz.

Sayang beribu sayang, memang. Kita yang memilih peran. Atau menambah peran tapi masih suka tidak puas pada pilihan sendiri. Kita sering gak puas pada adegan dan episode kehidupan kita sendiri. Akhirnya, kita kecewa, menggerutu. Berkeluh kesah lagi pada sang Sutradara. Kita yang mau agar semuasnya sesuai dengan keinginan kita.

Ahh, namanya juga panggung sandiwara.

Baik atau tidak baik, suka dan tidak suka. Itu lumrah dan bagian dari skenario kok. Bahagia atau kecewa pasti kita alami kok. Semuanya silih berganti. Sebagai pemain, kalo kita dapat peran menyenangkan ya cukup lakonin aja. Tapi kalo dapat peran tidak menyenangkan, ya kita diminta untuk ikhlas dan ridho. Itu saja. Dan gak usah menuduh yang macam-macam. Kan udah ada di skenario-Nya.

Lha terus, di atas panggung sandiwara kita jadi ngapain dong?

Iya, jalani aja peran kita dengan sebaik-baiknya. Peran jadi rakyat, jadi pejabat atau jadi presiden sekalipun. Dunia kan cuma panggung sandiwara. Cuma sebuah pertunjukkan di bawah skenario Allah. Gak usah saling menghujat atas peran pemain yang lain. Karena kita juga belum tentu baik dan benar di posisi pemain lain. Ngejalanin peran kita aja juga belum tentu benar. Apalagi peran orang lain.

Ahh, dunia emang cuma panggung sandiwara.

Hiruk pikuk boleh, asal gak kebablasan. Rame, ribut boleh asal jangan terus-terusan. Mendingan kita jalanin peran kita aja. Biar lebih baik dan benar. Kan kita cuma di panggung sandiwara. Tinggal kita yang pilih, mau ke tangga surga atau neraka. Mau jadi good actor or bad actor. Namanya juga sandiwara, sebentar lagi juga layar panggung ditutup, pemain pulang ke akhirat dan penonton sepi lagi.

Ahh, dunia emang cuma panggung sandirawa. Kalo cerita di atas "panggung sandiwara" berakhir, emang para aktor mau ngapaian? Gak bisa ngapa-ngapainlagi, alias meninggal dunia …. #BelajarDariOrangGoblok