Banyak di antara kita anak-anak atau pun kalian sendiri yang merasa malu bahkan gengsi mempunyai ibu yang fisiknya kurang sempurna, mempunyai penyakit yang menjijikan, dan mempunyai sifat yang buruk atau karena ibu kita banyak digosipkan keburukannya oleh orang lain. Wajar jika kalian malu atau bahkan marah pada diri sendiri kenapa saya dilahirkan oleh ibu seperti dia.

Akan tetapi, apakah wajar jika rasa sakit saat ibu melahirkanmu dan rasa lelah saat ibu merawatmu hingga dewasa ini kau balas dengan kebencian, hanya karena satu kesalahan ataupun kekurangan pada ibumu?

Bahkan jika kamu terlahir cacat dan banyak teman yang menggunjingmu, aku yakin ibumu tidak akan pernah menjauhimu sejengkalpun. Dia akan tetap menerimamu bahkan memujimu sebagai anak yang hebat, cantik atau tampan dan pintar. Saat kamu menangis, dia akan sigap memelukmu dan menanyakan siapa yang telah menyakitimu. Bahkan saat kamu sakit pun, dia dengan rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk tetap menjagamu hingga malam hari. Karena ibu tahu kamu sangat berharga untuknya dengan menerima segala kekuranganmu.


Aku tahu setiap ibu tidak ada yang sempurna, karena kita hanyalah manusia yang jauh dari kata sempurna.


Begitupun sebagai anak pasti menginginkan ibu yang baik, hebat intinya membanggakan, begitupun sebaliknya. Namun, apa salahnya jika ada seorang anak yang mempunyai ibu tidak seperti yang diinginkan oleh kebanyakan orang. Bisa karena ibu tersebut mempunyai kekurangan fisik, mempunyai penyakit, bahkan mempunyai keburukan. Tapi bukankah ibu adalah orang yang membuat kita bisa ada di dunia ini.

Advertisement

Lalu apakah salah dia mempunyai fisik buruk maupun masa lalu buruk ataupun keburukan yang belum terbersihkan sampai sekarang? Memangnya kita sudah sesempurna apa? Kok bisa mencap seperti itu ke ibu kita sendiri atau ke ibu orang lain. Bukankah fungsi dari sebuah keluarga adalah saling menguatkan, saling mengingatkan dan saling mendoakan.

Memang menyakitkan dan memalukan ketika ibu kita dihina bahkan digosipkan sana sini karena keburukan yang pernah terjadi, padahal sekarang dalam proses menuju kebaikan. Bukankah tugas sebagai anak, ketika ada ibu kita diperlakukan seperti itu kita harus menguatkannya. Baik dengan cara mendengarkan keluh kesah ibu, hambatan apa saja pada saat proses perubahan menuju baik itu, dan yang paling penting adalah jangan sampai membencinya karena malu mempunyai ibu seperti itu. Bukankah itu adalah kesempatan untuk kita agar bisa berbakti kepada ibu?


Bukankah doa orang yang sholeh atau sholehah pasti diijabah oleh Allah?


Biarlah orang lain bilang apa tentang ibu kita, itu urusan mereka. Kita hidup untuk mengejar surga bukan mendengarkan maupun memusingkan omongan mereka. Tahu kan bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu? Bukankah kalo kita berbakti kepada ibu dalam keadaan apapun, itu namanya sudah berbakti. Bukan dengan cara malu ataupun membenci.

Mungkin ada yang pernah lelah bahkan menyerah untuk mengingatkan ibu kita pada kebaikan. Di situlah kita diuji lagi seberapa besar bakti kita pada ibu. Karena yang bisa merubah karakter orang adalah Allah, kita sebagai hamba hanya mampu berdoa dan mengingatkan biarkanlah Allah yang mengetuk pintu hatinya. Bukankah kesabaran itu tidak ada batasnya dan keikhlasan itu tidak ada wujudnya. Jadi jangan sampai menyerah untuk mengingatkan dan mendoakan karena kita tidak tahu mana doa-doa yang akan terkabul. Meski lelah, marah, menyerah, tetaplah semangat berbuat kebaikan meski itu hanya mendoakan hingga akhir hayatmu agar hidupmu tak sia-sia.

Aku mohon kepada kalian yang masih mempunyai orang tua begitupun saya salah satunya ibu di dunia ini, janganlah kita menyakiti perasaannya apalagi ibu. Janganlah sampai kita melukainya hingga membuat air matanya mengalir deras. Karena kita tidak tahu betapa sakitnya mereka ketika melahirkanmu dan betapa lelahnya mereka merawatmu hingga dewasa ini. Bukankah ibu kita lebih penting daripada orang lain?

Cintailah dan sayangilah ibu kita sepenuh hati. Karena mereka mencintai kita apa adanya, tanpa sebab dan akibat bahkan tanpa syarat yang tersirat. Bahkan doa mereka apalagi ibu selalu mengalir untuk kita meski kita selalu membuat air matanya mengalir terus. Damaikanlah hati kalian karena kita keluarga, berjuang untuk menyatukan bukan memisahkan apalagi menghancurkan. 

Masihkah kamu menunggu waktu untuk meminta maaf kepada ibumu? Masihkah kamu malu mempunyai ibu seperti ibumu? Masihkah kamu membencinya karena mereka membicarakan ibumu? Masihkah kamu membiarkan ibumu terluka karenamu?

Jangan sesali. Jika esok ataupun nanti kau tak bisa bertemu dengannya lagi, untukmu yang dekat dengan ibu, peluklah dan minta maaflah. Untukmu yang jauh dari ibu, hubungilah dan minta maaflah. Karena kebahagiaan ibumu hanya satu yaitu ketika kamu masih setia menerima ibumu sebagai ibumu.