Aku teringat akan masa-masa dulu ketika merangkai mimpi bersamamu. Membayangkan indahnya masa depan jika kita akan bersama kelak pada suatu saat. Namun akhirnya kini Allah telah memberikan jawabannya. Kini kau telah bersanding dengan orang lain. Seolah tiada lagi yang bisa aku lakukakn. Aku pun harus mengikhlaskanmu, walau berat namun aku mencoba percayai bahwa kau memang jodohku. Serta aku harus percaya pula, bahwa memang dialah yang terbaik untukmu.

Aku masih sering mengingat masa-masa dimana kita dulu sering bercanda bersama. Tahukah engkau, banyak tempat di dunia ini yang seolah sengaja mengingatkan kebersamaanku denganmu. Hal itu karena, begitu banyak hal yang telah kita lalui bersama di tempat-tempat itu.

Banyak pula suasana-suasana yang aku lalui yang membersitkan dirimu di lamunanku. Semua itu membuka lembaran-lembaran memori indah yang masih tersimpan rapi di fikiranku. Hingga sering pula aku berfikir, kenapa kini kau malah bersanding dengan orang lain? Bukan denganku? Kenapa?

Padahal aku sangat berharap padamu, mungkin kau pun begitu. Padahal, hemmm terasa banyak kata padahal yang ingin aku sampaikan. Namun aku tersadar, kata padahal-padahal itu tak akan mampu mengubah yang terjadi bahwa kau kini telah menjadi milik orang lain. Hingga aku pun mengerti, sering kali harapan itu tak terwujud sesuai keinginan kita karena Allah justru memberikan kenyataan yang lebih indah dari harapan itu.

Kebersamaan yang pernah kita jalin, keakraban yang begitu dekat dan keceriaan yang pernah kita rasakan bersama sering kali hinggap di fikiranku. Semua itu terbayang dalam lamunan-lamunan yang sering menyita waktuku. Hingga aku pun sering bertanya, apakah sia-sia semua yang pernah aku lalui bersamamu. Seolah kisah kita tak hanya berakhir menjadi sad ending, namun bahkan cerita ini yang tak punya akhir.

Advertisement

Aku pun berfikir, kenapa ini semua terjadi. Kira-kira kapan kau lepas dariku, kira-kira kapan kau mulai jauh dariku dan kapan pula akhirnya kau telah menjadi milik orang lain. Aku seolah tak pernah temukan jawabannya, hanya kini yang terlihat kau telah bersama dengan orang lain. Aku pun tak ingin menyesal bersedih terlalu dalam.

Kau mungkin telah bersama dengan orang lain, namun aku bahagia pernah mendapatkan curahan kasih sayang dari orang seistimewa dirimu. Bahkan aku sekarang jadi tersadar, betapa beruntungnya aku telah dapatkan rasa yang berharga itu darimu.

Aku pun teringat berbagai hal yang pernah aku lakukan untukmu. Berbagai ingatan tentang pengorbananku seolah merasuk masuk ke dalam otakku. Ketika aku rela melakukan banyak hal untuk bisa membuatmu bahagia. Bahkan demi membuatmu tersenyum saja, sering kali aku mengesampingkan kebahagianku sendiri. Hingga sering kali banyak temanku dulu yang menganggap betapa naifnya diriku karena sering melakukan hal bodoh demi dirimu.

Tetapi entah mengapa, dulu aku sangat senang melakukan itu semua. Karena melihatmu bisa tersenyum saja karenaku, adalah sebuah kebahagian yang sangat luar biasa bagiku.

Mengingat semua pengorbanan yang telah aku lakukan, membuatku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah percuma saja semua itu? ntahlah aku malah jadi terbebani jika memikirkannya. Apakah kau ingat tentang semua yang aku lakukan demi dirimu? Tentulah engkau masih mengingatnya, aku yakin itu.

Terus mengapa kini kau bersanding dengan orang lain?. Ah lagi-lagi pertanyaan itu yang justru membuat hatiku sedih. Dadaku terasa semakin sesak, mataku pun terasa hangat karena menahan air mata. Harusnya aku menyadari, memang seperti inilah misteri jodoh yang ada di dunia. Kita tak pernah tahu tentang siapa yang akan bersanding bersama kita, kita hanya berusaha.

Dengan ini pun aku dapatkan pelajaran berharga, bahwa aku tak boleh dengan mudahnya menumbuhkan benih-benih cinta di dalam hatiku. Aku mulai sadar, mulai saat ini aku harus pandai-pandai memperlakukan cinta yang datang. Aku pun mengerti, cinta diantara dua orang tak akan pernah satu. Jika memang keduanya tak berniat menyatukannya di depan orang tua mereka.

Saat-saat aku mulai menyadari yang tengah terjadi, kini aku mulai merelakan cintaku yang telah lalu. Merelakanmu yang kini telah terlihat bahagia dengan orang lain. Ntah mengapa kini aku pun merasa bahagia. Mungkin saat kita benar-benar menyayangi seseorang maka kita pun akan merasa bahagia jika melihat orang yang kita sayangi bahagia, walau itu bersama orang lain. Jujur aku pun kadang masih merasa cemburu, jangan kira tidak.

Tetapi lambat laun, rasa cemburu itu pun terobati oleh ikhlasnya hatiku yang melihatmu bahagia. Kini pun terasa, rasa sakit hati karena hancurnya cinta lambat laun memudar karena aku bisa merelakannya. Bahkan aku mampu tersenyum lebih cerah, saat aku percaya di depan sana ada sosok yang lebih indah yang siap memberikanku kasih sayang yang lebih membahagiakan dari dirimu.

Bagiku kau kini adalah masa lalu yang berharga, maka tak perlu lah aku menyesali suatu yang berharga itu. Yang perlu aku sesali justru adalah sifat-sifat burukku padamu dahulu, bukan dirimu. Kau pun adalah masa lalu yang begitu membahagiakan, maka tak perlu lah aku menyesali sebuah kebahagiaan. Seharusnya aku merasa beruntung pernah bahagia bersamamu. Kau pun adalah pelajaran yang sangat luar biasa, aku bisa merasa lebih baik saat bisa mengambil hikmahnya.

Beda denganku dulu, aku terlarut dalam kesedihan kala aku tak bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Namun sekarang aku telah menyadarinya, maka mulai sekarang mengingatmu adalah sebuah kebahagiaan. Pelajaran membahagiakan untuk menemukan cinta sejati untuk masa depanku. Aku ucapkan terima kasih padamu karena telah hadir dalam kehidupanku, bahkan pernah mengisi hatiku dengan cintamu. Semoga kau bahagia disana.