Aku tahu, kamu bukanlah tipe lelaki idamanku. Bahkan jauh di bawah standarku. Tapi jika saat ini ditanya tentang tipe idaman, maka dengan mantap akan kujawab : kamu.

Aku mengenalmu lewat masa yang lampau. Kamu berada di dalam memori masa kecilku sebagai seorang anak badung yang senang menggoda gadis-gadis di kampung kita dulu. Usia kita terpaut empat tahun, tetapi rasa-rasanya saat itu aku merasa lebih dewasa dari pada kamu. Kamu bukan saja anak badung saat itu, tapi juga pembuat onar. Aku tahu, kamu pasti salah satu dari komplotan petasan mania yang melempar petasan ke arah orang-orang sehabis tarawih, pada Ramadhan 14 tahun lalu di kampung kita.

Saat itu aku hanyalah seorang gadis kecil yang bermuka masam dan rajin mengeluh. Mengeluh tentang komplotan petasan mania, terutama. Masa-masa sekolah dasar dulu, adalah masa-masa ketika aku tidak memikirkan apapun kecuali bagaimana caranya menjadi juara kelas. Kamu tahu, aku adalah seorang anak yang penuh ambisi dan sangat perfeksionis.

Beda denganmu. Saat itu kamu adalah seorang anak lelaki yang sangat menikmati masa kecil. Kudengar pula, keluargamu sangat memanjakanmu saat itu. Saat kamu merayakan pesta khitanmu, keluargamu mengundang salah satu kelompok lawak paling laris di kota kita. Aku semakin membencimu ketika mendengar hal itu. Anak lelaki badung yang manja.

Masa-masa sekolah menengah, aku tidak lagi menjadi aku yang penuh ambisi. Aku hidup sebagaimana manusia puber lainnya. Menikmati hidup bersama teman dan tentu saja kekasih. Ya, sampai usiaku yang ke delapan belas, setidaknya aku memiliki delapan belas kekasih. Rasanya aku tak percaya dengan hal itu.

Advertisement

Kamu, dengan kebadunganmu yang makin tak terkendali, tidak menjadi hal yang patut untuk kupikirkan pada masa itu. Apalagi setelah aku pindah rumah, aku semakin tak mendengar kabarmu. Masa remajaku kulalui tanpa sedikitpun pikiran tentangmu. Saat masuk kuliah, namamu kembali muncul lewat cerita seorang teman. Aku semakin membencimu ketika tahu bahwa kamu adalah rajanya pemberi harapan palsu, setidaknya itu yang kudengar lewat cerita orang.

Pernah suatu ketika aku menjumpaimu di suatu tempat. Kamu sudah jauh berubah. Aku melihat kumis tipis mulai tumbuh. Tapi aku tak ada niatan untuk menyapamu atau sekadar tersenyum padamu. Kurasa mungkin kamu juga tak ingat momen ini. Masa-masa kuliah adalah masa-masa terberat dalam hidupku. Bukan saja dengan teman-teman yang baru, mata kuliah yang sulit, juga ibu kos yang jahat, tetapi juga aku mengalami banyak kejadian patah hati.

Terakhir kali, sebelum akhirnya aku bertemu denganmu lagi, aku baru saja sembuh dari patah hati yang bertubi. Perselingkuhan. Bobotku turun drastis saat itu. Aku tidak saja kehilangan hatiku, tapi juga kehilangan selera makanku. Aku sempat sakit parah hingga masuk rumah sakit. Kamu sempat memberikat ucapan ‘semoga lekas sembuh’ di media sosialku, lewat komentar di bawah fotoku yang berpose dengan selang infus.

Kata orang, semakin giat berinteraksi dengan media sosial, maka semakin terlihat kesepian yang sedang dialami. Ya, aku sedang kesepian dan butuh banyak perhatian saat itu. Jujur saja, ketika mengingat saat-saat aku rajin berkutat dengan gawaiku, aku menjadi geli. Betapa menyedihkannya aku saat itu. Apalagi saat-saat di mana fotoku dengan selang infus kusebar di media sosial.

November awal, aku sudah mulai lebih baik. Aku sudah tidak lagi berpikir tentang hatiku. Aku benar-benar menjadi perempuan mandiri. Jujur saja, aku mulai terobsesi untuk tidak hidup dengan laki-laki. Meski begitu, setiap hari, gawaiku tidak pernah sepi. Mulai BBM, WA, sms, hingga Line selalu berbunyi. Banyak lelaki yang saat itu mendekatiku. Hampir tiap malam ada saja lelaki yang datang ke kosku. Aku menikmati itu, meski dalam hati aku menertawai mereka yang tidak pernah bisa berbicara banyak hal denganku.

Aku merasa superior. Aku merasa bosan dengan banyak lelaki. Aku merasa mereka tak ada apa-apanya dibanding aku. Tak ada hal berbobot yang bisa kubicarakan dengan mereka. Kemudian kamu datang. Tepat dengan rintik hujan yang membasahi tubuhku sore itu selepas mengajar.

“Cuma mau ngingetin, kalau sholat ngadep kiblat ya,”

Kalimat itu membuat alisku terangkat heran. Tanpa sadar aku tersenyum. Malamnya, kuajak kamu ke toko buku. Aku merasa menemukan kembali jiwaku dan duniaku. Saat itu, jujur saja aku belum tertarik padamu. Kamu dipikiranku masih berupa lelaki badung yang juga merangkap ahli pemberi harapan palsu.

Kemudian, malam-malam berikutnya entah bagaimana kamu rajin duduk di berandaku, bercerita tentang apapun. Kamu bercerita tentang semua keburukanmu, keahlianmu merayu perempuan, kesukaanmu pada buku-buku. Aku, entah mengapa, menjadi pendengar yang setia. Aku sangat suka mendengarmu bercerita. Aku mencoba mencari jejak lelaki badung dan manja yang dulu pernah kukenal. Tapi tidak ada.

Pada malam ke empat belas, kamu menggenggam tanganku. Aku tau kamu ingin mengatakan sesuatu. Tapi kamu menahannya. Aku tahu, kamu merasakan trauma yang amat dalam soal ini. Kamu tidak ingin mengatakannya terlalu cepat hanya untuk mendengar permintaan maaf dan pengakuan bahwa kamu sudah dianggap sebagai kakak oleh lawan bicaramu. Aku tahu itu.

Maka kuputuskan akulah yang akan bertanya perihal ini.

“Kita ini apa?”

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Kosku sudah akan ditutup. Aku dan kamu berdiri di depan pintu gerbang. Kamu tampak kaget mendengar pertanyaanku. Kamu menjawab dengan malu-malu, seperti gadis yang sedang mendengar lamaran. Kamu mengakui perasaanmu padaku. Lalu aku dan kamu saling tersenyum. Tidak ada adegan romantis seperti di film-film.

Atau buket bunga mawar sebagai tanda cinta. Yang aku ingat, saat kamu berkata kamu mencintaiku, ibu kosku sedang berada tepat di belakangku, membawa kunci gembok pagar sambil berbicara, “Teng, teng teng! Waktunya sudah habis!.” Kurasa itu adalah hal teromantis sedunia. Aku hanya bercerita sampai adegan ini saja. Selebihnya akan kutulis di narasi berikutnya.

Tentang perjuangan melalui hubungan ini, orang-orang ketiga, betapa menyebalkannya kamu, dan betapa mengerikannya perpisahan yang pernah akan kita hadapi. Aku ingin mengenangmu dalam tulisan-tulisanku. Entah apapun yang terjadi pada kita nanti, aku harap tulisan-tulisan ini akan menjadi pengingat bagaimana Tuhan mempertemukan aku denganmu. Kuharap jika kamu mulai bosan denganku, kamu bisa kembali menyegarkan hatimu dengan tulisan-tulisan ini.

Aku dan kamu tidak saling mencari. Sudah kukatakan, kamu bukan tipeku. Apa yang kucari darimu? Apa yang kamu cari dariku? Tidak ada. Tidak akan kamu temukan. Aku berharap, ketika kamu mencari alasan untuk pergi, tak akan pernah kamu menemukannya.

Semoga Tuhan selalu bersinergi dengan alam semesta untuk membuat kita tetap pada jalur yang semestinya.

Aku mencintaimu. Selalu.