Semakin kita beranjak dewasa tentu kita menyadari bahwa hidup ini semakin penuh tantangan yang semakin besar dan berat pula. Kita merasakan bahwa hidup kita ini tak semudah dan setenang masa kecil. Hingga sering kali kala kita menghadapi ujian hidup yang begitu berat, rasanya kita berandai-andai untuk kembali ke masa kecil rasanya begitu menyenangkan.

Setiap hari di masa kecil rasanya seperti bermain saja. Namun ingatkah, di masa kecil dulu kita pun sering memimpikan agar segera cepat menjadi seseorang yang tumbuh besar menjadi dewasa. Iya, dan itulah kita sekarang. Kita telah sampai di masa yang kita impikan-impikan.

Namun ternyata menjadi orang yang beranjak dewasa itu tak semudah yang kita fikirkan. Rasanya terlalu banyak ujian dan tantangan hidup yang harus kita lalui. Hingga ada dua kata baru dalam hari-hari kita, yaitu kata gagal dan berhasil. Gagal itu kita artikan ketika kita tak bisa meraih apa yang kita impikan atau saat kita tak berhasil melewati tantangan hidup yang ada.

Sedangkan berhasil itu kita maknai kala kita bisa mewujudkan apa yang kita inginkan atau saat bisa melewati apa yang menjadi ujian kita. Dua kata itu silih berganti datang dalam hidup kita. Setiap satu tahapan selesai, selalu ada dua kata itu yang akan menyambut kita. Entah itu tentang pekerjaan, impian atau suatu kewajiban yang tak bisa kita pungkiri. Bahkan suatu tuntutan hidup yang memang harus kita lakukan.

Sebagian dari kita mungkin merasakan gagal dan berhasil mulai dari semenjak lulus SMA. Karena saat itu lah kita mulai menyadari apa arti kehidupan ini, diantaranya hidup itu adalah perjuangan untuk bisa bertahan di tengah miliyaran manusia. Sewaktu lulus SMA, kita mulai dapat tantangan ketika ingin melanjutkan ke perkuliahan.

Advertisement

Kita daftar kesana-kemari mengikuti teman-teman kita. Dimana kampus yang paling favorit atau disukai banyak teman, di situlah kita mencoba untuk bisa masuk juga. Hingga kita pun mulai merasakan apa itu kegagalan, saat kita ternyata tidak bisa lolos seleksi.

Rasanya begitu beda dengan kata gagal ketika tak bisa mendapat nilai sepuluh dalam tugas SMA. Beda dengan kata gagal yang kita rasakan kala tak bisa menarik perhatian teman SMA yang kita taksir. Kita merasakan ternyata gagal tidak lolos seleksi di kampus yang kita inginkan itu menyesakkan hati.

Apalagi saat kita melihat beberapa teman kita, ada yang tersenyum berhasil karena lolos. Rasanya itu benar-benar iri sekali, kita pun berandai-andai jika kita juga bisa lolos. Kita coba mengerti, kenapa kita bersedih karenanya. Ternyata semua itu karena saat itu kita mulai memikirkan masa depan kita. Jika kita gagal maka kita berfikir bahwa kedepan akan semakin sulit.

Akhirnya kita berjuang keras, kita daftar lagi dan seleksi lagi dengan berulang kali. Hingga banyak orang yang mulai berkomentar tentang apa yang kita lakukan. Beberapa orang memuji kesungguhan kita, namun ternyata lebih banyak yang berkomentar tak enak di belakang.

Jangankan menyemangati, rasanya kta-kata yang terdengar seperti mencemooh kita yang tak tahu diri karena tak menyerah saja. Ah rasanya itu begitu menyesakkan hati, seolah perjuangan yang kita lakukan tak ada harganya. Semua yang kita perjuangkan seperti tak dianggap penting.

Hingga kita akhirnya bisa buktikan bahwa kita bisa lolos seleksi. Atau kemungkinan terburuknya kita akhirnya kuliah di kampus yang sebenarnya tak kita inginkan, atau malah kita akhirnya tak bisa melanjutkan kuliah. Berikutnya, kata gagal dan berhasil juga kita akan temukan saat kita mulai lulus dari kuliah. Yaitu saat-saat dimana kita mulai mencari-cari kerja. Kita kesana-kemari mengikuti job fair, kesana kemari membawa surat lamaran.

Dengan harapan agar segera bekerja dan bisa membahagiakan orang tua. Berbagai seleksi kita ikuti, namun ternyata itu memang tak mudah. Mencari kerja itu rasanya memang cukup sulit, apalagi yang sesuai dengan yang kita harapkan. Rasanya kita begitu sedih, apalagi melihat teman-teman kita yang sudah bekerja.

Kita mulai malu dengan lingkungan sekitar, apalagi saat mulai lagi ada komentar-komentar para tetangga atau teman-teman kita. Rasanya itu semakin menusuk hati kita yang sedang berusaha. Terkadang juga membuat kita begitu stres karena kenapa tak kunjung juga berhasil seperti yang lain. Kita pun akhirnya bisa bekerja juga, setelah gagal berkali-kali. Atau kita sampai sekarang belum juga mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan.

Belum lagi jika tentang asmara, mungkin sebagian dari kita sering diacuhkan oleh orang yang kita harapkan. Semua perhatian dan pengorbanan yang kita lakukan tak dirasa berarti baginya. Rasanya kenapa kita tak berhasil juga tentang cinta ini. Padahal usia kita yang semakin berumur saja. Pasti tentunya omongan orang akan lebih kencang daripada komentar gagalnya kita saat ingin kuliah atau tak berhasilnya kita saat mencari kerja.

Pasti lebih sesak di hati, hati pun sering bertanya tentang siapa yang akhirnya berhasil kita dapatkan kasih sayangnya. Dimana jodoh kita berada. Kenapa rasanya sulit menemukannya. Kenapa tak jua datang juga. Kenapa orang lain rasanya nampak bisa dengan mudah mendapatkan sosok pujaannya. Sedangkan kenapa rasanya kita begitu sulit. Ah, mungkin saja kita yang berfikir demikian.

Karena sejatinya kita tak pernah tahu apa yang dirasakan orang lain juga. Tetapi kita tentu sadar, kita tak boleh menyerah tuk berusaha, apalagi berhenti untuk memantaskan diri menjadi lebih baik untuk menanti jodoh kita. Hingga akhirnya jodoh pun datang, walau dia adalah sosok yang baru bukan sosok yang selama ini kita perjuangkan. Itulah pilihan Allah untuk kita.

Kita kadang bingung, kenapa kita yang telah berjuang begitu keras namun tak segera berhasil. Padahal kita telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Apa kita belum berdoa? apa usaha kita belum maksimal?. Rasanya itu juga sudah kita lakukan.

Namun kenapa Allah belum juga mengabulkan doa-doa kita. Sedangkan komentar-komentar di sekeliling kita semakin kencang saja, suara orang-orang sudah begitu membisingkan. Sudahlah, Anggaplah semua itu hak mereka.

“Bukankah tugas sebagai manusia itu memang lah itu untuk berusaha? Bukankah hidup itu memang perjuangan? Lalu buat apa pusing mikirin komentar orang, kan lebih baik percaya bahwa Allah selalu melihat usaha kita.”

Kita sering ditolak dan tidak lolos itu bukan berarti kita tidak pantas menempati suatu posisi. Bisa jadi bahwa sebenarnya posisi itu yang tak pantas buat kita menurut Tuhan. Allah belum mengabulkan keinginan kita, mungkin Dia ingin menempatkan kita di tempat yang benar-benar tepat.

Belum tentu apa yang kita inginkan itu terbaik buat kita. Belum tentu waktu yang segera kita inginkan itu memang membahagiakan bagi kita. Tentu Allah lebih tahu, dimana tempat terbaik bagi kita dan kapan waktu yang tepat buat kita untuk meraih sesuatu. Jadi, gagal dan berhasil itu adalah suatu hal yang biasa.

Namun semangat berusaha itulah yang luar biasa, karena itulah yang penting dan juga dilihat oleh Allah. Maka kita perlu mensyukuri posisi kita sekarang, kuliah kita sekarang, tempat kita kerja yang sekarang dan orang yang bersama kita sekarang.

Walaupun mungkin tak seperti keinginan kita yang awal, namun ketahuilah itulah tempat atau posisi terbaik yang dipilihkan Allah untuk kita. Semua itu, mungkin karena kita ternyata akan lebih baik atau lebih cepat berkembang di tempat atau posisi itu.