Piye kabare? Pertanyaan ini barangkali agak sensitif apabila ditujukan kepada mahasiswa tingkat akhir. Pertanyaan yang awalnya digunakan untuk menanyakan kabar seseorang, kini beralih makna menjadi pertanyaan mengenai “kabar skripsi”. Mengapa jadi sensitif? Kita perlu introspeksi diri apabila pernah dapat pertanyaan ini saat menjadi mahasiswa tingkat akhir.

Karya skripsi menjadi salah satu syarat akhir setelah menjalani perkuliahan selama tujuh semester (bisa berbeda sesuai program studi dan kecakapan mahasiswa yang bersangkutan). Setelah menjalani proses magang dan kuliah kerja nyata (KKN), karya inilah yang akan menjadi syarat akhir untuk mendapatkan gelar sarjana (S1).

Bagi mahasiswa semester akhir, obrolan seringkali tidak lepas kaitannya seputar pengerjaan skripsi. Mulai dari saling menyemangati, saling bertanya mengenai perkembangan skripsi, memberikan saran, nasihat-menasihati, mengeluh, bahkan hingga 'ngomongin' dosen pembimbing.

Tidak jarang pula skripsi menjadi kambing hitam karena kemalasan diri sendiri. Kelonggaran waktu yang tidak sepadat masa-masa perkuliahan menjadi godaan untuk mengisi kegiatan yang lebih menarik ketimbang mengerjakan skripsi. Pilihan mengisi kekosongan dengan bekerja, organisasi, sampai aktivitas hobi seringkali memakan porsi utama untuk mengerjakan skripsi.

Skripsi menjadi semakin dikesampingkan. Kelulusan pun semakin tertunda dengan munculnya mahasiswa-mahasiswa yang dianggap menjadi beban prodi. Beban ini berkaitan dengan angka efisiensi edukasi (AEE), yakni rasio antara jumlah mahasiswa yang lulus dengan jumlah total mahasiswa. Semakin mahasiswa lulus tepat waktu, semakin meningkat pula nilai AEE tersebut.

Advertisement

Bayangkan betapa berat tanggungan moral yang harus dihadapi mahasiswa tingkat akhir. Karena sudah dibebani dengan karya skripsi yang tidak kunjung selesai, bisa dibebani pula dengan tuduhan sebagai “tersangka” rendahnya nilai AEE. Kalau tidak eling lan waspada, kelak warisan ini bisa benar-benar terjadi kepada para mahasiswa adik tingkat di bawahnya.

Upaya di kampus saya yang menambah penyelenggaraan wisuda menjadi dua bulan sekali atau enam kali dalam setahun adalah terobosan yang logis. Mahasiswa menjadi terdorong agar cepat lulus dan segera mendapat pekerjaan. Bagi yang mengenyampingkan skripsi, upaya ini juga menjadi pengingat agar mereka segera menyusul.

Tangan Kanan

Efek positifnya, banyak mahasiswa berlomba untuk cepat-cepat lulus. Namun, dibalik “perlombaan” ini, tidak jarang pula ada semacam transaksi untuk membantu penyelesaian tugas akhir, termasuk skripsi. Karena alasan waktu, ada sebagian mahasiswa yang mencari semacam “tangan kanan”. Ia bersedia memberikan imbalan bagi yang bersedia untuk tugas ini.

Imbalan yang diberikan beragam, sesuai porsi tugas yang dikerjakan. Saya juga pernah mendapat tawaran seperti ini, namun masih sebatas untuk menerjemahkan abstrak atau jurnal dari skripsi. Ada tarif khusus yang ditawarkan kepada penerjemah untuk setiap lembarnya.

Mahasiswa tidak perlu khawatir akan kerepotannya dalam penyelesaian skripsi. Kini muncul jasa olah data, tidak hanya untuk skripsi tetapi juga tesis dan disertasi. Untuk jasa ini sudah bukan lagi sukarelawan seperti mahasiswa, tetapi sudah professional. Ada tarif khusus yang dipatok untuk satu pengerjaan.

Sorotan mengenai penyedia jasa semacam ini pernah diulas oleh majalah Lembaga Pers Mahasiswa Kentingan UNS edisi bulan Mei tahun 2016 dengan judul “Jalan Pintas Tak Pantas?” Terlepas dari stigma miring yang melekat, paling tidak keberadaan jasa ini telah membantu meringankan beban skripsi para mahasiswa yang datang.

Ada dua narasumber yang diceritakan. Dalam satu minggu, salah satu narasumber bisa mendapat dua sampai tiga permintaan pembuatan skripsi, menandai bahwa layanan ini memiliki pelanggan yang tak sedikit. Tidak tanggung-tanggung, penghasilan yang mereka peroleh dari pekerjaan sambilan ini juga bisa mencapai jutaan rupiah.

Lantas, apakah penggunaan jasa ini berpengaruh kepada gelar yang akan disandang? Sekadar gelar mungkin tidak, namun tanggung jawab perlu dipertanyakan. Pelimpahan beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab sendiri menjadi penanda bahwa mereka tidak ingin repot, tidak ingin susah, dan tidak ingin berusaha keras dalam mencari ilmu.

Janganlah menyalahkan waktu karena ia tidak bisa memberikan tambahan kepada kita. Rumus waktu sama, 24 jam. Tidak bisa ditambah atau dikurang. Kita hanya bisa mengisinya dengan aktivitas-aktivitas yang kita butuhkan. Masalah skripsi sebetulnya sederhana, bagaimana kita menempatkannya pada ruang-ruang kosong 24 jam itu.

Kalau sudah sejak awal tidak bisa mengelola tanggung jawab yang sederhana ini, bagaimana kita bisa mengelola tanggung jawab yang lebih besar? Perguruan tinggi adalah arena untuk berlatih memainkan tanggung jawab untuk meraih ilmu pengetahuan. Namun, untuk memainkan peran ini memang butuh kesungguhan dan usaha keras. Gelar hanyalah label hasil dari usaha itu.

Mengutip pesan dalam syair gubahan Asy-Syafi’i di kitab Ta’lim Al-Muta’allim. Terjemahan syair tersebut berbunyi:

kau idamkan menjadi seperti seorang faqih (alim)/

padahal tidak mau sengsara, macam-macam sajalah penyakit gila/

tidak bakal engkau mendapat harta, tanpa menanggung kesulitan-derita/

ilmupun begitu pula/.

Gelar juga ibarat label bagi orang yang faqih (ahli) dalam suatu bidang ilmu. Ia bukan sekadar hasil pencapaian terpenuhinya syarat-syarat. Namun, gelar adalah cerminan dari ilmu dan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Akankah kita hanya mencari gelar tanpa esensi yang akan dicerminkan? Marilah kita introspeksi diri. Mulai dari pertanyaan, bagaimana kabar skripsi(mu)?