Tidak terasa kita bertiga telah menjalani persahabatan ini selama tiga tahun lebih. Kebetulankah persahabatan ini? Hanya karena kita berada di kampus dan jurusan yang sama atau memang takdir yang telah mengikat kita? Teman, sungguh jangan katakan kalau ini kebutulan! Kalian mengenalku dari awal kita kuliah dan aku sungguh tidak percaya dengan kebetulan.

Tiga tahun yang kita lalui terasa sangat menyenangkan bukan? Kalian pasti ingat bagaimana kita mengerjakan tugas bersama, saling menceritakan kegundahan hati, menangis bersama karena kehilangan kekasih, berbicara dengan bahasa yang hanya kita bertiga saja yang mengerti apa maksudnya, bahkan sering melakukan hal bodoh bersama dengan cara menggoda kakak kelas secara bersamaan untuk menghibur diri dari tugas yang tak kenal ampun.

Tiga tahun yang menyenangkan itu bukan tanpa konflik tentunya. Tiga kepala yang menyatu sama dengan tiga pola pikir dan tiga cara pandang yang berbeda, dengan sifat yang berbeda pula. Sungguh tidak mungkin tidak ada guratan masalah yang menyelimuti hubungan kita. Aku tahu di dalam hati kita masing-masing, pasti pernah ada rasa kesal yang tidak saling kita sampaikan satu dengan yang lainnya.

Tapi itu tidak membuat persahabatan kita terputus. Dari situ, kita belajar menerima kebiasaan buruk satu sama lain. Kita belajar saling menghargai pilihan satu sama lain. Kita belajar bahwa tak harus sama meski bersama. Kita belajar sabar terhadap satu dan yang lain. Kita belajar tetap mengasihi saat ada guratan kesal di hati. Karena kita tahu, guratan kesal itu tidak akan bertahan lama menempel di hati kita dan hanya bersifat sementara.

Bagiku, persahabatan kita tidak memerlukan defenisi. Karena yang ia perlukan hanyalah teorema.

Advertisement

Sahabat, sungguh aku tidak pandai berkata-kata dalam mendefenisikan apa itu sahabat. Yang kutahu, sahabat adalah orang yang selalu bisa membuatmu tertawa bahagia, menemani saat kamu membutuhkannya, dan tentu saja sahabat juga pasti pernah membuatmu merasa marah dan kecewa, Lantas jika ia pernah membuatmu marah dan kecewa, langsungkah kamu menghapus namanya dari daftar persahabatan yang kamu miliki?

Bukankah sahabatmu juga manusia biasa yang pasti pernah melakukan kesalahan?

Untukmu kedua sahabatku, semoga takdir tetap mengikat kita dalam hubungan yang indah yang mereka sebut persahabatan. Meskipun nanti kita sudah memiliki topi toga yang sampai saat ini masih kita kejar, yang akan membuat kita jarang bertemu, tapi ingatlah masa ini! Di mana masa kita bertiga sama-sama belajar menjadi pribadi yang lebih baik dalam sebuah hubungan yang indah yang mereka sebut persahabatan.