Suatu ketika, pasti diantara kita pernah berfikir, betapa berat dan kerasnya perjalanan hidup ini. Seakan hati tak mampu lagi menahan beban masalah. Merasa lunglai, lemah, tak berdaya, dan berat melangkahkan kaki. Suasana bingung menyelimuti, kesunyian kian menjadi-jadi membawa kita ke dalam lembah kegelapan. Merasa tak kuat menghadapi berbagai suasana hidup yang begitu sulit dan berat. Merasa tak mampu berdiri bangkit untuk kesekian kalinya memikul beban hidup ini.

Bukan takdir hidup yang harus kita sesali. Sebab, Allah tidak akan pernah menimpakan beban masalah kepada seseorang di luar batas kemampuannya. Jadikanlah ujian sebagai pembelajaran paling berharga untuk kita, evaluasi diri, menjadi sosok yang lebih baik dan suatu keberuntungan untuk kita.

Dapat disimpulkan tingkat suatu cobaan sama halnya dengan kita menaiki 1 anak tangga. Semakin kita mampu melewati satu demi satu anak tangga maka semakin tinggi pula tangga yang telah kita naiki. Cobaan sebagai ujian seumur hidup kita. Bukan hidup bila terlepas dari ujian, bersyukurlah untuk itu bila Allah memberikan bermacam-macam ujian untuk kita dengan silih berganti.

Bila kita mampu melewatinya maka naiklah derajat kita di hadapan-Nya. Masyaallah. Renungkanlah. Mungkin bila kita mengaku sebagai seorang muslim pastinya mengetahui kisah-kisah 25 nabi yang patut kita teladani, sebagai cerminan diri saat ditimpa cobaan. Lihat Nabiyulloh Ya'qub harus ikhlas kehilangan anaknya, Yusuf yang sangat dicintainya. Disambung lagi dengan hilangnya seorang adik yusuf yang bernama Bunyamin yang ditangkap oleh wakil raja Mesir yang sebenarnya adalah Yusuf sendiri. Nabi Ya'qub tetap tidak putus asa dan berharap pada Allah.

Bagaimana dengan penderitaan Nabi Yusuf as sendiri? Ia tidak disukai oleh saudara-saudaranya sejak kecil. Bahkan dilempar ke dalam sumur yang gelap gulita. Diperdagangkan sebagai budak. Lalu dijebloskan ke dalam penjara tanpa sedikitpun kesalahan yang diperbuatnya.

Advertisement

Berbeda lagi dengan Nabi Musa as. Ia terlahir dalam kondisi sangat memprihatinkan. Dimasukkan ke dalam sebuah peti oleh ibunya ke sungai Nil karena rasa takutnya pada Fir'aun. Allah juga membebani kehidupan yang sangat berat pada Nabi Musa as. Terlahir dari keluarga miskin, menempuh perjuangan di antara kekafiran yang sangat kuat pada saat itu.

Renungkan juga apa yang telah dialami oleh Nabi Ibrahim as. Cobaannya melebihi sebuah cobaan. Diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anak kandungnya sendiri. Coba bayangkan, begitu berat dan tiada tandingannya ujian keimanannya. Benar-benar berada di titik puncak.

Lain lagi dengan Nabi Adam as. Merasakan kesenangan bersama-sama dalam surga bersama sang istri, tapi kemudian diperintahkan untuk keluar dari surga. Kemudian coba sadari, seberapa kesulitan kita jika dibandingkan dengan penderitaan Nabi Nuh as. Yang menyeru umatnya, tapi anak dan istrinya sendiri tidak berkenan mengikutinya. Bahkan ketika Allah memerintahkan untuk naik perahu, anaknya tetap menolak dan akhirnya tertelan dalam gulungan banjir.

Kisah Nabi kita sendiri Nabi Muhammad Saw. Di setiap fase hidupnya yang selalu dirundung kebencian dari berbagai pihak, diperlakukan semena-mena. Tapi tak pernah sedikitpun memiliki rasa dendam. Mengingat dalam masa kecilnya kesedihan menyelimuti silih berganti. Tapi tak pernah berkeluh kesah.

Di sinilah tersimpan kekuatan iman. Mereka yakin bahwa iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Mereka tak menuntut kemenangan lahir, kesenangan dunia, karena alam bathin mereka lebih menang. Mereka memikul beban berat, menjadi rasul Allah, menempuh kesulitan yang tiada terhitung.

Bukti kecintaannya pada Allah dan sebagai sarana menggembleng hatinya menjadi kokoh. Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita langsung terkabulkan. Allah lebih mengenal batin kita daripada kita sendiri.