Memiliki teman yang baik yang selalu mendukung kita adalah hal yang luar biasa.

Saat saya masih kecil, memori terbaik saya akan sekolah, bukanlah mengenai pelajaran-pelajaran atau guru-guru di sekolah, saat-saat yang saya tunggu saat saya ke sekolah adalah untuk bertemu dengan teman-teman saya. Saya ingat bagaimana kita masih suka main hide and seek, beyblade, dan lain-lain.

Saya juga ingat bagaimana saya dan teman-teman saya sering bermain basket sepulang sekolah sampai saat baru pulang sekolah saat sore. Saya ingat betapa indahnya saat kita masih kecil karena kita begitu senang dan mau bermain dengan siapapun. Tidak ada yang musuh-musuhan atau saling benci-bencian. Unfortunately, hal tersebut berbeda ketika kita semakin bertambah dewasa.

Saat saya masuk SMP, saya merasa bahwa banyak sekali teman-teman saya tidak seperti dulu lagi. Tidak ada yang namanya mau main sama siapa aja, kalau mau main, mungkin dikarenakan fase perkembangan kami di usia pra remaja, kami hanya mau main dengan anggota geng masing-masing.

Dulu saya tidak mengerti kenapa kita harus membentuk geng dan bahkan dulu sering ada musuh-musuhan antar geng (rasanya enggak make sense aja datang sekolah buat ngelabrak orang). Seperti biasa, namanya di sekolah, ada geng populer dan geng biasa aja. Geng populer, berdasarkan stereotype yang sudah terbentuk, biasanya berisi anak-anak yang secara finansial mampu-sangat mampu, tampangnya oke sih tapi biasanya otaknya (maaf) suka kurang isinya.

Advertisement

Geng biasa aja, biasanya berisi anak-anak yang tampangnya ya (maaf juga) kurang tapi otaknya encer. Saya tidak bermaksud untuk menghakimi siapapun dalam hal ini, saya hanya menyampaikan pengalaman saya dulu bersekolah saat SMP.

Hal tersebut semakin menjadi-jadi di zaman SMA. Bahkan, saya dulu merasa beruntung punya geng karena bila saya tidak punya geng, saya akan disebut sebagai loner. And as we know, being a loner is like receiving a social death sentence in senior high school. Saya memang tidak termasuk sebagai geng yang populer di saat SMA dan back then saya memang masih berada di fase culun. Otomatis dengan keculunan saya, teman-teman saya juga bukanlah orang-orang yang populer di sekolah.

Teman-teman saya termasuk orang-orang “normal” dan alim (ya enggak alim sih) dibandingkan dengan geng populer di sekolah.

Hal ini juga berlangsung di saat saya kuliah di mana setiap dari teman saya membentuk geng masing-masing dan seringkali kami hanya bermain di geng kami masing-masing. Bukan berarti kami musuhan dan untunglah anak-anak kelas saya juga orangnya baik-baik, kami kalau bertegur sapa masing sering tetapi mungkin memang setiap dari kami lebih suka bersosialisasi dengan geng kami masing-masing. Ada juga geng yang berisi orang-orang populer yang gaul di kampus dan ya selalu ada pula geng yang isinya anak-anak biasa saja (saya termasuk yang biasa aja).

Tetapi, stereotype geng populer dan biasa aja di sini bisa dipatahkan karena banyak anak geng populer yang cerdas-cerdas dan yang geng biasa aja ya..biasa aja. Paling tidak di fase ini, steoreotype geng yang sudah ada dulu dapat dipatahkan karena di perkuliahan, saya berinteraksi dengan lebih banyak orang yang berasal dari background yang berbeda-beda.

Setelah saya merenungkan status "keanggotaan geng saya" selama ini, sebagai anggota "geng biasa aja" dari zaman SMP-kuliah, saya sering merenung kenapa banyak yang memperlakukan saya juga dengan tidak baik karena mungkin tampang saya ya biasa aja sih (harus setia dong sama nama geng), saya gak suka pergi ke tempat-tempat gaul kayak anak-anak populer seperti ke club malam lah, dan saya nggak suka makan-makan di tempat yang mahal hanya untuk pamer di Instagram (lagian kalau bisa makan yamien bakso enak di pinggir jalan, ya ngapain bayar mahal-mahal di restoran), saya nggak terlalu peduli dengan yang namanya cari pacar juga di usia SMP dan SMA (ya di kuliah karena udah liat umur, jadi agak peduli sih soal jodoh).

Dengan berbagai alasan itu, saya bisa aja jadi kesel balik sama tipe orang-orang populer ini, tetapi saya rasa itu nggak perlu. Kenapa?

Saya jadi ingat sebuah memori di mana dulu saat zaman SMA, rumah saya sering dijadikan basecamp buat main dan nonton bareng sama geng saya. Karena kita sering main bareng, otomatis temen-temen saya udah hafal seisi rumah saya. Setelah melihat isi rumah saya, mereka bertanya kenapa saya bisa tetep rendah hati (ini kata mereka loh, bukan saya sendiri) walaupun saya termasuk ya lumayan berada: saya punya gadget yang tergolong mewah, saya bisa beli make up banyak kalau mau (nggak sombong kok ini) ,tapi kok saya milih hidup jadi orang “biasa aja” dan gak sombong kayak anak-anak yang berada di geng populer itu (ini kata mereka juga, bukan kata saya). Begitu ditanya gini, saya bingung juga mau jawab apa, dan waktu itu saya polos aja jawab,

“Ya yang kaya kan ortu gue, gue mah ngga punya apa-apa, kalau ortu gue mau buang gue ke jalan juga mereka bisa.” Teman-teman saya hanya tertawa mendengar jawaban saya yang super polos itu.

Tanpa saya sangka, 4 tahun berselang, jawaban saya yang polos itu senantiasa mengingatkan saya untuk selalu jadi orang yang baik sehingga kita bisa berteman dengan siapapun. Memang nggak semua orang akan baik dengan kita tetapi kita selalu bisa memilih untuk baik dengan mereka. Kenapa? Yang namanya hidup itu selalu tidak terduga cuy, kita bisa ada di atas dengan semua kekayaan kita, terus tiba-tiba harta kita hilang begitu saja. Kalau kita selalu sombong, selalu pengen hidup mewah (mengandalkan duit), berteman sama orang cuman karena mereka cantik/cakep, dan hanya mau hangout dengan beberapa orang “populer”, mampuslah kita saat kita berada di bawah.

Susah jadinya saat kita harus bergaul dengan orang-orang yang biasa di “bawah” kita. Boro-boro mau bantuin, kamu nanya kalau dia mau minta tolong aja nggak akan dipeduliin. Tetapi kalau kita sudah biasa bergaul dan bersikap baik sama siapapun, hidup itu nggak susah loh karena orang-orang juga pasti mau membantu kita saat kita jatuh. Lagian nggak ada ruginya hidup jadi orang baik, saya tahu kok banyak orang baik yang hidupnya happy aja tuh. Jadi kenapa kita masih hidup seakan-akan kita begitu special kita menjadi sombong?

Ketika kita merasa kita begitu spesial dan hebat, tanpa sadar kita jadi menghina orang lain karena kita merasa kita jauh lebih hebat dari mereka. Apakah kita begitu hebat? Bisa jadi iya bisa jadi tidak. Ketika kita merasa diri begitu spesial, begitu luar biasa, sehingga kita menjadi sombong, saya rasa di saat itulah kita akan jatuh. Sejujurnya saya sudah tidak pernah mendengar kabar orang-orang populer di SMP dan SMA yang jadi orang sukses (bukan berharap mereka nggak sukses, ya itu sih gimana usaha dari mereka aja), dan mungkin in a way, saya belajar bahwa kepopuleran di SMP/SMA tidak menjamin apa-apa saat kamu dewasa nanti.

Setiap dari kita memiliki masa “jaya” masing-masing. Siapa tahu orang yang kita panggil cupu di SMA ternyata jadi seorang miliuner sukses? Malu kan kalau itu sampai kejadian?

Belajarlah untuk bersyukur atas apa yang kita punya dan jadilah orang yang hidup selalu dalam kesederhanaan. Saya jujur lebih bangga dikenal sebagai orang yang bisa menolong orang lain, punya dampak positif bagi masyarakat di mana saya tinggal, dan banyak ilmunya ketimbang dihargai cuman karena uang dan penampilan saya. Apakah kita nggak sedih kalau dihargai orang hanya karena tampang dan duit kita aja, apalagi notabene itu bukan duit dari hasil jerih payah kita sendiri?

One more thing, uang saya juga miliki orangtua saya, ngapain saya nyombongin? Justru yang boleh sombong adalah orangtua saya yang dulunya direndahkan karena mereka miskin dan bahkan sempat direndahkan oleh anggota keluarga yang lain karena mereka lebih kaya daripada orangtua saya. But the good news is, sampai sekarang orangtua saya males banget yang namanya nyombongin harta ke orang lain, mungkin karena mereka dulu hidup susah dan sempat mengalami diskriminasi sana sini karena status mereka sebagai orang miskin.

Tetapi mereka tidak mengajari saya untuk balas dendam dengan memperlakukan orang lain dengan buruk, mereka mengajari saya untuk selalu menghargai orang lain dengan baik dan untuk memperlakukan semua orang dengan hormat.

Saya bersyukur karena mereka bisa saja membesarkan saya dengan nilai-nilai yang salah setelah keluarga kami menjadi lumayan berada sekarang sehingga saya bisa saja bertingkah ala-ala orang kaya di sinetron TV tetapi puji Tuhan, untung mereka tidak seperti itu. So, saya juga ingin mengatakan melalui artikel ini bahwa saya memiliki orangtua yang luar biasa dan terimakasih karena saya sudah dididik oleh mereka untuk jadi pribadi yang lebih fokus untuk memiliki karakter yang baik, sopan, rendah hati, menjadi pribadi yang supel dan baik sama semua orang, mengutamakan memperbanyak ilmu daripada harta dan tampang. Saya tidak ingin menghakimi siapapun melalui post ini dengan mengatakan bahwa memiliki kekayaan yang lebih dari orang lain atau tampang yang menarik adalah orang yang jahat atau "dangkal".

Sama sekali tidak. Hal-hal tersebut adalah pemberian dari Tuhan juga tetapi yang saya ingin tekankan adalah, hal tersebut tidak perlu kita sombongkan kok :).

Dan juga mengenai teman-teman SMP/SMA saya yang populer, ya, mungkin mereka jadi "sombong" seperti itu karena pola asuh keluarga yang salah (ini hanyalah sebuah kemungkinan, bukan berarti keluarganya jahat), mungkin juga mereka merasa insecure jadi mereka suka mengejek-ejek orang lain untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka (?), dan mungkin juga karena fase perkembangan di saat remaja di mana emosi kita masih labil. Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi di kehidupan seseorang kan ya guys?

Anyway, saya juga tidak ingin hidup di masa lalu dengan memori-memori tersebut, sekarang kita sudah lebih dewasa dan lembaran baru kehidupan pun menunggu untuk kita isi.

All in all, hiduplah dengan sederhana, baik sama semua orang, dan utamakanlah punya ilmu yang banyak daripada hal-hal superfisial lainnya. Once again, do good, and good will come to you, maybe not right away, but it will definitely come back to you.