Dalam hidup ini kita tentu nggak bisa hidup sendiri, karena itulah kita disebut mahkluk sosial. Kita butuh orang lain dalam kelangsungan hidup ini. Tidak terkecuali seorang teman. Pengalaman mengajariku bahwa seharusnya kita tidak perlu bertindak sebagai Tuhan atau pun malaikat. Kita tentu tidak asing dengan istilah semacam sohib, best friend, bbf, teman dekat atau apalah yang mana istilah-istilah itu mmeperlihatkan pada yang lain bahwa kita bukanlah memiliki teman.

Sebagai manusia kita sudah sangat menyadari bahwa kemungkinan kita melakukan kesalahan itu pasti ada. Sikap egois yang tidak mau mengalah, belum lagi jiwa yang labil tapi berpikir bahwa dirinya sudah dewasa, ingin selalu terlihat yang paling oke dan masih banyak lainnya. Seperti kata pepatah, gajah di pelupuk mata tak tampak semut di seberang lautan tampa. Kita sudah paham dengan makna peribahasa satu ini.

Entah kenapa dan terkadang yang mengherankan, kita begitu mudah menghakimi orang lain atas kesalahannya. Apalagi jika kita sudah mengenalnya dengan baik dan berteman dengannya. Kita memberi lebel diri sendiri anak baik-baik tetapi dengan mudah menjudge orang lain. Terlebih membicarakannya dibelakang dia. Kita tau hal itu salah. Membicarakan orang yang sedang melakukan kesalahan juga bukan hal yang benar. Harusnya kita ingat bahwa pertemanan dan persahabatan itu sebuah persaudaraan. Ketika teman atau sahabat salah, kita mengingatkan. Memang bukan hal yang mudah mengingatkan teman yang terus menerus melakukan kesalahan. Tapi disinilah kesabaran kita diuji sebagai teman yang baik dan anak baik-baik.

Teman yang baik mengingatkan kita ketika kita salah, membenarkan kita ketika kita melenceng. Tidak ada gunanya juga membicarakan kesalahan dan keburukannya. Tidak perlu menjudgenya juga atas apa yang telah dilakukan. Mengetahui aib orang lain itu ujian, akankah kita menjaganya atau mengungkapnya. Bukan hal yang mudah menjaga aib orang lain, apalagi jika nurani tidak bisa menerimanya. Apalagi ketika kita atau teman kita berkilah atas nama privasi, tentu saja hal itu semakin menyebalkan. Tetapi tetap saja, menyalahkan atau membicarakan keburukannya bukan solusi.

Jika memang kita tak mampu dan tak sanggup serta bosan menasehatinya, lebih baik diam dan doakan saja teman kita. Toh Tuhan selalu mengabulkan semua doa-doa yang kita panjatkan. Teman kita bukan malaikat, dan kita pun bukan Tuhan yang selalu benar. Jadi nggak perlu mencela teman yang melakukan banyak kesalahan, tetap saja sabar dalam menasehatinya. Karena disinilah sebuah hubungan pertemanan terlihat. Bagaimana sikap kita menghadapi teman yang bermasalah memperlihatkan seberapa dewasa diri kita.