Kadang hidup itu saya rasakan seperti mengendari kendaraan di jalan yang terjal dan berliku dengan jumlah kendaraan yang padat. Bagi saya, medan yang seperti itu hanya dapat dilalui dengan keseimbangan tekanan gas dan kopling yang dipadu berdasarkan feeling.

Tidak ada rumusan yang tepat untuk mereka-reka berapa tekanan gas dan kopling, semua itu berubah-ubah dalam hitungan detik sesuai terjalnya medan, tingkat kemacetan, kondisi kendaraan, dan sebagainya. Hanya feeling yang terbentuk oleh Maha Karya Tuhan lalu diperkuat oleh pengalaman yang sudah-sudah yang bisa menjawabnya.

Sangat berisiko ketika saya mengabaikan feeling itu, kendaraan yang saya kendarai bisa saja bablas mundur menabrak kendaraan yang dibelakang atau melaju tidak terkendali menabrak kendaraan yang ada di depan.

Akhirnya saya paham, ketika tidak ada rumusan yang jelas yang bisa saya gunakan dalam mengambil keputusan, maka saatnya saya gunakan feeling.

Saya pun sadar, saat itulah sesungguhnya saya menjadi seseorang yang sulit dimengerti oleh orang lain.

Advertisement

Meskipun demikian, saya percaya setiap orang memilikinya, feeling. Semoga Tuhan selalu menyatakan kehendak-Nya melalui feeling yang saya miliki.