Soal perempuan dan anak-anak di Indonesia ini masih miris sekali. Gembar-gembor soal perlindungan terhadap anak dan emansipasi perempuan pun seperti hanya dianggap hal sepele atau angin lalu. Wujud nyata yang benar-benar kentara dan membuat semua mata tertuju pada kasus ini pun bisa terbilang hanya dapat dihitung dengan jari.

Padahal ini harus menjadi perhatian serius. Anggapan miring terhadap kaum perempuan makin membuat kami tersudut. Dan banyak anak-anak yang tumbuh dengan tidak layak karena masa muda mereka yang pernah terenggut oleh banyak bentuk pelecehan yang terjadi.

Bahwa perempuan layak untuk hidup senyaman para lelaki hidup.

Pandangi kami dengan pola pikir terbuka. Keseksian kami bisa dinilai dari banyak hal, tak sekedar tubuh yang molek nan sempurna. Cara kami berpikir soal bagaimana menjadi perempuan terhormat dengan memiliki pendidikan yang cukup bahkan mungkin tinggi juga masuk kategori seksi. Berbondong-bondong mencari pekerjaan impian dan ingin memiliki kedudukan yang mungkin sama tinggi dengan banyak lelaki juga seksi.

Beberapa dari kami memutuskan menikah, meninggalkan ego menjadi wanita muda yang bebas, lalu menyerahkan semuanya hanya untuk sang suami dan keluarga itu juga seksi. Kami bahkan dengan senang hati mengandung 9 bulan, berpayah-payah membawa si jabang bayi yang sangat dinantikan kemanapun kami beraktifitas, menyapih, membesarkan mereka, lalu kemudian masih berpikir untuk tetap menjaga bentuk tubuh agar tetap menarik itu juga seksi

Advertisement

Atau mungkin beberapa ada yang merasa bentuk tubuh setelah menikah dan memiliki anak tidak terlalu penting, yang penting anak-anak dan suami semua kebutuhannya terpenuhi, kepercayaan diri mereka ini juga seksi.

Bagi kami sendiri sebagai perempuan, menjadi sempurna dan seksi tak pernah jauh dari soal keluarga dan karir.

Tubuh seksi kami ini anugerah yang membuat kami bersyukur terlahir menjadi perempuan. Tuhan memberikan ini sebagai amanah. Kami jaga dengan cara kami sendiri, dengan keunikan kami sendiri, bukan untuk menjadi bahan pelecehan atau olok-olok. Biarkan kami hidup seperti para kaum lelaki hidup. Nyaman, aman, dan lepas dari rasa takut tentang pemerkosaan atau bentuk pelecehan apa pun.

Bayangan menjadi anak-anak adalah bayangan soal kehidupan yang bebas, yang penuh canda tawa, dan banyak mimpi-mimpi terangkai sempurna dan siap untuk diwujudkan.

Lalu jika sekarang banyak terjadi kasus miris yang merenggut masa muda mereka, tidak takutkah kalian akan jadi apa mereka setelah dewasa nanti? Sudah cukup para orang dewasa saja yang bergelut dengan ego mereka, haus kekuasaan hingga saling menjatuhkan, atau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang atau apapun yang mereka inginkan.

Sudah cukup! Jangan lagi ditambah kasus penganiayaan atau pelecehahan terhadap anak-anak. Jika kita tidak bisa mewujudkan lingkungan yang nyaman bagi mereka untuk bermain, belajar, serta merangkai mimpi, lalu di mana tempat mereka?

Kasus pemerkosaan terhadap anak-anak di bawah umur ini sangat membuat jengah siapapun.

Para orangtua mungkin sekarang akan berpikir berkali-kali lipat untuk membiarkan anak-anak mereka bermain di luar, membebaskan mereka berekspresi sesuai dengan passion mereka, dan membuat mereka lebih banyak belajar soal kehidupan. Apa jadinya jika banyak anak yang dikekang? Dan sebenarnya kita sebagai orang dewasa wajib membuat lingkungan menjadi nyaman dan aman.

Dunia luar adalah dunia yang baik untuk belajar dari segi apapun. Pandangi mereka sebagai sesosok yang wajib dilindungi, jangan pandangi mereka seperti alat yang bisa memuaskan nafsu saja. Kita yang tentukan generasi penerus bangsa ini akan menjadi apa. Tanamkanlah kebaikan, supaya mereka bisa membuat kita bangga. Untuk para orang dewasa, sesekali berpikirlah untuk mereka dan tentang mereka. Kali ini gunakan hati nuranimu lebih banyak daripada ego dan nafsu saja.