Memendam perasaan suka itu menyebalkan. Kita lelah menduga-duga sekaligus gembira luar biasa saat yang disukai menunjukkan sinyal positif. Meskipun terkadang biasa saja, tapi tiba-tiba jadi luar biasa karena diselubungi angan-angan penuh bunga. Kita menyimpulkan sesuai apa yang ingin kita dengar.

Lebih menyebalkan lagi ketika diri sedang dirundung rindu. Saat mata telah lama beristirahat dari melihat kelabat wajahnya. Diri jadi serba salah. Setiap saat mematut layar ponsel, mencari daftar kontak, berhenti pada namanya tapi hanya sampai di situ. Maksud hati ingin menghubungi, tapi gengsi dan tidak menemukan alasan bagus untuk memulai percakapan.

Terkejut setiap kali ponsel berdering. Harapan tiba-tiba melambung untuk kemudian jatuh lagi setelah melihat yang menghubungi ternyata bukan dia. Sungguh, rindu itu menyebalkan. Ia ibarat tenggorokan kering yang haus sepanjang waktu. Menawarnya tak cukup hanya dengan segelas air. Tapi begitu diteguk, ingin lagi untuk seterusnya. Pertemuan jadi tidak manjur sebagai obat atau sekedar menurunkan dosisnya.

Pertemuan berkhianat jadi semacam candu, melipatgandakan rindu. Membuat satu pertemuan tidak terasa cukup. Selamanya tidak akan pernah cukup. Kamu tahu apalagi yang lebih menyebalkan dari itu? Kita tidak pernah bisa bilang kalau kita rindu, apalagi ke orang yang sedang kita rindui. Duluan malunya. Setiap kali mau bilang pasti urung, jadi geregetan sendiri. Seolah-olah kata itu adalah aib besar paling memalukan bila terungkap. Duh!

Kita juga mendadak jadi aneh, mendadak melankolis. Daftar musik di ponsel berubah mellow semua. Kita lebih sering memutar lagu-lagu galau. Meskipun menurut artikel yang pernah kubaca, mendengarkan lagu-lagu galau efeknya sama seperti curhat dengan sahabat terdekat. Tapi tetap saja aneh. Sendu.

Advertisement

Hal terakhir yang paling menyebalkan lagi adalah ketika si dia yang disukai ternyata menyukai orang lain. Apalagi orang tersebut dekat dengan kita. Huh! Tambah rumitlah urusan perasaan itu. Makin kacau balaulah cerita yang hendak dibangun. Marah, kecewa, sekaligus harap tumpang tindih menikam perasaan. Kita ingin marah tapi tidak tahu hendak marah pada siapa. Akhirnya malah berbalik mengasihani diri-sendiri, merasa tidak berdaya.

Menyebalkan sekali bukan?