Alkisah pada suatu ketika saya diberi tugas oleh atasan saya untuk menyelesaikan beberapa lembar dokumen. Pekerjaan yang sederhana sebenarnya, tapi entah apa yang ada di otak saya saat itu. Pekerjaan semudah itu tidak saya kerjakan dengan ketelitian. Padahal biasanya saya tidak seteledor itu bahkan untuk pekerjaan yang lebih kompleks. Singkat cerita keteledoran saya tersebut membuat atasan saya repot menyelesaikannya. Pagi sampai di kantor, saya lihat atasan saya yang tadinya mengobrol dengan teman saya tiba-tiba beranjak dan seperti memberi kode pada teman saya itu.

Fitrah cewek untuk sensitif terhadap hal-hal semacam ini. Maka kemudian bertanyalah saya pada teman saya itu, dan ia ternyata seperti yang saya duga mereka membicarakan saya. Diceritakannya detail perihal keteledoran yang menyebabkan kerepotan yang luar biasa (setidaknya menurut dia) pada atasan saya itu. Ok, mungkin memang saya harus mengakui kesalahan dan keteledoran saya tersebut kemudian minta maaf. Meski saya akui tak mudah, namun saya anggap semua ini menjadi upaya saya memperbaiki keadaan serta sebagai ajang pembelajaran pada diri sendiri. Maka sikap skeptis dan ekspresi tidak menyenangkan yang saya dapatkan saat meminta maaf harus saya terima, karena saya meyakini sebuah tujuan yang lebih besar.

Selang dua hari, aktifitas pagi di kantor seperti biasa. Yang sedikit lain adalah lagi-lagi atasan saya itu bersikap aneh. Menjelang siang atasan saya dan teman saya ternyata ada sosialisasi. Nah disitu saya merasakan perasaan aneh yang tak biasa. Hati seperti gusar, tangan dingin, detak jantung seperti tak biasa. ‘Perasaan’ itu datang, dan saya berasumsi mereka membicarakan saya. Yah, beruntunglah teman saya itu seperti sudah selayaknya sahabat ia bercerita perihal pembicaraan mereka di acara sosialisasi itu. Dan ya, lagi-lagi tentang saya.

Saat itu saya sudah menduga bagaimana atasan saya itu membicarakan hal negatif, keburukan, dan kejelekan dengan berapi-api dan penuh hiperbola. Namun seketika teman saya mau menceritakan detail apa yang mereka bicarakan, sontak saya menghentikannya. Bukan apa-apa, saya tidak mau mood saya berubah atau perut menjadi mual gegara hal-hal (maaf) remeh temeh kayak gini. Meski sebenarnya saya termasuk golongan paling cuek pada hal-hal seperti ini, namun saya juga tidak mati rasa. Mungkin karena terlalu berlebih-lebihan, jadi kalau kata orang jawa kupingnya menjadi panas.

Nah belajar dari pengalaman saya tersebut, maka satu kesimpulan penting yang bisa saya tarik dari sini. Seperti ajaran agama mengatakan agar kita tidak membicarakan keburukan orang. Bahkan meski itu benar sekalipun tetap saja membuat tidak nyaman. Maka benarlah kata pepatah, bahwa fitnah lebih kejam dari membunuh. Ternyata efek samping fitnah sangatlah besar pada ‘si obyek’ fitnah.

Advertisement

Mungkin ada diantara kalian yang pernah mengetahui tentang sebuah ajaran bahwa dosa-dosa akan berguguran saat orang-orang membicarakan kita dibelakang, mungkin itu benar adanya. Namun tentu saja dengan dengan syarat utama, harus berlapang dada dan tidak menanggapinya secara emosional. Meski ada iming-iming dosa-dosa yang digugurkan namun bukan berarti kita lalu senang dibicarakan oleh orang lain. Hal-hal negatif tetap harus kita hindari. Bukan apa-apa, semua hal negatif memiliki konsekuensi yang tidak baik pula. Bahkan kadangkala dampak-dampak yang dihadapi menjadi diluar ekspektasi kita.

Maka kemudian bagaimana baiknya kita saat tahu ada yang membicarakan kita di belakang? Bad mood pasti, sebel empet mungkin iya, namun berlarut? Jangan sampai. Buang jauh-jauh dan jangan sampai bersemayam lama dalam otak kita. Alihkan pada hal-hal penting lainnya. Anggap hal-hal itu sebuah sampah yang tidak layak berada di otak kita. Berpikirlah simpel, saat kamu berlapang dada menerimanya siapa tau dosa-dosa kita terampuni. Hehe

Maka biarkanlah mereka, pihak-pihak nyinyir (maaf) berbicara apapun terkait kita selama kita tetap bersikap positif. Jikalaupun memang kita berbuat kesalahan maka berbesar hatilah untuk meminta maaf. Itu salah satu cara kita mendewasa dan mendapat pembelajaran yang pastinya berharga. Buktikan pada mereka, bahwa generasi muda juga bisa bersikap dewasa.

Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya, jangan tiru sikap-sikap nyinyir itu. Simpel, apa untungnya sih kita membicarakan tentang orang lain, lebih-lebih tentang keburukan mereka sampai berbuih-buih pula? Yang ada, udah mulut capek membicarakan hal-hal yang sama sekali nggak penting buat hidup kita, nambah dosa pula. Mau? Jangan sampe deh.