Setelah sekian lama aku menutup pintu hatiku, akhirnya aku bisa mencoba kembali membukanya dengan pertemuan denganmu yang tidak disengaja. Waktu pengenalan yang begitu singkat sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menerima cintamu dan berharap hubungan ini tidak akan berakhir sesingkat waktu pengenalan kita. Aku menerimamu bukan ingin menjadikanmu sebagai calon pacar, tapi calon suami yang selama ini aku impikan, dan kamu pun mengatakan hal yang sama.

Aku bahagia ternyata misi kita itu sama. Berada di dekatmu aku merasakan kenyamanan, kehangatan bahkan rasa percaya diri bahwa aku adalah wanita yang beruntung yang telah kamu pilih untuk menjadi calon istrimu, ya calon istri.

Setiap aku di dekatmu kamu selalu mengatakan hal-hal yang membuat jantungku berdegup kencang, dan air mata ku menetes haru karena bahagia, dari mulai kamu bilang aku wanita yang segera akan menyempurnakan hidupmu, kamu bilang aku wanita yg bisa mengubahmu menjadi lebih baik, sampai kamu membangun dengan kata-kata indah tentang pernikahan kita nanti. Pernikahan yang menjadi impian setiap wanita di dunia ini, yang selalu membuatku merasa menjadi wanita terbahagia.

Hari demi hari aku lalui bersamamu, kebahagian kebahagian itu aku pikir semakin dekat, kamu selalu bilang kamu takut kehilangan aku, aku selalu meyakinkan kamu bahwa aku akan selalu ada di samping kamu, tanpa kamu tau sebetulnya aku yg lebih takut kamu pergi, kamu tinggalkan aku, dan menghilang seperti pria-pria sebelumnya yang lebih dulu pergi dariku.

Hatiku semakin yakin untuk menjadikanmu pendamping hidupku. Kamu selalu ada di dalam setiap sujud dan doaku, sampai akhirnya aku baru mengetahui statusmu yang sudah pernah menikah dan memiliki dua orang putra. Saat itu hatiku merasa hancur, aku kecewa, aku sakit, karena kamu membiarkan aku mengetahuinya sendiri. Bukan karena kamu yang jujur dan memberitahuku langsung dari mulutmu. Mungkin jadinya tidak akan sesakit ini. 

Advertisement

Kamu pun kembali meyakinkanku. Kamu bilang kamu takut kehilangan aku setelah aku mengetahui statusmu yang sudah pernah menikah itu sampai akhirnya aku tetap memilih bersama denganmu dan melanjutkan impian-impian awal kita untuk merajut bahtera rumah tangga, dan aku tau semua konsekuensi yang ada. Dari mulai orang tua, keluarga, teman teman, bahkan tetangga dan orang orang yang akan mencibirku karena menikah dengan pria yang sudah pernah menikah dan memiliki putra.

Dengan keyakinanku untuk bisa bahagia bersamamu, aku berhasil meyakinkan semua orang bahkan orang tuaku sendiri bahwa kamu layak menjadi suami dan calon imam untukku. Karena, statusmu itu aku rasa bukan sebuah aib, tapi sebuah anugerah karena Allah telah memberiku tiga pria sekaligus di usiaku yang tidak lagi muda ini. Dan, aku berhasil mengambil cintamu, cinta anak anak mu, cinta keluargamu walau masih banyak sentilan-sentilan cibiran yang selalu aku dengar dari mulut-mulut mereka yang selalu mencari kesalahanku dan tidak suka melihat kebahagiaanku, tapi aku tidak pedulikan mereka karena aku bahagia.

Ternyata kebahagiaan yang telah Allah beri ini hanya bisa aku rasakan beberapa saat saja dimana pernikahan impian itu akan berlangsung dalam waktu dekat. Kamu memilih pergi dan meninggalkanku. Kamu memilih mengakhiri hubungan yang telah kita rajut bersama dengan suka dan juga duka. Kamu memilih pergi setelah aku bisa ikhlas menerima statusmu yang telah memiliki dua orang putra. Kamu memilih pergi setelah aku berhasil meyakinkan orang tua dan keluargaku. 

Kamu memilih pergi setelah aku selalu berada di sampingmu saat sehat maupun sakit. Kamu telah memilih pergi saat anak-anakmu bisa menerima dan mencintai aku seperti aku mencintai mereka. Dan, kamu telah memilih pergi dan menghancurkan mimpi yang telah kamu bangun sendiri tentang pernikah indah itu. Kamu memilih pergi meninggalkanku tanpa alasan dan tanpa memikirkan perasaanku.  Perasaan wanita yang telah kamu hancurkan mimpi dan cintanya. 

Sekarang aku sendiri lagi. Bukan karena aku yang telah menutup hati,tetapi karena hati ini yang sengaja ditinggal pergi.