Dear kamu.. Kamu cantik, kamu pintar, kamu menarik, juga dengan segala kelebihanmu itu. Kamu gadis yang nyaris sempurna, tidak bisakah kamu mencari lelaki lain?! Jangan kekasihku. Kekasihku telah menceritakan semua tentangmu, tentang kamu yang hanya dianggap teman. Termasuk tentang kamu yang entah sadar atau tidak meminta kekasihku menjadikanmu yang kedua, kamu yang meminta kekasihku untuk menduakan aku.

Tapi aku bersyukur karena kekasihku tak mau menerimamu, ajakkan gilamu untuk menduakan aku. Mau sampai kapan kamu jadi duri dalam hubungan kami? Tak bosankah kamu, menerima penolakkan, juga penolakkan darinya. Mau sampai kapan kamu mengemis cinta pada kekasihku? Bukankah dia sudah katakan, hanya ada ada namaku di hatinya.

Apa kamu tau? Hubungan jarak jauh ini saja sudah cukup menyiksaku, membuatku was-was juga tak tenang. Maka kumohon menjauhlah dari kekasihku, jangan lagi kamu katakan hal gila itu padanya. Kamu gadis cantik, baik, pintar, juga gadis yang mudah bergaul. Maka kumohon lupakan rasamu pada kekasihku, hapus rasa yang tak sepantasnya ada itu.

Aku yakin kamu bisa dapatkan lelaki yang lebih baik dari kekasihku, carilah yang lain. Jangan terus-menerus mengemis cinta pada lelaki yang jelas tak menyukaimu. Terlebih lelaki yang kamu harap itu adalah kekasihku, kekasih yang sunggu amat sangat mencintai gadisnya.

Kita sesama perempuan, bukan? Seharusnya kamu mengerti bagaimana perasaanku, bagaimana takutnya aku. Lagipula apa kamu tega? Tega memisahkan sepasang kekasih yang saling mencintai. Kekasihku telah membuktikan kesetiaannya, dengan terus-menerus menolak ajakkan gilamu untuk menduakan aku. Kekasihku selalu katakan dengan tegas jika dia sudah jadi milikku, jika dia tak akan pernah mau menduakan aku, karena memang hanya ada namaku di hatinya.

Advertisement

Lagipula mau sampai kapan kamu merendahkan dirimu sendiri? Kamu cantik, dengan segala kelebihan yang ada dalam dirimu. Tidak sepantasnya kamu mengemis cinta lelaki yang sudah jadi milik yang lain, lelaki yang bahkan sudah menobatkan hatinya hanya untukku.

Gadis baik.. Aku berterima kasih padamu, karena kamu selalu ada untuk kekasihku, menemaninya saat dia jauh di sana. Tapi aku mohon jangan pernah berharap lebih padanya, bukankah lelakiku juga mengakatakan hal yang sama? Karena memang di hatinya hanya ada namaku.

Kamu boleh mengakatakan aku terlalu percaya diri, karena selalu mengatakan di hatinya hanya ada namaku, tapi memang itulah nyatanya. Bahkan sebelum kami menjadi sepasang kekasih, ada penantian panjang lelaki yang kini jadi kekasihku itu. Lelakiku yang dulu mau menunggu aku selama dua tahun lamanya, menunggu tanpa kepastian, dan tetap bertahan mencintaiku.

Bukankah dia juga telah menceritakan semua padamu, menceritkan bahwa dia amat sangat mencintaiku. Betapa hanya ada namaku, betapa dia amat sangat menyayangiku. Maka jika aku boleh meminta padamu, wahai gadis baik, aku hanya ingin kamu berhenti mengejar-ngejar kekasihku.

Carilah lelaki yang lebih baik darinya, aku yakin kamu akan temukan lelaki yang lebih baik darinya. Aku tidak melarangmu untuk berteman dengannya di sana, di kota yang menjadi tempat kalian menimba ilmu. Hanya saja satu pintaku, jangan pernah berharap lebih padanya.

Hubungan jarak jauh ini saja sudah cukup menyiksaku, membuatku tak tenang, membuatku dilanda rindu, juga rasa takut. Maka kumohon jangan kamu tambahi lagi bebanku, kamu gadis cantik.

Salam hangat dariku, gadis yang (mungkin) kamu benci ini.