Hari itu kabar duka menyelimuti keluarga kami. Saya yang waktu itu masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas, bergegas pulang, begitu pihak sekolah memberitahu kejadian tersebut. Batin sedemikian terguncang, perasaan huru hara, ingin rasanya kutumpahkan air mata saat itu juga. Ku pacu sepeda motorku secepat kilat, begitu sampai di rumah, hanya beberapa orang yang masih tersisa, ternyata rombongan telah menuju lokasi pemakaman.

Sesaat kutarik nafas panjang, lalu sesegera mungkin menyusul. Ayahku nampak tegar diantara pelayat lain, namun binar-binar matanya tak membuat ku sulit untuk menyimpulkan bahwa batinnya sedang compang-camping. Begitupula ibuku, dia nampak sangat lemah, kelakuannya memberi isyarat bahwa dia belum percaya kalau wanita renta yang kesehariannya itu lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur, telah pergi untuk selama-lamanya.

Kejadian 4 tahun silam masih lekat dalam ingatan saya, nenek pergi untuk selamanya. Tak ada lagi kisah-kisah ajaib tentang almarhum kakek yang sering beliau ceritakan. Sebagai satu-satunya cucu laki-laki di dalam keluarga, saya memang kerap kali menanyakan bagaimana kehidupan kakek semasa hidupnya. Dan yang menjadi pemateri utama dalam diskusi ini adalah almarhum nenek saya. Kakek saya meninggal sewaktu saya berumur 2 tahun. Saya belum mengerti apa-apa saat itu. Akhirnya untuk menuntaskan dahaga pengetahuan saya tentang kehidupan beliau, nenek adalah narasumber yang paling pantas untuk di koreksi. Nenek saya sering bercerita bahwa dulunya lelaki terbaik versinya itu adalah seorang pejuang semasa penjajahan Jepang.

"Nenek tak tau persis, berapa umur nenek ketika menikah dengan kakekmu. Tapi seingat nenek, waktu itu nenek telah beberapa kali mengalami haid." Saya dapat menyimpulkan bahwa keduanya menikah di usia yang sangat muda. Sebab menurut petuah-petuah kampung, memang dulunya itu wanita-wanita di anjurkan untuk menikah muda, demi menghindari kebiadaban tentara Jepang. Mereka sering memasuki pemukiman penduduk, lalu mencari satu-dua gadis desa untuk memenuhi nafsu bejatnya.

"Kakek mu adalah seorang pejuang bagi bangsa dan istrinya. Kakek mu adalah orang yang taat dengan agamnya. Makanya nanti, kamu jangan sekali-kali meninggalkan ajaran agamamu dalam kondisi apapun. Ingat itu!" Itulah beberapa petikan yang terkadang membuat batin saya menjadi basah jika mengenang wanita itu. Kini saya sedang merantau demi melanjutkan pendidikan saya. Namun ketika liburan tiba, saya tak pernah alpa untuk mengunjungi makamnya di kampung.

Advertisement

Saya yakin, bahwasanya nenek telah berada di tempat terbaik di sana. Nasihatnya abadi di dalam benak saya hingga saat ini. Dia sering menekankan kepada semua cucunya agar selalu taat dalam beribadah. Bagi dirinya, sesukses apapun seorang manusia, jika orang tersebut jauh dengan pencipta-Nya, maka dia tak akan pernah menjumpai ketenangan. Ada gemuruh di dada jika mengenang sosok yang satu ini. Di mata saya, nenek adalah pepohonan rindang bagi setiap cucunya, nasihatnya adalah energi yang membuat kami terus bergerak.

Apa yang dulu sering ia katakan, serupa pupuk yang menggemburkan kehidupan kami sekarang. Alfatihah untuk almarhum kakek dan nenek. Semoga kalian kembali dipertemukan di sana. Kelak, cucumu ini akan menyusul kalian, saya akan berada di tengah-tengah kalian berdua, lalu dengan perasaan senang kembali menjadi pendengar yang baik atas semua kisah yang kalian ceritakan.