Dear kamu.. Kamu lelaki keras kepala, yang lebih dari kata pala batu. Aku tahu kamu mungkin masih menyimpan amarah, kesal, tak suka atau mungkin benci padaku. Kamu lelaki yang tak pernah mau mendengar, namun selalu ingin didengar. Apa kabarmu?

Ku harap baik, seperti yang selalu aku lihat tiap harinya. Sebelumnya maafkan jika perkataanku tempo hari begitu melukai hatimu, membuatmu kesal, hingga membenci diri. Tapi ku mohon mengertilah, mengertilah! Semua yang telah aku sampaikan itu bukan karena aku membencimu, bukan karena aku menginginkan kehancuranmu.

Tapi karena aku peduli, semua karena bentuk kepedulianku padamu wahai lelaki keras kepala. Kamu boleh berfikir jika aku selalu mendoakan kehancuranmu, meski nyatanya tidak begitu. Dalam hati aku selalu berdoa, berdoa agar Allah selalu memberi yang terbaik untukmu.

Aku akui mungkin caraku salah, caraku mengingatkan mungkin terlampau kasar. Namun semua itu karena aku tak tahan lagi, tak tahan akan attitude mu yang begitu buruk. Aku hanya ingin kamu memahami kesalahanmu. Membuang sikap, sifat, juga perangaimu yang buruk itu. Aku hanya ingin kamu berubah lebih baik lagi, memperbaiki segala perangaimu. Bukan karena aku ingin mengekangmu, bukan karena aku ingin mengatur, atau membatasi dirimu. Tapi semua itu karena aku begitu peduli padamu, jujur aku memang mengkhawatirkan kamu. Bukan tanpa alasan aku mengkhawatirkan kamu.

Aku hanya takut, takut jika perangai burukmu itu akan berbuah malapetaka pada dirimu sendiri. Wahai pala batu, aku peduli padamu, mengertilah! maka ku mohon, ku mohon resapilah, pikirkan, juga pahamilah setiap kata yang telah aku katakan. Maaf jika kata itu memang melukai hatimu, maaf jika aku terlalu kasar padamu, tapi itu karena aku peduli. Aku hanya tidak ingin kamu hancur karena perangaimu sendiri, aku hanya tidak ingin keburukkan yang ada dalam dirimu itu mulai menghancurkan kamu secara perlahan.

Advertisement

Pernah mendengar pepatah? Yang kira-kira seperti ini bunyinya:

Mulutmu harimaumu. Begitu pula dengan kamu, perangaimu akan menghancurkanmu suatu hari nanti. Menghancurkan segala yang ada, dan membuatmu dibenci banyak orang. Oleh karena itu aku mohon pikirkanlah semua yang telah aku katakan, karena semua itu demi dirimu sendiri. Sekali lagi maaf, maafkan semua perkataanku yang mungkin terlampau kasar untuk didengar. Namun jika kamu mau berpikir, juga kembali meresapi setiap yang aku katakan- semua itu adalah bentuk dari keperdulianku. Maaf jika akhirnya keperdulianku ini membuatmu kesal, bahkan membuat kamu jadi membenciku. Namun aku mohon ubahlah semua perangai burukmu itu, jadilah lelaki yang lebih baik lagi. Bukan untukku, bukan untuk siapa, tapi untuk dirimu sendiri, untuk kebaikanmu. Jadilah lelaki yang juga memdengar, bukan hanya ingin di dengar. Jadilah lelaki penerima nilai, bukan hanya lelaki yang memberi nilai. Jadilah lelaki yang juga bertindak, tidak hanya berkata. Jadilah lelaki yang terbiasa menerima kata tidak, bukan kata iya.

Perbaiki dirimu ya ganteng, perangai juga segala yang ada dalam dirimu. Sekali lagi bukan untuk aku, bukan untuk apa, bukan untuk siapa, tapi untuk dirimu sendiri. Untuk hidupmu, untuk kedamaian hidupmu, untuk masa depanmu, untuk dirimu sendiri. Ingatlah selalu luka hati, berbeda dengan luka fisik. Karena memang berbeda, luka hati tak nampak, namun luka fisik nampak. Menyembuhkan luka hati tak semudah, menyembuhkan luka fisik. Aku hanya tak ingin perangaimu membuat kamu dijauhi, dicampakkan dikemudian hari. Aku hanya tak ingin ada orang yang diam-diam menyimpan dendam padamu, karena perangaimu. Sekali lagi semua karena aku peduli, aku selalu mengharap kebaikkan untukmu pada Allah SWT.