Sebelumnya, aku tidak pernah merasakan seperti ini. Sebelumnya, cinta hanya sebuah noktah kecil yang biasa. Hingga saat aku bertemu denganmu, aku melihat noktah kecil itu mampu menampung banyak asa. Aku melihat kata cinta itu di dalamnya terdapat harapan dan cita-cita.

Aku bukan gadis istimewa. Aku bukan seorang putri raja. Aku bukan ratu kecantikan dunia. Aku pun bukanlah dewi cinta. Aku gadis biasa dengan kehidupanku yang biasa dan semua tentangku sangat biasa. Aku yakin, kamu pasti telah menemukan kebanyakan gadis biasa seperti aku di sepanjang hidupmu.

Tapi kamu tahu. Sejak mengenalmu, aku sedikit berbeda. Aku jadi lebih sering berhias sampai-sampai saudara perempuanku sering terlambat karena aku terus-terusan berada di depan cermin. Aku belajar menggunakan lipstik dan pensil alis. Aku akan mempersiapkan gaunku lebih dari seminggu sebelum acara kencan denganmu. Aku selalu ingin tampil sempurna di matamu.

Setahun berlalu, dua tahun berlalu. Perasaanku masih sama. Aku selalu jatuh cinta lagi dan lagi setiap kubertemu denganmu. Aku jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama, yaitu kamu. Aku masih sering salah tingkah meski sudah ribuan kali berdua denganmu. Wajahku masih saja merah setiap kali kamu merayuku.

Kamu tahu? Kebahagiaan macam apa yang aku rasakan, ketika hari yang sangat aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga? Kalau saja aku punya sayap, kamu pasti akan kewalahan mengejarku karena aku akan terbang setinggi mungkin saking bahagianya ketika kamu datang melamarku.

Advertisement

Hari ini, ketika kamu mengucapkan janji setiamu padaku di hadapan mereka, aku merasa menjadi wanita paling beruntung sedunia. Aku merasa akulah si gadis istimewa. Akulah si putri raja. Akulah si ratu kecantikan dunia. Akulah dewi cinta yang sesungguhnya. Karena apa? Karena aku adalah wanita yang dipilih Tuhan untuk mendampingi setiap langkahmu di dunia.

Padaku akan kamu leburkan semua lelahmu. Padaku akan kamu sandarkan semua perihmu. Padaku akan kamu berikan seluruh hidupmu. Aku yang akan menyambutmu saat kamu datang. Aku yang akan menemani hari-harimu. Aku yang akan melayanimu dengan penuh cinta. Aku yang akan menghadirkan dan membesarkan penerusmu. Aku yang selalu setiap dua puluh empat jam di sisimu, tanpa alpa sekalipun.

Untukmu yang akan mengucapkan janji setia padaku di hadapan mereka, pahamilah! Aku tidak datang dengan sejuta kelebihan. Tapi aku datang dengan ketulusan untuk terus memperbaiki kekuranganku, untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik di sisimu.

Aku tidak selalu memberikanmu solusi atas segala persoalanmu. Tapi aku selalu menyediakan pelukan hangat untuk membantumu melewati hari-hari berat itu. Aku tidak mengerti tentang pekerjaanmu di kantor. Aku tidak bisa membantumu menyelesaikan lemburmu. Tapi kedua tanganku selalu siap membuatkanmu secangkir kopi hangat. Bibirku pun akan terus cerewet mengkhawatirkan kesehatanmu karena terlalu banyak lembur. Aku akan selalu di sisimu dalam apapun keadaanmu.

Aku butuh sedetik untuk menjawab ‘Ya!’ atas lamaranmu. Tapi aku butuh seumur hidup untuk membuktikan jawaban itu padamu. Mungkin aku tidak seromantis yang kamu inginkan. Tapi aku berani bersumpah! Sejak janji setia itu terucap di hadapan mereka, seumur hidupku adalah bakti padamu. Aku dan seluruh hidupku telah kutujukan untukmu.

Untuk lelaki yang akan mengucapkan janji setia padaku di hadapan mereka, ini aku. Wanita biasa yang menjadi luar biasa karena kamu pilih. Ini aku, wanita yang tidak selalu pahami kamu tapi selalu mau belajar menjadi yang terbaik untukmu. Sekali lagi, aku tidak datang dengan sejuta kelebihan. Tapi aku berjanji, seiring berjalannya waktu akan kuperbaiki kekuranganku untukmu.

Tertanda calon pengatin wanitamu.