Selamat malam jiwa-jiwa yang luka. Bagaimana kabar kalian?

Aku harap kini kalian tengah menjelma menjadi wanita yang kuat, tegar, tangguh, jauh dari kata nelangsa, galau, merana. Memang demikianlah seharusnya kalian bersikap setelah badai itu datang dan meluluh lantakkan hati. Kalian harus bangkit dan kembali menata hidup. Walau bagaimanapun, hidup terus berjalan. Aku paham kok bahwa proses menuju ketegaran itu tidaklah mudah. Bagaimana tidak? Ini bukan soal patah hati yang hanya melibatkan dua insan yang sedang jatuh cinta. Yang diingkari bukan hanya janji yang diutarakan pada kalian, melainkan janji yang diikrarkan di depan orang tua kalian. Yang dipatahkan bukan hanya pengharapan yang kalian punya, melainkan pengharapan besar kedua orang tua kalian. Bahkan sampai detik ini, kalian tak pernah tega mengecewakan mereka kan?

Ia memang layak untuk diumpat. Bahkan apabila kalian kumpulkan umpatan-umpatan yang ada di seluruh dunia sekalipun, belum cukup untuk melegakan perasaan kalian yang terlanjur kacau balau olehnya. Dan aku yakin, ini semua terjadi bukan karena kalian bodoh. Aku percaya kalian bukanlah tipe wanita yang mudah ditaklukkan. Dia, pengkhianat terbesar dalam hidup kalian itu, dulu pernah berusaha mati-matian untuk mengejar kalian. Kalian tidak mau gegabah dan main-main, sampai segala aspek kalian pertimbangkan dan kalian nilai. Tentu masih jelas diingatan kalian betapa kerasnya ia berjuang agar kalian yakin bahwa ia cukup layak untuk mengemban amanah sebagai nahkoda di kehidupan kalian yang baru. Hingga akhirnya keyakinan itu datang juga.

Bergegaslah kalian berdua menemui orang tua kalian, menyampaikan visi dan misi kalian untuk membangun rumah tangga. Lalu ia mulai membual soal rencana masa depan yang seolah-olah tersusun rapi, mengutarakan mimpi-mimpi, membuat mata kalian berbinar, berkaca-kaca karena terharu. Orang tua mana yang tega memadamkan binar kebahagiaan di mata anaknya dengan menjawab “jangan” ? Terlebih, rencana dan mimpi-mimpi yang ia buat cukup rasional.

Tapi sayang, ternyata kalian salah. Dia hanyalah orator yang handal. Dia bukan pejuang sejati, bahkan dia bukan laki-laki. Lihatlah dia, yang baru kemarin begitu mantap menghadap orang tuamu dan menggebu-gebu menyampaikan visi misinya, lalu berubah. Entah kenapa ia berubah menjadi acuh, dingin, dan kalian memprotesnya. Ia justru tidak terima. Kalian penasaran, dan menanyakan soal komitmennya. Tapi apa yang pernah dikatakannnya pada kalian dan pada orang tua kalian seakan hanyut terbawa arus. Hilang entah kemana. Singkat cerita akhirnya dia pergi dengan alasan yang tidak logis, mengada-ada dan sulit dipertanggungjawabkan. Tak lama berselang akhirnya kalian tahu bahwa ia pergi untuk hati yang baru.

Advertisement

Sudahlah, tak perlu bersedih. Bersyukurlah pada Tuhan yang telah menunjukkan siapa sejatinya dirinya. Bersyukurlah karena Tuhan telah membuka topengnya sekarang, sebelum kalian melangkah lebih jauh. Memang ini menyakitkan, tapi bukankah lebih menyakitkan andaikan pengkhianatan ini terjadi selepas kalian menikah, atau justru di saat kalian telah mempunyai anak? Ikhaskanlah saja dia pergi. Ingatlah, Tuhan tak pernah ingkar janji. Jiwa yang baik akan dipasangkan dengan jiwa yang baik pula. Dan kalian layak untuk pria yang jauh lebih baik.

Tentang pengkhianatannya, maafkanlah dan lupakan. Itu jauh lebih menentramkan. Terus-terusan membenci dan mengutuknya justru ibarat menempelkan namanya di hati kalian dengan lem super kuat. Ketika itu terasa sulit dilakukan, yakinlah bahwa kebaikan atau keburukan yang kita perbuat, sekecil apapun itu, pasti ada balasannya. Itu sudah menjadi janji Tuhan. Kembalikan rasamu pada-Nya. Usah kalian kotori lidah dan hati dengan sumpah serapah. Apalagi mengotori tangan untuk membalas dendam.

Wahai kalian, wanita-wanita istimewa, tersenyumlah dan bangkit. Banyak hal yang jauh lebih penting dari sekedar patah hati. Studi atau karirmu yang menanti untuk dimekarkan, keluarga besarmu yang senantiasa memberimu pelukan, sahabat-sahabatmu yang selalu menawarkan keceriaan, serta Tuhan yang tak akan berlama-lama membiarkanmu dalam kesedihan. Kelak, Tuhanmu akan menggantinya dengan kebahagiaan yang tak pernah kau bayangkan. Jadi,, masihkah layak meluangkan waktu untuk meratapi patah hati yang kau alami?