Benarkah kita baik? Yakin?

Kita tidak pernah benar-benar baik, Darl. Kita baik hanya karena 'aib-aib' kita disembunyikan dengan baik.

Bukankah kita masih sering dibicarakan oleh orang-orang yang 'seolah mengenal kita'?

Bagaimanapun pendapat orang atas diri kita, toh pada akhirnya tidak ada yang paling mengenal siapa diri kita yang sebenarnya, selain kita sendiri.

Tidak ada selain kita sendiri.

Advertisement

Mereka membicarakan diri kita seolah sudah mengenal baik siapa kita? Sudahlah, tidak mengapa.

Di dunia ini, dimana kita berjalan dengan kedua kaki kita sendiri. Di hari ini, toh masih banyak orang yang tidak kita kenal dengan baik pula.
Tidak perlu kan? Artinya apa?
Sama halnya dengan keberadaan kita saat ini, tak mengapa orang lain tak mengenal kita dengan baik.

Sungguh tak mengapa.

Coba pikirlah sekali lagi, apakah kita benar sudah baik?

Atas sekian banyaknya kejadian yang kita alami selama ini, bukanlah demi kebaikan bumi atau demi umat manusia, melainkan demi diri sendiri, sebagai individu yang egois.

Kita tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain untuk mengerti, atau makhluk lain yang ada, tentu saja tidak bisa, tidak mungkin bisa.

Sebagai manusia yang berbeda dengan makhluk lainnya, terkadang terbersit pikiran untuk memanfaatkan satu sama lain, atau bahkan saling membunuh.
Tapi mustahil untuk bisa saling mengerti.

Sebenarnya, kita bahkan tidak terlalu memikirkannya saat kita menemukan makhluk lain demi diri kita sendiri.

Sesungguhnya kesombongan kitalah yang membuat kita merasa mengerti perasaan makhluk lain.

Mungkin tidak ada makhluk lain yang bisa menjadi teman sejati untuk manusia. Tapi, meski kita tidak bisa memahami mereka, mereka tanpa ragu berhak untuk hidup sama halnya seperti kita.
Kita melindungi makhluk lain seperti anjing, kucing dan burung, karena manusia itu sendiri adalah makhluk yang kesepian.

Kita melindungi alam sekitar kita, pepohonan, rumput, karena demi kita sendiri, karena kita tidak ingin punah.

Apa yang memotivasi kita sebenarnya adalah hanya demi diri kita sendiri, kepuasan manusia.

"Apa yang memotivasi kita sebenarnya adalah hanya demi diri kita sendiri, kepuasan manusia."

Tentunya itu bukan masalah, tak mengapa, karena itulah yang dibutuhkan.

Tidak ada gunanya menilai manusia lain dengan standar manusia lainnya.

Tidak ada gunanya menilai kebaikan orang lain dengan standar baik ala kita juga.
Tentu saja begitu, itulah kebenarannya.

Karena pada akhirnya kita dianggap munafik jika mencintai bumi tanpa mencintai diri kita sendiri.

Karena mencintai diri kita sendirlah kita akhirnya mau tak mau harus mencintai bumi.

Itulah kebenarannya!

Bagaimanapun kondisi bumi saat ini, sukurilah betapa damainya bumi yang kita tinggali saat ini.

Meskipun angka kriminalitas meningkat, perang pun masih tak berhenti, sementara kerusakan lingkungan setiap harinya terjadi.

Namun sejak awal dilahirkan kita memang tidak begitu, masih tidak sadar juga?

Kenapa pembunuh dianggap sebagai penjahat ketika membunuh jenis kita sendiri.

Sementara jika jenis lain?

Dalam pandangan yang lebih sempit, memang mereka adalah musuh. Tapi dalam pandangan yang lebih luas mereka tetaplah sama 'makhluk hidup' juga.

Kita semua terlahir di planet bernama bumi untuk hidup bukan?

Dan dalam kehidupan kita hidup dengan orang lain juga bukan?

Pada dasarnya sudah jadi sifat alami manusia untuk membunuh. Jangan berbual untuk selalu berbuat baik, saat kita sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Saat apa? Saat banyak yang mati di dunia ini tanpa alasan yang bisa kita mengerti kenapa mereka dibiarkan mati.

Orang-orang yang tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya adalah orang yang dungu. Kenapa begitu?

Karena kiita diciptakan untuk membunuh makhluk lain sejak awal, kita sudah seperti ini sejak ribuan tahun lalu, kita bahkan tidak membutuhkan iblis.

Mereka yang berusaha mempertahankan sifat asli yang demikian itu tengah bersembunyi dengan bijak dibalik slogan bahwa:

"jika tidak dibatasi maka jumblah manusia di bumi akan terus berkembang hingga bermilyar-milyar, dunia akan meledak jika tidak ada KB, pembunuhan, perang dan kecelakaan lalu lintas."

Sadari itu bukan?

Semua manusia itu pembohong yang bodoh. Atau memang masih bodoh.

Kita adalah manusia normal, dan hanya mengikuti insting alami. Kehidupan manusia tidak akan menolak keberadaan kita satu sama lain, selama kita belum sadar bahwa seseorang yang kita anggap telah kita kenal dengan baik itu tidak benar-benar baik.

Kita semua terlahir di bumi, kita berusaha saling mengerti satu sama lain sampai di persoalan paling sederhana, hingga akhirnya sudah banyak sekali yang hidup bersama.

Kita sesama manusia mencoba untuk dekat dengan sesama, hidup berdampingan, menikah, punya anak, saling berserikat mendirikan kebersamaan sekompleks negara.

Sampai hidup kita berakhir suatu hari nanti, dan barulah kita menyadari bahwa kita sejatinya lahir dan mati sendiri.

Jadi tak perlu khawatir sudah baik atau belum kita selama ini?

Jika mau jadi baik ya silahkan. Tapi jika kita sudah berusaha baik, namun masih tak dianggap baik pun tak perlu khawatir. Santai saja seperti di pantai.