Aku tidak begitu paham mengenai alur cerita dan bagaimana seharusnya hati boleh merasa. Yang aku tahu waktu dulu adalah aku merasa bahagia saat tertawa bersamamu. Hal-hal konyol yang membuatku takjub tak ingin cepat pergi dari saat itu. Hal-hal yang sederhana yang sulit untukku lupa. Bahkan detail pesan singkat dulu, kini cukup tajam menyayat untuk dilihat, tinggal mengingat, hanya mengingat.

Tak pernah aku sangka bila perasaan itu kini jadi nyata. Aku tidak pernah benar-benar merasakan degup jantung seperti ini. Degup jantung yang separuhnya kau beri. Aku tak sanggup menatap bahkan sekejap, aku takut terlelap dalam gemerlap kata-katamu. Sederhana saja, bilapun tak bersama selamanya, aku bisa menjadikanmu sahabat setia.

Entah dari hati atau dari mana, aku merasa berbeda. Mungkin ini yang mereka sebut cin*a. Lewat sebuah lagu yang setahun lalu menhiburku, kau kirim sebait lirik yang meminta untuk menunggu. Ada serangkaian kata yang meminta menjaga cintanya. Ada pula segelas jahe susu hangat yang mendorong untuk semangat. Dan aku memakai perasaan untuk itu semua. Merasa itu semua untukku semata.

Bukan, bukan begitu alurnya. Mungkin kamu penyanyi atau tukang promosi, dan akulah yang payah. Pasrah akan cerita yang hanya membuat lelah. Aku terus menunggu dan tak pernah menanyakan tentang kehadiranmu, aku terus menunggu meski kau rayu perempuan itu, dan aku pun terus menunggu seperti sebait lirik lagu itu.

Sampai melihatmu memberikannya perlakuan yang sama bahkan lebih istimewa, aku tetap setia. Setia meski tiada kau minta. Karena aku percaya Allah pemilik segalanya, dan Dia lah yang membolak-balikkan hati hamba-Nya. Barangkali kita bertemu lagi. Atau mungkin bila aku tiada kembali, ingatlah, bagaimana kamu mengingatkanku selagi dulu.

Advertisement

Aku tidak memintamu untuk tinggal dan me-review lagi cerita yang lalu, teruslah berjalan. Barangkali kita bisa bertemu di persimpangan depan, saat aku dan kau telah berhasil jadi kebanggaan.

Salam hangat Sahabat,