Hari ini, 2 tahun lalu kau memutuskan ikatan kita. 2 tahun lalu kau datang di saat aku tengah terpuruk dengan berbagai problema. Kau datang membawa berita yang bahkan tak pernah ingin ku dengar selamanya dan kau memaksaku berhenti untuk menyebutmu "cinta".

Hari demi hari ku kenang kau dalam diam. Aku hanya memikirkan betapa aku membutuhkanmu, namun kau pergi meninggalkanku dengan air mata dan jutaan rasa sakit yang membekas hingga kini. Kenapa Tuhan mempertemukanku dengan dirimu jika hanya untuk dipisahkan? Kenapa Tuhan tidak berniat membuat satu saja cerita bahagia tentang aku dan kau di suatu masa nanti? Aku terpuruk dan hancur dalam ingatanku mengenang dirimu. Aku terbunuh. Terbunuh oleh siksaan yang kau hadirkan tanpa melukai diri ini. Jutaan aksara dan kata cinta yang pernah kau ucapkan seakan menjadi omong kosong saat kau memutuskan untuk menyingkirkanku dari kehidupanmu. Aku hanya berdiri terpaku, memikirkan bagaimana aku harus berdiri tanpamu. Bagaimana aku bisa berjalan saat kau tidak lagi seirama denganku? Dan bagaimana aku bisa terbang saat sepatah lagi sayapku ada padamu? Aku terdiam. Hanya terdiam di ujung gelap yang membunuhku secara perlahan.

Hari demi hari berganti saat diri ini mulai beranjak pergi. Pergi mencari sosok yang pantas untuk menjaga rindu ini. Namun, bayangmu belum sepenuhnya mati. Saat kutemui dirimu di penghujung hari dengan ia yang kini menjadi penjaga jiwamu, inginku berkata semoga tiada kesedihan yang kau goreskan jua kepadanya. Bahagialah, bahagialah bersama sosok yang bisa melebihi segala sesuatu yang pernah kulakukan untukmu. Semoga tiada luka yang sama yang akan kau dapatkan saat kau menggoreskan rasa sakit itu untukku. Kelak, kau akan mengerti betapa cinta ini memiliki arti. Arti yang teramat tinggi bagiku dan bagimu nanti.